
Seutas benang kau pintal. Lautan luas kau sebrang. Badai petir kau terjang. Kau tantang jiwa ini untuk terpaut dengan mu. Aku tidak mampu. Tiada kuasa menembus matamu. Bukankah kau angkuh dan dingin? Lalu? Kau tawarkan kasihmu padaku. Aku tiada kuasa menolak itu karena hatiku sudah semakin larut dengan bayanganmu. Bayangmu selalu menggangguku dalam segala langkah dan fokus ku.
"Mama!" panggil Intan pelan yang duduk di meja makan.
Di meja makan itu, ada Winda, Surya, Ibu Hartini, Pak Hartono dan Intan sendiri. Mereka sedang menikmati makan siang bersama. Di hari Sabtu mereka sedang berkumpul,tetapi tidak terlihat Wardhana, suami dari Intan.
" Iya, ada apa Intan?" sahut Ibu Hartini.
" Setelah makan siang, aku ingin ngobrol dengan mama. Boleh kan ma?" ucap Intan dengan pelan.
Semua mata tertuju pada Intan. Surya dan Winda pun saling pandang. Demikian juga Pak Hartono.
" Serius sekali, Neng? Mas Boleh ikut gabung tidak?" sahut Surya sambil tersenyum.
" Tidak perlu! Mas Surya nikmati Kebersamaan dengan Mbak Winda saja. Jalan- jalan ke mall atau nonton film horor. Wisnu biar kami yang jagain." ucap Intan.
Surya menatap Winda. Winda yang di tatap oleh Surya pura- pura cuek tidak memperhatikan nya. Winda fokus dengan hidangan yang sudah diambil nya.
" Boleh juga usul dari Intan, sayang! Bagaimana kalau kita jalan setelah ini,sayang!" kata Surya kepada Winda.
" Lagi pula sudah hampir dua Minggu ini,aku jarang pulang dan sibuk dengan kerjaan." tambah Surya sambil melihat Pak Hartono.
" Bagaimana perkembangan perusahaan kita, Surya? Apa yang tempo hari kita bicarakan berdua sudah kamu laksanakan dan aplikasi kan dalam bidang pemasaran?" tanya Pak Hartono serius.
" Hadeuh! Jangan ngobrol soal bisnis di meja makan dong!" sela Bu Hartini sambil tersenyum.
" Mama! Hehe!" sahut Surya.
" Tentu saja sudah Pa. Makanya selama dua Minggu ini saya mengurus beberapa anak cabang di luar kota pa. Maaf aku tidak memberitahukan semuanya pada mama dan juga Winda." cerita Surya sambil menatap Winda dan Bu Hartini.
" Bisa dimaklumi, sayang! Cuma kamu juga harus memberi perhatian juga dengan Winda,istri kamu. Kalian masih muda, perlu waktu bersama. Kebersamaan dalam hubungan suami istri itu perlu dibina,supaya terjalin hubungan yang harmonis dan romantis. Benar juga kata Intan, setelah ini kalian perlu pergi keluar jalan- jalan atau shopping deh. Manjakan istri kamu, belikan barang- barang bagus untuk nya." ucap Bu Hartini sambil tersenyum dan melihat Winda.
Winda hanya menunduk dan masih fokus dengan makanan nya.
" Sayang! Setelah ini siap- siap yah. Kita pergi keluar. Bila perlu kita tidak usah pulang ke rumah." ucap Surya.
__ADS_1
" Lho kenapa gak pulang ke rumah?" tanya Pak Hartono terkejut.
" Papa ini loh! Tentu saja bermalam di hotel dong pah." sahut Bu Hartini sambil tersenyum.
" Oh kirain kalian marah dengan kami." timpal Pak Hartono.
" Winda, sayang!" panggil Surya pelan.
" Iya, mas!" sahut Winda akhirnya.
" Senangnya kalau lihat kalian mesra gitu,loh!" sahut Intan.
" Lah aku? Aku dengan Mas Wardhana bisa nya ramai dan berantem mulu..ups!" sela Intan.
Bu Hartini dan Pak Hartono hanya saling pandang lalu pandangannya beralih ke wajah Intan. Intan yang menjadi pusat perhatian ke dua orang tuanya hanya bisa menunduk.
Setelah selesai makan, dan bersiap- siap, Surya dan Winda akhirnya permisi untuk keluar rumah. Kini Bu Hartini dan Intan yang menjaga Wisnu sambil mengobrol. Intan ingin berkeluh kesah perihal rumah tangga nya dengan mama nya. Memang selama ini, Intan selalu berkeluh kesah masalah nya dengan Bu Hartini. Lagi- lagi Bu Hartini selalu menyuruh Intan selalu sabar sebagai seorang istri.
