Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
AKU SAYANG MAMA


__ADS_3

Kamu pikir, dunia ini adalah panggung sandiwara? Mungkin saja itu benar adanya.



Dimana rindu yang berteriak temu, namun waktu tak kunjung setuju. Aku diam pada kata yang sempat terdengar. Aku termenung memikirkan rindu yang menggunung. Dimana rindu yang selalu membakar, hingga membuatku terkapar. Aku melempar tawa pada nasib yang membuat aku tenggelam pada hampa.


Kamu tahu? Rindu ini berat, seberat kangenku kepada rindu. Sejujurnya aku ingin mendekap kehadiran mu bukan ter sekap oleh kehadiran mu.


Lalu pernahkah kau merasakan? Perasaan sepi ketika di keramaian kota. Jika bimbang itu dalam diam, kegelisahan yang ada melanda. Kenyataannya pernah menimpa. Aku yang pernah kagum, memberi salam padamu. Sejahtera selalu.


*******


" Mama!" panggil Surya pelan sambil mengetuk pintu kamar Bu Hartini, mama nya.


" Oh Surya! Masuk lah! Papa kamu belum pulang kok. Ada dinas di luar kota." kata Bu Hartini sambil membuka pintu kamarnya.


Surya masuk kedalam kamar mama nya setelah mencium punggung tangan kanan mama nya lalu mencium pipi kanan dan kiri mama nya.


" Kamu baru datang, Surya?" tanya Bu Hartini.


" Iya ma!" jawab Surya sambil duduk di kursi sofa kamar mama nya itu.


" Kamu sudah jumpa dengan Winda, Sayang?" tanya Bu Hartini.


" Sudah ma! Di kamar masih ada Galuh yang bantu - bantu membereskan barang-barang untuk pindahan besok." kata Surya sambil menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuang nya dengan kasar.


" Iyalah! Winda sudah tidak sabar, segera mungkin ingin pindah ke rumah barunya. Dengan harapan di rumah baru nanti, kalian bisa membenahi hubungan kalian. Mama tahu, Winda perlu waktu untuk melupakan kesalahan yang pernah kamu perbuat, nak." kata Bu Hartini sambil mengusap punggung Surya pelan.


Surya mulai merebahkan kepalanya di pangkuan mama nya itu. Bu Hartini dengan lembut mengusap kepala Surya dengan kasih sayang selayaknya ibu yang telah melahirkan nya.


" Mama! Aku salah ma! Aku sungguh menyesali apa yang sudah aku lakukan. Dengan kesalahan itu, Winda menjadi kecewa dan mungkin saja menjadi membenci aku. Walaupun Winda tidak menunjukkan kemarahannya kepadaku, tapi sikapnya terhadapku tidak semanis dulu dan terlihat dipaksakan selalu baik padaku." keluh Surya masih di pangkuan Bu Hartini.


" Di dunia ini, tidak ada yang sempurna, anakku sayang. Kesempurnaan hanyalah milik Nya. Manusia memiliki hasrat dan nafsu yang menggelora. Ada kalanya manusia pernah berbuat salah karena terbawa arus dan situasi yang menjebaknya. Kamu tidak kuat dengan gangguan dan godaan itu semua, sayang. Padahal, ketika kamu tidak kuat dengan segala godaan yang akan menjerumuskan mu, seharusnya kamu cepat pulanglah dan kembali ke istri kamu. Dimana disana tempat yang halal dan terbaik untuk kamu untuk menghilangkan segala yang menggangu keteguhan mu." ucap Bu Hartini dengan pelan.


" Mama! Aku bodoh ma! Aku tidak bisa dan kuat dengan segala godaan itu." sahut Surya dengan suara parau.

