Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

" Duduklah yang tenang, dan tarik nafas lalu buang peluang pelan. Dahi abang yang suka sekali berkerut akan menambah tua sebelum usia yang sebenarnya." kata Winda sambil menjulurkan lidahnya menggoda.


Laki-laki yang masih berdiri sambil mata nya mencari- cari sosok keberadaan Herika pun, akhirnya mendudukkan pantatnya di samping Winda.


"Kamu selalu membuat aku khawatir. Apalagi jika melihat beberapa laki-laki yang berusaha mendekati kamu, Winda!" kata Hendra sambil menurun kan lengan panjang milik Winda yang sempat di gulung sedikit sampai sepertiga.


Winda tersenyum melihat perhatian dari Hendra itu.


" Itu artinya, kamu kurang mempercayai aku. Jika kamu sepenuhnya percaya aku, kamu tidak akan mudah cemburu dan mengkhawatirkan soal ini, King!" sahut Winda.


" Queen! Seperti halnya tanaman yang selalu di siram dan di pupuk, dia akan lebih subur dan berkembang. Demikian halnya dengan perasaan. Yang sebelumnya tidak ada rasa suka karena terbiasa ada akan menjadi biasa. Cinta akan tumbuh sedikit demi sedikit." kata Hendra.


" Bukankah ada kamu! Kamu seharusnya selalu ada di dekat aku. Jangan kasih celah orang lain untuk mendekati aku." kata Winda menimpali.


Hendra melirik ke arah Winda. Dengan tatapan lembut akhirnya melemparkan senyumnya itu.


" Kemana saja kamu, ketika marah dengan aku? " imbuh Winda sambil menjulurkan lagi lidahnya untuk menggoda.


" Aku cemburu, jadi malas jumpa dengan kamu!" sahut Hendra.


" Malas?" tanya Winda melotot.

__ADS_1


" Hem.. maksud aku, aku gak mau ribut saja dengan kamu, queen!" jelas Hendra.


" Kalau kita saling menjauh, hal itu akan memberikan celah bagi orang yang hendak mendekati aku atau kamu. Seperti saat ini, bukan? Di dalam ada wanita yang selalu berusaha memberi perhatian ke kamu." kata Winda.


" Siapa?" tanya Hendra sambil merapikan kerudung yang sedikit tidak rapi yang dikenakan oleh Winda.


" Aku pun malas menyebut namanya!" jawab Winda.


" Hahaha. Katakan, jika kamu cemburu queen!" sahut Hendra terkekeh.


" Tidak! Cuma ini membuat aku khawatir. Karena tipe wanita yang ada di dalam rumah kamu itu, tipe wanita yang nekat. Bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkan nya. Walaupun dia pernah mengatakan menyerah untuk mengejar kamu." kata Winda.


" Siapa yang kamu maksud, sayang! Queen, siapa sih? " tanya Hendra.


Wanita yang dimaksudkan oleh Winda. Hendra mengikuti arah mata yang ditunjukkan oleh Winda. Lalu melihat keberadaan Yuslita yang berdiri tegak melihat ke arahnya.


" Hai Hendra! Di cari papa, mama untuk di ajak makan sama-sama." kata Yuslita dengan sedikit berteriak.


Winda hanya memalingkan wajahnya, menundukkan kepala sambil memainkan kuku- kuku nya.


" Ayo Win! Kamu mau makan, gak?" ajak Hendra kepada Winda.

__ADS_1


" Masih kenyang!" kata Winda.


" Kita masuk yuk, queen!" ajak Hendra lagi.


" Tiba-tiba aku menjadi malas." kata Winda pelan.


Yuslita masih berdiri di dekat pintu masuk utama rumah itu. Masih melihat ke arah Hendra dan Winda yang duduk di kursi panjang taman.


" Apakah kamu cemburu, queen!" bisik Hendra pelan.


" Malas saja! Ada wanita itu." jawab Winda pelan sambil menundukkan kepalanya.


" Katamu kita tidak boleh saling berjauhan. Hal itu akan menjadikan peluang bagi seseorang untuk mendekati aku atau kamu, bukan?" kata Hendra yang mengutip kata-kata Winda tadi.


" Iya, tapi ini malas banget. Ada aku atau tidak di dekat kamu, wanita itu masih nekat berusaha menarik perhatian kamu." sahut Winda sambil cemberut.


" Hahaha, akhirnya aku mendapati kamu cemburu dengan aku, queen!" ujar Hendra tersenyum.


" Dalam hal ini, kenapa kamu senang, king?" tanya Winda.


" Artinya kamu juga takut, jika kehilangan aku bukan?" sahut Hendra.

__ADS_1


" Sudahlah! Ayo kita masuk ke dalam! Ada salad buah kesukaan kamu loh, queen!" rayu Hendra sambil meraih pergelangan tangan Winda supaya mengikuti langkahnya masuk ke rumah.


__ADS_2