" Jadi gimana ma? Mas Wardhana sudah cukup lama juga tidak menyentuh aku. Hubungan kami hanya sebatas hubungan status saja. Terkadang kalau aku tanya keberadaan nya ketika dia menginap dimana, Mas Wardhana malah balik marah. Seolah ingin menyembunyikan kesalahan nya dengan kemarahannya."cerita Intan dengan suara serak.
"Mama, aku dari dulu menyukai Mas Wardhana. Aku tidak ingin jika perceraian itu terjadi padaku. Aku tidak mau menjadi janda, Ma!" keluh Intan sambil bergetar suaranya.
Akhirnya pecah juga tangisnya. Bu Hartini memeluk erat tubuh anak perempuan nya itu. Dalam pikirannya,kini teringat dengan Surya anak laki-laki nya. Apakah mungkin, hukum karma akan terjadi? Jika Surya berselingkuh, akhirnya adiknya perempuan pun, di selingkuhi oleh lakinya juga. Alam memang tidak bisa diprediksi. Hukum sebab dan akibat berlaku.
" Tenang lah Intan! Belum tentu Wardhana, suami kamu berselingkuh dan ingin menceraikan kamu, sayang! Kamu harus kuat menghadapi segala nya." ucap Bu Hartini.
" Tapi ma! Mas Wardhana sudah sering bilang, ketika marah ingin bercerai dengan aku." sahut Intan sambil tersedu.
" Astagfirullah! Itu sudah kena hukum talak secara agama, nak!" ucap Bu Hartini.
" Iya ma! Sudah sering Mas Wardhana bilang cerai dengan aku, mama! Dan aku pun sudah pernah berkonsultasi dengan ustadz,memang hukumnya aku sudah di talak, ma!" cerita Intan.
" Makanya Mas Wardhana sudah jarang pulang ke rumah ini lagi. Walaupun sesekali pulang, itu pun minta uang kepada aku ma." cerita Intan.
" Hah? Lalu dikemanakan uang nya? Bukankah Wardhana juga mendapat bagian hasil di perusahaan yang di kelola oleh Surya. Untung saja, dari dulu posisi utama tidak, mama dan papa berikan ke dia. Syukurlah!" ungkit Bu Hartini.
__ADS_1
" Iya, mama! Aku minta maaf! Dari dulu akulah yang bersikeras supaya Mas Wardhana mendapat posisi yang atas di perusahaannya. Semua benar yang di ragukan oleh papa dan juga mama." ujar Intan.
" Sabar ya Intan! Kamu harus kuat. Pelan-pelan kamu harus bisa berbenah dan melupakan suami kamu itu. Jika kenyataan nya dia minta cerai. Sudahlah, akhiri saja!" kata Bu Hartini penuh kemarahan.
" Mama! Tetapi aku masih mencintai Mas Wardhana, ma! Aku tidak ingin bercerai dengan Mas Wardhana, Ma." Teriak Intan.
" Intan! Kendalikan suara kamu. Wisnu lagi bobok sayang." sahut Bu Hartini sambil memeluk tubuh Intan.
" Mama! Aku gak mau di cerai mama! Aku tidak mau." kata Intan pelan sambil tersedu.
" Intan sayang! Sabar nak. Tenangkan hati kamu, sayang!" ucap Bu Hartini.
" Mama, masalah ini jangan sampai papa tahu dulu ma." kata Intan akhirnya.
" Iya sayang! Tapi Intan,masalah ini jangan sampai berlarut-larut. Jika Wardhana sudah tidak menganggap kamu sebagai istrinya dan sering mengatakan cerai. Untuk apa lagi dipertahankan lagi,sayang! Bukankah laki- laki di dunia ini tidak hanya dia saja yang bisa menyayangi dan bertanggung jawab dengan kamu." ucap Bu Hartini.
" Mama! Aku mohon jangan bilang itu dulu,ma. Aku belum siap untuk bercerai dengan Mas Wardhana, ma." sahut Intan.
" Iya. Iya!" sahut Bu Hartini.
Bu Hartini masih mengusap dengan lembut rambut dan kepala Intan. Intan masih tersedu di pangkuan mama nya itu. Tiba- tiba suara pintu kamar di ketuk oleh Mbak Ita.
" Bu! Ada tamu di luar mencari Mas Surya dan Mbak Winda." kata Mbak Ita setelah pintu kamar di buka oleh Bu Hartini.
" Siapa mbk?" tanya Bu Hartini.
" Mbak yang pernah kemari dulu!" jawab Mbak Ita.
" Siapa?" tanya Bu Hartini lagi.
" Waduh! Saya lupa Bu!" Jawab Mbak Ita.
" Ya sudah! Suruh masuk dan duduk dulu." suruh Bu Hartini.
" Intan! Kamu tenang dulu yah sayang! Mama keluar dulu menemui tamunya." ucap Bu Hartini.
__ADS_1
" Iya ma! Terimakasih banyak ma!" sahut Intan sambil mengusap air mata nya.