
Takdir manusia sudah ditentukan dalam kitab yaitu langkah, rejeki, pertemuan dan maut di lauhful Mahfudz. Jika kamu menghendaki perceraian sedangkan Tuhan tidak menyukai perpisahan itu. Maka nasib mu yang menentukan segalanya. Semua manusia diberi akal pikiran untuk menentukan segala pilihannya. Pilihan itulah yang menjadikan langkah jalan kamu dalam menentukan takdir dari jodohmu. Pada akhirnya ketentuan jalan kamu, hanya kamu sendiri lah yang mengaturnya.
Winda dan Galuh masih di tempat yang sama. Di kafetaria itu mereka masih menikmati kebersamaan sebagai seorang sahabat yang mendengar segala keluh kesah dari permasalahan yang terjadi. Winda dengan setia dan bijak mendengar cerita Galuh. Galuh pun dengan tulus dan kepercayaan yang penuh meluapkan segala beban permasalahan nya.
" Winda! Thanks yah sudah mau mendengarkan ceritaku. Paling tidak, aku terasa ringan. Ada kamu yang sekarang menjadi tempat curhatan dan keluhan aku saat ini." kata Galuh sambil memegang punggung tangan milik Winda.
" Iya, Galuh! Bukankah kita sahabat dari sejak dulu. Jangan lagi sungkan padaku." ucap Winda sambil tersenyum.
" Oh iya! Aku ke toilet dulu yah!" imbuh Winda sambil berdiri dan meninggalkan tempat duduk nya menuju toilet di kafe itu.
" Oke! Jangan lama-lama yah." sahut Galuh.
Galuh mulai melihat sekeliling dari pengunjung kafe itu. Tiba - tiba matanya tertuju pada sepasang laki-laki dan wanita yang baru masuk ke kafe itu. Galuh sangat terkejut dengan laki-laki dewasa yang dilihat nya. Galuh sangat mengenali laki- laki itu. Penglihatan nya tidak mungkin salah. Laki-laki itu adalah Surya, suami Winda yang bergandengan mesra dengan seorang wanita yang berparas cukup cantik dengan rambut pendeknya.
" Ya Tuhan! Kenapa Surya ada di sini? Lalu siapakah wanita yang bersama Surya. Kelihatan nya hubungan mereka bukanlah sekadar relasi biasa." gumam Galuh.
" Ini tidak bisa dibiarkan. Winda jangan sampai tahu akan hal ini. Aku sangat tidak tega dengan Winda." gumam Galuh lagi.
Winda berusaha menundukkan wajahnya supaya Surya tidak melihat dan mengenali dirinya. Tetapi Surya tiba - tiba mendekati nya.
" Hai! Galuh! Apa kabar kamu?" sapa Surya tanpa malu dan takut- takut kalau dirinya menggandeng seorang wanita di sampingnya.
" Halo Surya! Bagaimana kabar kamu? Hem ini siapa?" tanya Galuh tanpa basa- basi.
" Aku adalah istri kedua Mas Surya!" jawab Sarwenda menimpali sambil menjabat tangan Galuh.
" Oh begitu yah!" sahut Galuh sambil melihat Surya.
Surya hanya diam sambil tersenyum menatap Galuh.
" Kamu jangan bilang sama Winda, Luh!" bisik Surya sedikit mendekati Galuh.
" Oh iya! Hem Surya! Kamu segera lah pergi dari sini. Aku sedang bersama Winda. Dia lagi ke toilet. Aku gak mau kalian ribut di sini. Kalau bisa segera mungkin kau selesaikan nanti di saat yang tepat." bisik Galuh yang mulai panik takut Winda akan segera keluar dari toilet.
" Hah? Benarkah?" sahut Surya yang segera menarik Sarwenda keluar dari tempat itu.
" Galuh! Terimakasih banyak yah!" kata Surya yang terdengar sedikit keras karena berjalan keluar dengan cepat sambil menarik Sarwenda.
" Ada apa sih sayang?" tanya Sarwenda.
" Aku ingin makanan Jepang saja!" jawab Surya beralasan.
__ADS_1
Sarwenda hanya menurut saja ajakan Surya sambil menggandeng Surya.
Galuh menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak pernah menyangka, jika Surya sudah memiliki istri lagi selain Winda. Galuh mulai merasa sedih dengan pengkhianatan Surya terhadap Winda. Ini sungguh tidak adil bagi Winda. Winda belum mengetahui segalanya. Winda yang seorang istri polos tidak banyak tingkah, tapi dengan seenaknya diberi pengkhianatan ini.
" Ya Tuhan! Kenapa nasib sahabat aku seperti ini?" gumam Galuh sambil menarik nafas panjang.
