
Hati tidak pernah mengingkari dengan segala rasa yang hinggap. Perasaan yang tiba-tiba muncul di benaknya tidak akan mampu terelakkan. Hanyalah akal pikiran manusialah yang memanipulasi segala sesuatu nya. Akhirnya kebohongan hadir dalam bentuk ucapan dan sikap.
Cinta itu pun terbagi karena adanya dorongan keserakahan manusia. Karena pujian - pujian dan rayuan yang menenggelamkan rasa. Jatuh dan akhirnya terperangkap dalam jebakan. Pilihan yang tidak bisa menepis segalanya. Mencari sesuatu yang tidak ada dalam satu sosok yang dikagumi.
Seperti halnya tanaman yang selalu disiram dan dipupuk, demikian rasa itu semakin membesar dan subur seiring perhatian dan bentuk kasih sayang yang diberikan. Semakin tanaman dibiarkan tumbuh tanpa perawatan, akan banyak rumput liar disekelilingnya. Akan ada benalu yang tumbuh dari pohon itu yang menjadikan kesuburan pohon itu semakin berkurang.
" Intan!" panggil Bu Hartini yang membuyarkan lamunan Intan yang sedang duduk di bangku taman belakang rumah kediaman Keluarga Pak Hartono.
" Eh mama! Ada apa ma?" sahut Intan sambil tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya mencium pipi kanan dan kiri Bu Hartini.
"Kamu melamun kan apa sih, sayang?" tanya Bu Hartini yang ikut duduk di samping Intan.
" Tidak ada ma! Hanya saja, saya mulai tidak sabar menunggu kehadiran seorang bayi mungil dalam hubungan saya dengan Mas Wardha. Betapa inginnya saya merasakan hamil dengan perut yang membuncit mengandung anak dari mas Wardha. Merasakan menjadi seorang ibu yang mengandung, melahirkan,menyusui dan membesarkan anak-anak. Apakah Tuhan tidak mendengar doa kami ma?" kata Intan mulai mengeluh.
" Hus! Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Tuhan selalu memiliki rencana yang terindah dan terbaik untuk kamu dan Wardha. Berprasangka baiklah dengan Tuhan. Mungkin saja saat ini, kalian diberi waktu terlebih dahulu untuk menikmati kebersamaan kalian tanpa hadirnya seorang bayi ditengah - tengah kebahagiaan itu. Atau mungkin saja, Tuhan lebih paham dan tahu jika kamu saat ini belum mampu mengemban tugas dan kewajiban sebagai seorang ibu. Berpikir positif lah dalam menanggapi segala hal itu, sayang." ucap Bu Hartini sambil membelai rambut pendek milik Intan.
" Seperti nya belum lengkap jika tidak ada suara tangisan bayi ditengah - tengah hubungan saya dengan Mas Wardha. Saya seperti menjadi seorang wanita yang belum lengkap dan tidak sempurna ma." kata Intan.
" Eh? Sudah Intan! Bagaimana kalau kita bikin bolu yuk! Saat ini suasana hati kamu lagi tidak bagus. Kamu harus banyak aktivitas supaya,pikiran kamu tidak kosong dan tidak berpikiran yang tidak - tidak." ujar Bu Hartini.
" Males banget loh Ma!" sahut Intan.
" Eh? Jangan begitu dong sayang! Anggap saja, kamu bikin kue ini untuk suami kamu, Wardha. Berikan yang terbaik untuk suami kamu." kata Bu Hartini.
" Oh iya? Wardha mana?" tambah Bu Hartini.
__ADS_1
" Dari semalam tidak pulang ke rumah Ma! Ada urusan ke keluarga nya. Katanya Adiknya sedang sakit Ma. Saya kemarin ingin ikut tidak dikasih." cerita Intan.
" Oh! Ayolah kita bikin bolu yuk! Bahan -bahan sudah tersedia dan lengkap di dapur loh." ajak Bu Hartini.
Tidak berapa lama, Winda datang dengan membawa botol susu bayi menuju ruang dapur. Ruangan dapur di kediaman Pak Hartono itu memang di belakang melewati taman belakang rumah.
" Mama! Intan! Seru banget keliatannya." sapa Wanda sambil tersenyum dan menghampiri mereka berdua sebelum melangkah ke dapur.
" Winda! Wisnu tidur?" tanya Bu Hartini.
" Tidak Ma! Wisnu dijagain Mas Surya. Ini mau nyuci botol susunya Wisnu dulu, Ma!" kata Winda.
Intan dan Bu Hartini berdiri segera berjalan menuju dapur. Winda mengikuti mereka berdua.
