Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
NAIK MOTOR?


__ADS_3


Mungkin saja pikiran ini terlalu letih, jika harus selalu memaksakan diri menghapus bayangan mu. Mungkin saja hati ini akan kosong, ketika mengusir namamu di sini. Karena sudah sekian lama nama dan bayangan itu melekat dan terpahat di hati dan pikiran ku. Lalu? Waktu dan masa kembali mempertemukan kita. Dalam situasi yang saling melengkapi. Saling mengisi dalam canda tawa terhubung dan tersambung.


Damainya rasa ku ketika tanganmu terkait mesra bersama dengan tanganku.


*******


"Ayo, Herika!" ajak Winda setelah dekat dengan Herika yang masih berdiri di mobilnya.


Iya, mobilnya. Winda berpikir dan author pun berpikir, Herika berdiri dan bersandar di mobil pribadinya. Mobil putih yang cukup mewah dan keren.


"Ayo!" sahut Herika sambil menarik tangan Winda pergi dari tempat itu.


" Eh?? Kita mau kemana?" tanya Winda yang mulai muncul tanda tanya besar.


" Ke tempat parkiran depan. Kendaraan ku, aku parkir di sana, Win." jawab Herika.


" Oke! Oke! Lepaskan dulu tanganku, Herika! Aku bisa berjalan sendiri mengikuti mu." kata Winda akhirnya.


" Oh iya, maaf Winda cantik!" ujar Herika seraya melepas pegangan tangannya.


Akhirnya mereka sampai di tempat parkiran yang letaknya di depan.


" Kamu pakai ini, Win?" kata Herika sambil memberikan helm kepada Winda. Winda menerima nya dengan senyum yang dipaksakan.


" Kita naik ini, Herika?" tanya Winda yang melihat motor yang terparkir di situ.


" Iya betul! Kenapa? Kamu pasti menyukainya, bukan?" ucap Herika sambil mengembangkan senyumnya seraya memakai helmnya.


Winda yang diam terpaku seperti patung pun hanya melotot ke arah Herika yang tersenyum dengan bahagia nya.


" Ayo! Kamu pasti akan menyukainya, Winda!" kata Herika seraya mengambil helm Winda yang masih dipegangnya lalu memakaikannya ke kepala Winda. Winda hanya diam mematung, ada perasaan gak nyaman jika harus naik motor dan di bonceng oleh Herika.


" Hehe, Ayo dong tersenyum. Naiklah!" suruh Herika. Akhirnya Winda naik dibelakang motor itu.


" Winda!" panggil Herika.


" Pegangan yang kuat!" tambah Herika memerintah Winda.


Winda akhirnya pegangan baju yang dikenakan di badan Herika.


" Kamu masih suka naik motor, kalau berangkat ke kantor?" tanya Winda sambil berteriak setelah Herika mulai menjalankan motor itu.


" Iya!" jawab Herika singkat.


" Ini sungguh, enggak banget!" keluh Winda yang bicara keras di dekat telinga Herika.

__ADS_1


" Woy, tidak perlu teriak- teriak dong nona! Telinga ku masih terdengar jelas. Lagi pula, aku kan tidak terlalu cepat menjalankan motor nya." protes Herika.


Winda hanya terkekeh-kekeh kena omelan dari Herika.


"Eh, berhenti dulu!" kata Winda tiba-tiba sambil menepuk-nepuk pundak Herika.


" Ada apa?" tanya Herika setelah menepi dipinggir jalan.


" Aku mau beli rujak dulu." jawab Winda sambil turun dari boncengan nya dan berjalan mendekati penjual rujak yang ada dipinggir jalan.


Herika hanya tersenyum melihat Winda yang berjalan membeli rujak buah itu.


Tidak cukup lama, Winda menghampiri Herika dengan membawa kantong plastik yang berisikan beberapa kotak rujak itu.


" Beli banyak, yah?" tanya Herika sambil mengambil kantong plastik yang dibawa oleh Winda.


" Lumayan! Di rumah Galuh pasti lagi banyak orang-orang berkumpul di sana, bukan?" jawab Winda.


" Eh, biar aku yang bawa saja. Lagi pula mau diletakkan di mana? Kamu pasti repot kalau harus memegangi Kantong ini." imbuh Winda sambil kembali naik ke boncengan nya setelah Herika siap untuk menjalankan kendaraan nya.


"Pelan- pelan saja, mas!" kata Winda sambil tersenyum menggoda Herika, seolah Herika tukang ojek pengkolan.


" Baik, non! Setelah ini, jalannya ke kanan atau ke kiri, non?" tanya Herika menimpali.


