
Cukup lama mereka terdiam, Winda sudah menahan tawanya karena ekspresi Haidar benar-benar serius menunggu dirinya mengucapkan kalimat itu.
" Nanti saja di rumah! Kita pulang yuk!" ucap Winda sambil berdiri dan membayar bubur ayam itu pada penjualnya.
" Yank! Aku mau mendengar nya sekarang!" rengek Haidar sambil mengikuti Winda dari belakang menuju tempat mobil Haidar di parkir kan.
Winda hanya cekikikan melihat tingkah lucu dan konyol Haidar terhadap.
*******
" Sebenarnya kamu menyukai aku karena apa?" tanya Winda kepada Haidar ketika mereka sudah tiba di rumah kediaman Winda dan mereka duduk di depan teras rumah itu.
" Hem apa yah?" sahut Haidar mencoba mencari jawabannya.
" Kamu sendiri saja tidak tahu, kenapa bisa menyukai aku?" kata Winda sambil cemberut.
" Mungkin saja karena aku merasakan kenyamanan itu jika sudah bersama kamu." jawab Haidar berusaha mencari jawaban yang bisa membuat lega hati Winda.
" Padahal aku dulu sama kamu, pernah membohongi kamu kan?" kata Winda sambil terkekeh mengingat pertama kali berjumpa dengan Haidar di rumah Kediaman Pak Hartono.
" Hahaha kamu masih ingat itu yah, Yank?" tanya Haidar.
" Itu iseng aja! Soalnya kamu kan terlihat sombongnya dan aku tidak suka pria sombong." jawab Winda.
" Mana ada seperti itu, yank! Aku sama siapa saja ramah kok. Aku juga menyapa kamu ketika itu. Namun ketika aku berbasa-basi dan bertanya padamu, kamu bilangnya pegawai di perusahaan milik Pak Hartono sebagai office girls. Setelah berbincang dengan ayah dan juga Pak Hartono sendiri, mereka baru bilang kalau kamu adalah mantu dari Pak Hartono, suami mas Surya." cerita Haidar sambil cekikikan.
" Setelah itu aku memang penasaran." tambah Haidar.
" Benarkan? Pada dasarnya seorang pria itu mendekati wanita hanya penasaran doang. Karena belum di dapatkan masih dikejar-kejar terus." protes Winda sambil cemberut.
" Tapi lama- lama aku mulai benar- benar tertarik dengan kamu dan mulai suka lalu terbiasa. Rasanya begitu damai kalau sudah mendengar suara kamu apalagi dekat dengan kamu." cerita Haidar.
" Walaupun ada beberapa pria yang dekat selain kamu?" tanya Winda.
" Nah itu dia! Itu menjadi tertantang aku!" sahut Haidar.
" Tuh kan, benar! Aku seperti target saja loh! Tidak menyerah ketika belum di dapatkan." kata Winda.
" Mereka mendekati kamu lantaran kamu memiliki aura positif yang kuat. Aku juga merasakan hal itu." puji Haidar.
__ADS_1
" Weleh! Aku merasa biasa- biasa saja kok." kata Winda.
" Entahlah! Perasaan suka itu terkadang tidak bisa kita jabarkan, kenapa tiba-tiba rasa itu ada." ucap Haidar akhirnya.
" Benar! Rasa cinta itu ibarat kita memelihara tanaman-tanaman itu. Ketika kita selalu memupuk, menyirami, merawat nya akan semakin subur dan berkembang. Lain ketika tidak diperhatikan, dibiarkan saja tanpa perawatan lambat laun akan kering, layu, dan pada akhirnya bisa mati." kata Winda mulai membandingkan.
" Hehehe." Haidar malah tersenyum geli.
" Jadi ketika nanti sudah berumahtangga, kita akan melewati fase dimana kita harus saling pengertian dengan pasangan. Suami istri harus saling menumbuhkan rasa cinta itu setiap hari, supaya rumah tangga bisa bertahan langgeng. Ketika istri kurang perhatian ditambah diluar sana suami bekerja dan banyak godaan wanita-wanita yang lebih cantik dari istrinya, ini akan menjadi masalah baru. Mungkin saja perselingkuhan akan terjadi." cerita Winda.
" Dan aku mungkin sudah gagal dalam hal ini. Suami aku dulu pernah...." cerita Winda akhirnya terputus tidak lagi dilanjutkan nya. Winda takut membuka aib suaminya yang sekarang sudah almarhum.
Haidar sejenak menatap wajah Winda.
" Sebenarnya tidak semua perselingkuhan itu salah istri juga yang kurang memberikan perhatian pada suaminya. Tetapi memang godaan diluar begitu kuat menyerang suami sehingga terkadang tidak kuat iman dan akhirnya khilaf." kata Haidar akhirnya.