" Hai! Hayo jangan melamun saja, Galuh!" kata Winda yang tiba-tiba datang dan duduk di kursinya.
" Eh bikin kaget saja!" sahut Galuh.
" Kaget yah? Yuk kita pulang!" ajak Winda.
" Tapi aku ingin berlama-lama di sini dulu, Winda." ujar Galuh.
" Hadeuh! Entar di rumah aku saja, Galuh. Aku sudah kangen dengan Wisnu nih." ucap Winda.
" Oh iyalah! Malam ini aku boleh gak tidur di tempat kamu." kata Galuh.
" Boleh saja! Ada kamar kosong kok di rumah mewah milik pak Hartono." kata Winda.
" Baiklah! Ayolah kita pulang!" ajak Galuh akhirnya.
Winda dan Galuh meninggalkan kafe itu setelah Galuh membayar semua tagihan dari beberapa menu yang dipesannya tadi.
" Kita belanja dulu sebentar yuk!" ajak Galuh sambil menarik tangan Winda ke supermarket di pusat pembelanjaan itu.
Mata Galuh mulai mencari-cari keberadaan Surya dengan wanita itu.
" Surya dan wanita itu pasti masih di sekitar sini. Mereka pasti mencari tempat makan yang lain." batin Galuh mulai mengajak Winda melewati deretan kafetaria yang ada di sepanjang mall itu.
" Kata nya mau belanja, Luh! Kamu malah ngajak aku berkeliling gak jelas gini loh." protes Winda.
" Eh iya! Ayo kita ke supermarket!" sahut Galuh akhirnya pasrah belum menemukan sosok Surya dengan wanita itu yang dicarinya.
" Kamu mau mencari apa sih?" tanya Winda.
" Hem! Buah - buahan dan makanan ringan." jawab Galuh.
" Oh!" sahut Winda.
Winda dan Galuh mulai masuk ke supermarket di mall itu. Galuh mulai mengambil beberapa makanan ringan yang menjadi favorit nya.
" Kamu mulai suka ngemil, Luh?" tanya Winda.
__ADS_1
" Tidak juga! Ini untuk kamu nanti. Bukankah kamu masih menyusui Wisnu." jawab Galuh.
" Kamu tidak perlu repot-repot, Galuh! Ada banyak makanan di rumah." kata Winda sambil nyengir.
" Idih! Aku ingin membelikan kamu loh. Kamu tidak boleh menolaknya. Eh kamu suka buah kiwi bukan?" tanya Galuh.
" Tentu saja! Dari dulu aku paling menyukai buah satu itu." jawab Winda.
" Makanya kamu terlihat segar dan awet muda. Buah kiwi ini banyak mengandung vitamin C. Sangat bagus untuk kulit kita." jelas Galuh sambil matanya jelalatan mencari sosok Surya, mana tahu orang itu nyasar ke supermarket.
Harapan nya adalah supaya Winda secepatnya mengetahui dan memergoki suaminya itu menggandeng wanita lain.
Winda sangat terlalu naif, mempercayai Surya sebagai suami yang setia dan tidak akan berbuat macam-macam.
" Winda! Kamu harus segera tahu!" gumam Galuh.
" Ada apa lagi, Galuh? Kamu jangan melamun terus dong! Fokus saja dan nikmati hidup ini. Lupakan permasalahan yang menghimpit dada kamu. Kita enjoy dan gembira sekarang." ujar Winda sambil tersenyum.
" Iya, Winda sayang!" sahut Galuh.
" Aduh! Mana sih tuh orang?" batin Galuh dalam harapan dan doa semoga bisa berjumpa dengan Surya lagi di tempat ini.
" Eh? Bukankah itu Mas Surya?" kata Winda tiba- tiba menunjukkan ke Galuh.
" Mana?" tanya Galuh.
" Itu!" jawab Winda.
Galuh mulai mencari-cari keberapa Surya yang ditunjuk oleh Winda dengan telunjuk nya.
"Lalu? Siapa wanita itu?" tanya Winda mulai melongo dan terkejut melihat Surya bersama Sarwenda.
" Eh? Bukankah itu Sarwenda?" tanya Winda.
" Kamu mengenali wanita itu, Winda?" tanya Galuh.
" Iya! Dia sering ke rumah! Tapi kenapa Mas Surya berjalan mesra dengan Sarwenda?" tanya Winda mulai memucat wajahnya.
" Winda!" kata Galuh pelan.
" Galuh! Kita pergi dari sini saja." ajak Winda akhirnya.
Winda dan Galuh akhirnya meninggalkan supermarket itu setelah membayar semua barang yang diambil ke kasir.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa kan Winda?" tanya Galuh.
" Jangan khawatir kan aku, Galuh! Aku baik- baik saja." jawab Winda lemas.