Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
GALUH NIGA?


__ADS_3

Di rumah kediaman Pak Hartono, Galuh bersama Winda duduk di Taman. Sore itu dengan di temani teh panas dan pisang coklat keju, obrolan seputar bisnis Galuh dan kehidupan rumah tangga semakin larut.


" Winda! Kamu ingat Niga tidak?" tanya Galuh sambil tersenyum dengan mata berbinar.


" Niga? Niga? Oh...yang mana sih?" ujar Winda sambil berusaha mengingat - ingat memory di otak nya.


" Astaga! Aku kira ingat! Sotoy loh!" sahut Galuh.


" Haha! Maaf Galuh! Niga yang mana?" tanya Winda lagi sambil menggendong Wisnu lalu menyusui nya.


" Niga yang tinggi besar ketua BEM di kampus kita dulu." cerita Galuh berusaha mengingat kan Winda.


" Iya kenapa? Aku masih lupa wajahnya. Jangan paksa aku untuk mengingat seseorang yang tidak ada di hati aku, Galuh." ucap Winda sambil tersenyum dan fokus memberi ASI Wisnu.


" Ais! Niga mulai mendekati aku saat ini. Karena dia sudah tahu status aku, makanya dia mulai mendekati aku, Winda." cerita Galuh.


" Tapi dia suami orang. Itu yang aku tidak suka. Kalau posisi aku sih bebas, sudah single. Tapi Niga? Status nya suami orang."imbuh dari cerita Galuh.


" Hahaha! Lah kamu suka tidak dengan Niga?" tanya Winda.


" Dari dulu sebenarnya aku menyukai nya. Diam- diam tertarik dan terpesona dengan nya. Tapi aku tahu, dia kan laki- laki idaman di kampus. Lagi pula sikapnya dingin dan cuek terhadapku. Ternyata, dia dari dulu pun memperhatikan aku dan diam- diam juga menyukai aku. Hahaha.." cerita Galuh.


"Lalu?" tanya Winda mulai penasaran dan tertarik dengan cerita Galuh. Pelan- pelan meletakkan Wisnu ke dalam troli bayi.


" Lalu perasaan kamu sekarang bagaimana dengan Niga?" tanya Winda.


" Masih biasa- biasa saja. Tapi senang juga ketika dia mulai memberi perhatian nya pada aku. Tapi bagiku tidak semudah itu ferguso!" ujar Galuh.


" Ais! Gaya kamu Luh! Kamu bilang biasa- biasa saja tapi kamu senang dan meladeni Niga." sahut Winda sambil menoel hidung Galuh.

__ADS_1


" Karena aku tidak suka poligami. Dan keluarga ku pun tidak mengijinkan hal ini. Kalau aku menikah harus menjadi istri satu- satu nya. Tapi kata Niga pun juga demikian halnya. Dia tidak menginginkan poligami." cerita Galuh.


" Lalu?" tanya Winda semangat.


" Ah Winda! Tolonglah aku, bagaimana menurut pendapat kamu soal ini." ucap Galuh.


" Jalani saja dulu. Nikmati proses nya sajalah." jawab Winda akhirnya.


" Winda! Kamu bukanlah teman kenalan aku tapi kamu adalah sahabat aku, kasih aku masukkan nya dong. Menurut kamu bagaimana hubungan aku dengan Niga kedepannya?" ucap Galuh.


" Mana lihat foto Niga?" pinta Winda.


" Ini orangnya!" kata Galuh sambil menunjukkan foto di ponselnya. Winda mulai melihat, mengamati dan meneliti dengan seksama.


" Iya, dia tipe setia! Karena dia sudah mengetahui status kamu single dan sudah tidak bersuami lagi, dia mulai berani mendekat ke kamu. Karena pada dasarnya dia sudah menyukai kamu sejak lama dan itu selalu di kuburnya. Mungkin sama halnya dengan kamu." kata Winda yang melihat foto Niga bak ahli supranatural.


" Ada foto istrinya Niga gak? Atau foto Niga bersama istrinya?" tanya Winda penuh selidik.


" Ada, di medsos nya Niga. Sebentar aku lihat." jawab Galuh sambil membuka aplikasi medsos itu.


" Cinta atau apalah itu terkadang membuat semua nya menjadi nekad. Dalam hal ini aku jadi teringat Mas Surya. Apakah dia sangat menyukai wanita itu atau cinta nya sudah terbagi dengan ku? Lalu? Seberapa besar cinta yang di miliki Sarwenda terhadap Mas Surya? Dalam kasus ini, aku dihadapkan dengan permasalahan yang kamu hadapi, Galuh. Lalu aku akan memposisikan seandainya aku menjadi kamu. Haha. Ini benar-benar gila!" ucap Winda.


