Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
OBROLAN RINGAN


__ADS_3

Sebenarnya belum ada ide cerita untuk menuliskan sebuah gagasan. Gagasan dan ide itu masih membeku dalam otak kecilku. Ingatan masa- masa indah bersamamu masih sangat jelas adanya. Kata- kata indah dan manis terdengar jelas di telinga ini. Aku masih merindukan kamu dalam segala lebih dan kurang mu. Kamu yang bisa membuat semangat baru dalam segala langkahku. Kamu yang bisa membuat buliran air mata ini deras pilu mengalir. Selamat, ku ucapkan! Kau lah yang bisa membuat sakit dan senang dalam ritme hidupku. Lalu, kau hadir dalam mimpi ku tatkala aku berusaha menepis semua sosok mu. Iya, sosok mu yang bagiku seperti malaikat yang memenuhi jantungku. Namamu masih sangat jelas mengisi ruang kosong pikir dan suara hati ku. Aku ingin menghapus telepati ini darimu. Agar aku tidak akan merasakan detak kencang jantungku, ketika kau menyebut dengan paksa namaku. Itu menyakitkan aku. Membuat dada terasa sesak yang sulit ku bernafas lega. Bantulah aku, mengikis ruang rindu ini. Agar tidak lagi pikirku, ber halu akan bayanganmu yang semu.



Mencoba berdiri dalam harap cemas akan sambut mu. Aku hanya menunggu pasti, dalam tiap ada bersamamu. Lalu kamu hanya diam, meratapi tiap salah akan langkahku. Sampai kapan kau ulang dan kau ingatkan aku akan kebodohan itu. Sedangkan aku ingin membuka lembaran baru dan menutup memory yang bikin sesal ku. Aku akan tetap menjadi diriku. Diriku yang dulu, walau terkadang tidak sanggup ku berpegang pada tali itu. Aku hanya ingin senyuman itu. Agar semangat ku kembali pulih, seiring dukungan mu.


*******


" Mama! Mama ada di mana?" tanya Surya melalui sambungan ponselnya.


" Masih di kafe XX, dengan Intan juga Pak Koko. Ada apa, nak?" jawab Bu Hartini sambil melihat ke arah Intan dan Pak Koko.


" Aku ingin cerita dengan Mama!" kata Surya di seberang sana.


" Cerita saja, nak!" ucap Bu Hartini.


" Aku ingin curhat, mama. Dan lagi pula aku sangat kangen dengan mama." ujar Surya.


" Kamu kenapa, Surya? Seperti sudah bertahun-tahun tidak ketemu mama ..hahaha." sahut Bu Hartini.


" Apakah aku tidak boleh kangen dengan mama?" tanya Surya dengan suara bergetar.


" Kamu menangis, nak?" tanya Bu Hartini.


" Ah tidak ma! Hanya perlu istirahat saja." jawab Surya.


" Nanti di rumah saja ya, sayang! Bentar lagi mama juga pulang dengan Intan dan Pak Koko. Kamu ingin di belikan sesuatu?" ucap Bu Hartini.


" Tidak usah ma! Aku hanya perlu mama." sahut Surya.


" Baik! Baik!" ucap Bu Hartini akhirnya.


" Assalammualaikum ma!" kata Surya.


" Waalaikum salam!" jawab Bu Hartini sambil menutup panggilan masuk di ponselnya.


Intan hanya melihat wajah mama nya yang terlihat penuh kekhawatiran.

__ADS_1


" Mas Surya, kalau seperti ini seperti masih anak-anak yang perlu dimanja dan diperhatikan oleh orangtuanya." sahut Intan menilai.


" Kamu juga begitu loh!" sahut Bu Hartini lagi sambil tersenyum.


" Seperti nya, selagi masih ada orang tua atau mama dan papa, kami anak-anak mama tidak akan pernah menjadi dewasa deh." ujar Intan sambil terkekeh.


"Setiap orang perlu berbagi, Intan. Kesedihan dan beban yang dirasakan Mas Surya mu, mungkin saja cukup membuat lelah hati dan pikirnya. Dia perlu berbagi cerita dan curhat. Dan mama lah yang dianggap nyaman untuk bercerita." kata Bu Hartini serius.


" Di depan ku, Mas Surya selalu menunjukkan dirinya kuat. Aku pikir, Mas Surya tidak akan mengalami fase sedih dan bimbang seperti ini." ujar Intan.