" Lurus saja, mang!" jawab Winda sambil tersenyum.


" Eh? Jangan Herika!" protes Winda.


" Ya sudah, lingkarkan kedua tanganmu ke depan, ke pinggang ku, sambil memegang kantong plastik itu. Kantong plastik letakkan di depan sini. Paham kan?" kata Herika mengarahkan.


" Eh?" Winda mau protes saja.


" Sudahlah, lakukan apa yang aku bilang! Itu akan lebih nyaman kamu duduknya." kata Herika sambil tersenyum.


" Jangan cemberut. Lagi pula siapa suruh beli rujak segala. Jadi repot bawa nya kan?" tambah Herika.


" Iya. iya." sahut Winda akhirnya sambil mengikuti arahan dari Herika yang harus melingkarkan kedua tangannya ke depan untuk memegangi kantong plastik yang berisi kan rujak itu. Jadi seolah-olah, Winda memeluk Herika dari belakang.


" Aku mau seperti ini terus, Win." kata Herika sambil terkekeh menggoda.


" Awas saja, kalau kamu ambil kesempatan." protes Winda sambil teriak.


" Hahaha!"Herika malah semakin tertawa melihat reaksi lucu dari Winda.


*******


" Stop! Ini rumahnya, Her!" kata Winda dengan suara keras.

__ADS_1


" Oh!!" sahut Herika yang menghentikan kendaraan nya lalu memarkirkan motornya di depan pagar yang tinggi menjulang rumah besar dan mewah itu.


Winda berjalan masuk dan mendekati pos penjagaan. Satpam yang mengenal Winda pun segera membukakan gerbang utamanya. Dengan cepat, Herika memasukkan motor nya ke halaman rumah itu.


" Di dalam ramai yah, pak?" tanya Winda yang melihat beberapa mobil terparkir di teras dan depan pekarangan rumah milik Galuh itu.


" Iya, mbak! Ada bang Hendra bersama papa, mama nya. Mas Niga juga lagi di sini. Selain itu keluarga dekat dari luar kota pun sudah mulai berdatangan kemari." terang Satpam rumah Galuh.


" Oh begitu!" kata Winda sambil tersenyum.


" Saya masuk dulu, pak." kata Winda akhirnya.


" Iya, mbak!" sahut Satpam rumah itu dengan hormat.


Herika mengikuti Winda yang melangkah ke rumah besar itu.


" Eh, kita duduk disini saja, Her!" ajak Winda sambil berhenti lalu duduk di depan rumah itu yang ada kursi santai dan panjang. Lebih tepatnya di taman rumah mewah itu.


" Kenapa tidak mencoba masuk?" tanya Herika yang akhirnya ikut duduk di depan Winda.


" Hem! Gak enak saja! Aku akan telepon Galuh saja, kalau aku ada di sini." kata Winda sambil mencari kontak Galuh dan mencoba menghubungi nya.


"Halo, Galuh! Aku sudah di rumah mu nih. Aku duduk di taman depan." kata Winda menerangkan.


Namun di sebarang telepon itu tidak ada suara. Tersambung namun, tidak ada jawaban suara dari Galuh.


" Galuh?? Hai! Kau mendengar suaraku, tidak?" kata Winda masih terhubung dengan sambungan ponselnya.


Tidak berapa lama, sambungan masuk itu di matikan nya dari nomer Galuh.


" Ehh?? Siapa yang angkat HP Galuh?" gumam Winda sambil menatap Herika.


" Kenapa, Win?" tanya Herika.


" Hem, aku masuk bentar yah. Kamu tunggu disini tidak apa- apa kan, Her?" ucap Winda seperti mengkhawatirkan sesuatu.


" Kenapa?" tanya Herika.


" Hem.. em.. Bang Hendra! Seperti nya tadi yang angkat bang Hendra deh." jawab Winda sambil melihat ke arah pintu utama dan melihat Bang Hendra sudah berdiri tegak di dekat pintu dengan pandangan tidak suka.


Herika pun mengikuti arah mata Winda. Dan akhirnya Herika memahami situasi yang terjadi.


" Oh!" kata Herika pelan sambil menarik nafasnya dengan kasar.


" Aku.. aku ke dalam bentar yah! Kamu gak papa kan?" kata Winda akhirnya.


" Iya! Santai saja! Aku tunggu kamu disini." sahut Herika sambil mengambil batang rokoknya dan mulai menyalakannya.

__ADS_1


Winda melangkah menuju pintu utama dan mulai mendekati keberadaan Bang Hendra yang masih berdiri mematung memandang Winda yang berjalan.


__ADS_2