__ADS_1


" Mama tidak menyalahkan kamu, tapi mama juga tidak bisa membenarkan apa yang telah kamu lakukan. Kamu adalah laki-laki dewasa, yang dulunya masih anak-anak yang masih mama tuntun. Kamu seharusnya sudah bisa menentukan pilihan yang baik dan benar dari segala perbuatan yang dilakukan. Akibat dan sebab dari semua tindakan yang kamu perbuat." ujar Bu Hartini sambil mengusap lembut kepala Surya.


" Sering- sering lah meminta maaf pada istri kamu dan tunjukkan bahwa kamu masih menyayangi dan mencintai nya. Perbaikan kesalahan kamu dengan menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anak- anak kamu." imbuh Bu Hartini lagi.


" Aku takut, ma! Takut jika harus kehilangan Winda. Kami sudah sangat dekat, tapi kami seperti nya sudah jauh rasanya. Sikap Winda sudah lain dengan aku." keluh Surya.


" Pelan- pelan, sayang! Winda perlu waktu untuk bisa memaafkan kamu nak!" sahut Bu Hartini.


" Jadi, apakah kamu akan menceritakan yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan Sarwenda?" tanya Bu Hartini pelan lalu Surya mulai duduk tegak di samping mama nya itu.


" Mama, apa yang sudah saya jelaskan waktu itu benar adanya. Saya sudah tidak ingin menjalin hubungan dan meneruskan lagi dengan Sarwenda, ma! Mama harus percaya dengan aku ma! Aku yakin, anak yang dikandung Sarwenda bukan anak aku, ma!" kata Surya sambil memegang tangan mamanya.


" Amin! Semoga saja demikian. Cuma kamu sudah pernah menikahi nya bukan?" ujar Bu Hartini yang membuat Surya berubah wajahnya menjadi sedih.


" Maaf kan, mama! Mama hanya kecewa dengan semua ini, sayang!" imbuh Bu Hartini.


" Aku sangat bodoh, ma! Kenapa aku dengan mudahnya membuat keputusan itu. Menikahi Sarwenda tanpa sepengetahuan mama dan papa. Aku bodoh ma! Aku sangat menyesal." kata Surya sambil menjambak- Jambak rambutnya sendiri.


" Surya! Surya! Sudahlah! Semua sudah terjadi. Kamu sudah menanggung segala sesuatu yang sudah kamu perbuat. Lembaran itu sudah kamu gores kan cerita ini. Sekarang tinggal kamulah yang harus melanjutkan jalan cerita ini. Buatlah cerita kamu seindah mungkin dan perbaikan lah cerita buruk itu menjadi bagus lagi." kata Bu Hartini sambil memegang lembut kedua pipi kanan dan kiri Surya.


" Surya! Surya sayang! Sejak kapan kepercayaan diri kamu hilang, sayang?" sahut Bu Hartini sambil memeluk anaknya itu bak seperti anak remaja yang takut diputuskan cintanya oleh kekasihnya.


" Mama! Dari dulu sampai sekarang aku tergila-gila dengan Winda. Dengan Winda, dulu aku berani meninggalkan rumah ini dan meningkatkan fasilitas dari mama juga papa. Aku rela memperjuangkan semua itu, karena aku yakin Winda wanita terbaik untuk aku." ucap Surya seperti anak remaja yang frustasi.


" Iya! Iya! Mama tahu! Kamu dulu sanggat keras kepala dengan pilihan kamu. Sehingga perjodohan yang dibuat oleh kami, kamu gagal kan begitu saja." sahut Bu Hartini sambil tersenyum karena geli melihat tingkah Surya yang merengek seperti masih anak-anak.


" Kamu harus percaya, Winda juga memiliki rasa sayang dan cinta yang besar terhadap kamu, sayang! Tidak semudah itu juga, Winda berpaling dari kamu walaupun kamu sudah menorehkan luka dan kekecewaan dihatinya." ucap Bu Hartini.


" Mama! Bantu aku! Supaya aku tidak menikahi Sarwenda lagi, ma!" kata Surya dengan rengekan nya.