" Apakah karena hal ini kamu dari dulu takut untuk kembali berumah tangga atau nikah kembali?" tuduh Haidar.
" Mungkin itu salah satunya! Aku perlu menguji pasangan aku juga, walaupun hati aku sudah menyukai laki-laki itu. Aku berusaha idealis dan tidak mengatasnamakan perasaan aku yang sebenarnya sudah merasakan kangen, dan tidak ingin pisah dengannya. Istilah nya jatuh cinta lah!" kata Winda.
" Jadi antara kami bertiga kemarin, kamu sudah merasakan jatuh cinta? Kalau boleh aku tebak, kamu sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Bang Hendra yah?" tuduh Haidar yang raut wajahnya tiba-tiba ada kecemburuan di sana.
" Ketika kamu sudah jatuh cinta pada Bang Hendra kenapa kamu malah memutuskannya?" tanya Haidar seperti menyudutkan Winda.
" Karena bagi aku, kesalahan Bang Hendra sudah tidak bisa aku maafkan! Karena masa lalu aku pernah tersakiti karena wanita kedua. Dan ini tidak bisa aku toleransi lagi." cerita Winda.
" Apakah Bang Hendra selingkuh juga?" tanya Haidar.
" Sebenarnya Bang Hendra melakukan itu supaya aku cemburu dan sakit hati. Namun bagi aku itu adalah sebuah lelucon." kata Winda.
" Alasannya apa Bang Hendra melakukan itu?" tanya Haidar.
" Karena waktu itu Herika juga mendekati aku. Bang Hendra sangat cemburu. Sungguh, padahal di hati aku hanya serius saja dengan Bang Hendra. Aku menganggap Herika seperti sahabat aku. Aku memang merasa lebih bebas jika bercerita dan kami dekat. Walaupun Herika dekat dengan aku pun juga menginginkan lebih dari seorang sahabat. Rumit kan?" cerita Winda.
" Pada akhirnya aku datang setelah kekosongan hati kamu kan?" goda Haidar.
" Maaf! Apakah kamu cemburu?" tanya Winda sambil melihat ke mata Haidar.
" Tidak! Aku hanya cemburu dengan almarhum suami kamu, mas Surya." kata Haidar.
__ADS_1
" Kenapa?" tanya Winda.
" Karena ketika Mas Surya sudah melakukan kesalahan pun kamu pada akhirnya bisa memaafkan nya dan memberikan kesempatan kedua padanya. Itu artinya kamu benar-benar mencintai Mas Surya dengan segala kekurangannya." kata Haidar.
" Iya! Aku tidak akan lupa perjuangan dia ketika ingin menikah dengan aku. Dia rela keluar dari rumahnya dan meninggalkan segala kemewahan dan aset- aset dari orang tuanya." cerita Winda.
" Penuh perjuangan yah?" sahut Haidar.
" Iya!" jawab Winda singkat.
" Jadi? Apakah kamu masih berat untuk mengatakan ' I love you' kepadaku karena kamu belum mencintai aku? Kamu menerima dan mau menikah dengan aku karena sudah tidak ada lagi yang mengejar kamu?" goda Haidar.
" Idihhh, mulai lagi kan?" sahut Winda sambil mencubit pinggang Haidar.
" Winda! I love you!" ucap Haidar sungguh-sungguh.
" I love you to, Mas Haidar!" jawab Winda akhirnya. Haidar dengan berani merengkuh tubuh mungil milik Winda.
" Aku sangat bahagia, kamu mau menikah dengan aku, Yank!" kata Haidar jujur.
" Iya aku tahu. Aku mau menikah dengan kamu bukan karena sudah tidak ada pria lain yang mengejar aku lagi. Tetapi aku sudah mulai terbiasa dengan kamu. Dan kamu sangat sayang dengan Wisnu dari dulu. Wisnu juga menyukai kamu. Aku sudah mulai kangen sama kamu, jika kamu tidak mendatangi aku." kata Winda.
" Jangan diambil hati, Yank! Tadi aku bercanda kok!" sahut Haidar sambil mempererat tautan tangannya dengan tangan milik Winda.
" Iya, aku tahu itu!" kata Winda akhirnya.
Tiba-tiba ada suara orang berdehem.
" Ehem..ehem.. ehem."
Seketika keduanya melepaskan tautan tangannya dan menoleh arah asal suara.
" Wisnu! Bikin kaget aja!" protes Haidar sambil membulat matanya. Winda hanya tersenyum saja dengan bodyguard nya.
" Sudahlah! Nanti saja mesra- mesraan nya! Sebentar lagi juga akan di halalkan!" protes Wisnu.
Winda dan Haidar yang mendengar nya menjadi terkekeh-kekeh.
Winda dan Haidar merangkul anak yang sudah gedhe itu bersama. Mereka saling berpelukan sambil tertawa bersama.
__ADS_1