" Ketika dalam kebimbangan dan dilema, seseorang menjadi pribadi yang berbeda. Terkesan memiliki kepribadian ganda. Bingung atas langkah yang ditempuhnya, akhirnya tidak memiliki pendirian yang kuat, berubah-ubah dan terkesan plin- plan. Belum bisa memutuskan langkah diantara beberapa jalan yang akan diputuskan nya. Mama sanggat memahami situasi ini." ucap Bu Hartini.


" Mama! Aku boleh jujur tidak?" tanya Intan.


" Kenapa? Katakan saja!" jawab Bu Hartini.


" Otakku tidak nyampai dengan kata-kata, mama barusan. Sungguh! Hehe." ucap Intan sambil terkekeh.


Dan Pak Koko pun ikutan terkekeh mendengar ungkapan polos dari Intan.


" Hahaha! Nanti aku VC dia ma!" sahut Intan bercanda.


( Astaga! Kalian ngomongin awak? Ku tamat kan cerita ini loh!)


T


A


M


A


T


TAPI BOHONG!


*******

__ADS_1


" Aku sangat memaklumi segala upaya yang dilakukan Sarwenda. Tapi aku tidak yakin, jika Sarwenda nekat melakukan hubungan dengan sembarangan pria." kata Bu Hartini kepada Pak Koko.


" Tapi memang kenyataannya, Mas Surya selalu bersama dengan saya nyonya. Dan ketika Non Sarwenda dan Mas Surya ribut- ribut itu, Mas Surya mengucap kata cerai ke Non Sarwenda. Setelah itu, Mas Surya tidak lagi datang ke rumah non Sarwenda." cerita Pak Koko.


" Apa yang mereka ributkan?" tanya Intan.


" Non Sarwenda menuntut supaya Mas Surya segera menikahi nya secara hukum. Sedangkan Mas Surya dengan saya pun sudah sangat jelas melihat Non Sarwenda berhubungan dengan laki-laki lain." cerita Pak Koko.


" Apa? Apakah kalian tahu, laki-laki itu?" tanya Intan penasaran.


" Eh...em maaf Non Intan, kami tidak mengenalinya." jawab Pak Koko berbohong.


" Sayang sekali! Tapi Pak Koko tahu keberadaan laki- laki yang berhubungan dengan Mbak Sarwenda tidak?" tanya Intan.


" Iya! Pak Koko tahu tidak?" sahut Bu Hartini.


" Ma...maaf nyonya! Kami tidak mengetahui nya dan tidak berusaha mencari tahu keberadaan laki - laki itu." jawab Pak Koko sedikit panik.


" Baiklah! Nanti kita pikirkan lagi. Nanti aku coba tanya detail dari Surya." sahut Bu Hartini.


" Kalau Mbak Sarwenda benar- benar mencintai Mas Surya, kenapa dia harus berselingkuh dengan laki-laki lain? Lalu mungkin saja, anak yang dikandung nya adalah bukan darah daging Mas Surya." kata Intan sambil tersenyum sinis.


" Tidak tahu juga, non! Apakah cinta itu bisa membutakan semuanya?" sahut Pak Koko.


" Tapi kenapa dengan menghalalkan berbagai cara?" ujar Intan.


" Ini namanya terobsesi atau ambisi! Bukan cinta lagi!" ucap Bu Hartini.


" Obsesi? Ambisi? Keinginan? Wah...wah...macam bisnis, harus tercapai targetnya. Apakah ini menjadi bentuk kepuasan tersendiri atau kelainan?" tanya Intan.


" Tidak tahu! Tanya kan saja kepada Pak RT! Mama pusing dengan jalan pikiran Sarwenda. Gaya hidup yang bebas menjadikan dia sudah terbiasa menjalin hubungan dengan lawan jenis seenaknya. Yang terpenting bagi dirinya suka sama suka dan saling menguntungkan.. Apakah seperti itu?" tanya Bu Hartini lagi.


" Entahlah ma! Mari kita tanyakan sama- sama dengan Pak RW saja, mungkin beliau tahu jawabannya." jawab Intan sambil nyengir.


Bu Hartini, Pak Koko dan Intan kini hanya tertawa lepas dengan obrolan yang tidak berfaedah dan belum menemui titik solusi nya itu.


( Wes lah! Ngono wae! Jangan lupa olahraga teratur dan banyak minum air putih ya, sayang!)

__ADS_1


__ADS_2