" Iya! Nanti setelah kelahiran anaknya, Sarwenda semua bisa dibuktikan, sayang! Sekarang kamu fokus dahulu, memperbaiki rumah tangga kamu dengan Winda. Di rumah baru kalian, buatlah senyaman mungkin dan buat suasana yang harmonis." ucap Bu Hartini.


" Dan satu lagi! Jaga perasaan Winda, karena di rumah ini masih ada Sarwenda. pandai-pandai lah kamu, menjaga perasaan diantara keduanya." imbuh Bu Hartini.


" Mama! Mana bisa begitu, mama! Aku harus berbuat baik juga dengan Sarwenda? Tidak bisa, mama! Ini akan membuat dan menimbulkan harapan baru bagi Sarwenda terhadap aku, mama. Pokoknya Sarwenda, biar mama dan Intan yang urus. Aku tidak mau berurusan lagi dengan Sarwenda. Setelah kepindahan aku dengan Winda besok, aku gak mau kemari- mari lagi." kata Surya emosi.

__ADS_1


" Lho? Lho? Kamu yang bikin situasi ini jadi rumit kok, kami yang harus menanggung semuanya." sahut Bu Hartini dengan senyum menggoda.


" Mama?" ujar Surya dengan rengekan nya.


" Iya! Iya! Biar mama dan Intan yang urus, Sarwenda." sahut Bu Hartini.


" Tapi, sayang! Sarwenda ingin tinggal di rumah ini karena harapan ingin mendekati kamu dan ingin mendapatkan perhatian dari kamu." tambah Bu Hartini dengan senyum menggoda.


" Mama! Aku tidak peduli! Mama yang atur semua nya! Bila perlu, buat Sarwenda tidak betah saja di rumah ini." ucap Surya sinis.


" Weleh! Nanti kalau terbukti anak yang dikandung oleh Sarwenda itu adalah anak kamu, bagaimana?" kata Bu Hartini dengan tersenyum.


" Mama! Tolong jangan berdoa seperti itu,mama." sahut Surya.


" Loh! Kalau kamu sudah yakin, yang dikandung oleh Sarwenda bukan darah daging kamu, kenapa harus khawatir, sayang! Dan lagian, kalau yang kamu bilang bahwasanya sudah lama dan beberapa bulan tidak melakukan hubungan itu, dengan Sarwenda, kenapa juga kamu harus takut?" kata Bu Hartini.


" Kalau begitu, mama juga meragukan apa yang kamu ungkapkan loh! Kamu bicara jujur atau tidak? Lagi pula, kamu pun sudah ikut berperan bercocok tanam di lahan itu, hahaha." kata Bu Hartini berusaha membuat suasana tidak serius.


" Mama? Tolonglah mama! Percaya sama, aku dong! Kalau tidak mama, siapa lagi yang akan percaya dengan aku ma?" rengek Surya.


" Ya sudah! Kita berdoa saja, anak yang dikandung Sarwenda bukan darah daging kamu, sayang!" sahut Bu Hartini sambil mengusap lembut kepala Surya.


" Mama! Maaf kan aku ma! Surya sudah membuat keluarga ini jadi kacau." ucap Surya.


" Iya mama maaf kan! Sholat lah taubat 100 rekaat!" ucap Bu Hartini sambil tersenyum.


" Mama? Mama serius? Menyuruh aku sholat taubat sebanyak itu?" tanya Surya.


" Kenapa tidak? Sudahlah mama lapar. Mau makan dan mau lihat Wisnu dan Winda dulu ke kamar kamu! Ayo ikut, mama!" ajak Bu Hartini akhirnya sambil menarik tangan Surya untuk keluarga dari kamar itu.


" Mama! Aku harus sholat taubat 100 rekaat, ma?" tanya Surya lagi.


" Iya!" jawab Bu Hartini sambil tersenyum.


" Mama?" rengek Surya sambil mengikuti langkah mama nya.

__ADS_1


__ADS_2