" Eh? Enggak usah! Winda biar ngurus Wisnu. Lagipula ada Surya, suaminya kok. Jarang - jarang Surya pulang cepat dari kantor nih sejak ada Wisnu." sahut Bu Hartini.
Intan kembali cemberut. Dalam hatinya sangat menginginkan anak. Supaya Wardha pun bisa pulang lebih awal atau lebih semangat pulang jika ada bayi di rumah.
" Eh? Cemberut lagi kan? Ayo fokus! Kita bikin bolu yang enak!" kata Bu Hartini.
Winda masih membersihkan beberapa botol susu bayi. Matanya fokus dengan pekerjaan nya tapi pikiran nya kemana - mana. Dalam hatinya sangat bersyukur, dalam pernikahan nya dengan Surya sudah dikaruniai seorang anak. Memang benar, kehadiran seorang bayi dalam hubungan pernikahan sangat di nantikan oleh semua pasangan. Bukankah tujuan menikah salah satunya juga untuk memiliki keturunan? Mempunyai penerus dan generasi berikutnya? Seorang istri jika sekian lama belum juga ada tanda-tanda kehamilan atau tidak memiliki buah hati, rasa khawatirnya akan besar. Dia akan merasa belum sempurna,jika belum memberikan semua itu. Sebagai wanita, rasanya tidak lengkap jika belum pernah mengandung, melahirkan,membesarkan anaknya.
Terkadang salah satu alasan suami untuk menceraikan atau meninggalkah istrinya karena hal tersebut. Tetapi itu bukanlah alasan yang mutlak bagi seorang laki-laki meninggalkan istrinya. Dengan kesepakatan bersama, bukankah bisa mengadopsi anak atau ikut program bayi tabung terlebih dahulu jika itu memungkinkan.
" Winda!" panggil Bu Hartini.
__ADS_1
" Iya Ma!" sahut Winda.
" Sabtu ini, ikut acara makan malam bersama keluarga Sarwenda tidak?" tanya Bu Hartini.
" Saya terserah, apa kata Mas Surya saja, Ma! Jika Saya harus di rumah, tidak perlu memaksakan untuk ikut kan, Ma! Lagi pula, Wisnu belum bisa di ajak jalan-jalan keluar rumah masih bayi merah, Ma. Hehehe." kata Winda sambil tersenyum.
" Iyalah! Apa bagusnya saja deh. Tapi kalau kamu jenuh di rumah dan ingin ikut di acara makan malam itu, Wisnu bisa di jaga oleh Mbk Ita. Dia pandai juga kok, merawat bayi." Kata Bu Hartini.
Mbak Ita adalah salah satu asisten rumah tangga di rumah Kediaman keluarga Pak Hartono.
" Oh iya, Winda! Kamu bisa sampaikan ke Surya, Kamu kalau sudah kerepotan untuk segera mencarikan baby sitter." kata Bu Hartini.
" Iya, Ma! Nanti saya sampaikan ke Mas Surya! Tapi untuk sekarang, seperti nya belum perlu Ma. Saya masih ingin menikmati, merawat Wisnu setiap waktu. Hehehe." kata Winda.
" Iyalah! Mana tahu kamu sudah mulai jenuh dan ingin kerja di kantor Papa bersama Surya." ujar Winda.
" Boleh ya Ma?" sahut Winda bersemangat.
" Boleh saja, Winda. Zaman sekarang. Laki - laki kalau tidak di awasi bisa macam-macam di luar. Mama tidak mau, membela anak mama juga, kalau Anak mama tergoda dengan cewek - cewek di luar sana itu. Kamu sendiri tahu bukan? Cewek sekarang, lihat laki- laki mapan,mulai merapat dan ingin menggoda. Tidak perduli, dia sudah beranak dan beristri." cerita Bu Hartini.
" Mama! Jangan bicara gitu dong, Ma! Saya jadi khawatir nih, dengan Mas Wardha." sahut Intan mulai mendelik.
Akhirnya Winda dan Bu Hartini jadi saling pandang dan tertawa melihat reaksi Intan yang cemberut seperti anak kecil.
Di dunia ini, kepuasan sejati bagi seorang manusia jika bisa merasakan Cinta Nya. Dan Cinta Nya bisa di rasakan, ketika kita selalu mendengar suara hati yang bergetar. Dalam alunan yang pelan dan lembut itu, tidak akan terdengar jika akal selalu mendominasi perasaan. Akhirnya, manusia menentukan langkahnya sendiri sesuai keinginan dan hasrat nya. Suara hati yang suci itu tertutupi oleh angan-angan kosong yang menuruti perintah dan dorongan nafsu duniawi. Yang kesemuanya, tidak akan pernah mencapai titik kepuasan.
__ADS_1