" Maaf Winda! Dalam hal ini siapa dong yang di salahkan? Bukankah jatuh cinta ini tidak bisa dikondisikan waktu dan situasi nya? Ini foto kebersamaan dengan istrinya." kata Galuh sambil memperlihatkan foto Niga bersama istri juga anaknya.


" Sudah memiliki satu anak yah? Sedangkan kamu belum Luh. Hem, istrinya sudah terlalu percaya dengan Niga sampai kurang memperhatikan penampilannya dan kemauan Niga atau suaminya. Ada beberapa keluhan dari Niga yang setiap waktu bisa meledak. Mereka ada permasalahan tapi tidak berusaha diungkapkan secara jujur." kata Winda.


" Maksud nya?" tanya Galuh.


" Iya! Niga bersama istrinya pun juga sudah ada permasalahan keluarga tapi mungkin saja Niga belum jujur bercerita padamu ,Galuh. Karena kegagalan dalam membina rumah tangga bagi seorang suami itu adalah memalukan. Dan menceritakan nya adalah suatu aib dirinya sendiri. Tapi mungkin suatu hari, Niga akan menceritakan semua nya pada kamu." jawab Winda.

__ADS_1


" Iya. Aku di suruh bersabar dalam hal ini, kata Niga. Pada dasarnya kami berdua tidak menyukai poligami. Tapi aku takut, Winda. Semua penyebab utama keputusan pisah dengan istrinya gara- gara aku." kata Galuh.


" Yah mau tidak mau, kamu harus siap tutup telinga, tutup mata dan cuek akan hal ini. Haha..pada dasarnya pelakor masih belum diterima karena penyebab dan pemicu hancurnya sebuah rumahtangga." kata Winda.


" Kamu bicara seperti itu seolah ingin menghakimi pelakor yang masuk dalam kehidupan rumahtangga kamu, Winda! Haha!" sahut Galuh.


" Hahaha! Aku saat ini memposisikan menjadi kamu, Galuh. Hahaha. Soal rumah tangga aku nanti dan kedepannya, aku perlu strategi. Jika aku sudah kuat dan mampu sendiri dan meninggalkan Mas Surya, aku akan pergi dari nya. Tapi jika aku masih bisa bertahan diposisi ini bersama Mas Surya, akan aku jalani. Wisnu masih bayi, dan aku belum kerja." keluh Winda.


" Hahaha! Jadi kamu siap di madu?" tanya Galuh sambil tersenyum.


" Sekarang ini pun, aku sudah di madu bukan? Mas Surya belum berani jujur dengan semuanya. Aku menunggu Mas Surya jujur dan terbuka. Dan Aku juga ingin melihat dan memergoki mereka berdua sehingga tidak ada lagi alasan dan kebohongan lagi diantara keduanya. Suatu hari pasti, Sarwenda merasa jenuh dan ingin pengakuan itu dari Surya dan keluarga nya." kata Winda.


" Lalu? Setelah itu kamu menggugat cerai?" tanya Galuh.


" Hahaha! Tidak tahu Galuh. Aku akan menikmati segala nya saat ini. Pura- pura tidak mengetahui dan pura- pura bodoh saja dengan pengkhianatan mereka. Aku fokus saja dengan Wisnu saat ini. Dan mulai berpikir mencari kerjaan dulu." ucap Winda.


" Oh Yo wes lah, aku dukung kamu Winda. Eh Winda! Kamu kerja saja di perusahaan keluarga kami. Abang aku, Bang Hendra pasti menerima kamu kerja di bersama nya. Nanti aku coba bicara dengan bang Hendra deh." kata Galuh.


" Om Hendra? Ogah! Yang ada kami berantem saja, Galuh." sahut Winda.


" Ais! Kalian ini apakah sio nya anjing dengan kucing? Kalau ketemu ngonggong' berantem saja." kata Galuh terkekeh.


" Yang ada aku di letakkan jadi OB, Luh! Kamu kan tahu sifat Abang kamu." kata Winda.


" Gak akan! Abang ku baik hati loh, walaupun dikenal dingin oleh karyawan nya." ungkap Galuh.


" Kamu jangan khawatir yah. Akan aku urus kerjaan buat kamu, Winda sayang." kata Galuh.


" Mana baiknya saja lah, Luh!" sahut Winda sambil meminum teh manis yang sudah tidak terlalu panas.

__ADS_1


__ADS_2