
Perjalanan hidup ini siapa yang berhak mengaturnya? Semua rencana manusia sering kali luput dari kenyataan. Apakah kamu akan kuasa memprotes segala derita, kekecewaan dan kesedihan yang kau rasa? Bukankah hidup hanyalah sebentar dan sementara saja. Kita hanya berusaha mencari nilai di dalamnya untuk ditukar dengan kebahagiaan yang sejati kelak akhirnya. Mampu tidak mampu, mau tidak mau, kita harus melalui semuanya. Kebahagiaan, kesedihan, tertawa dan tangis sebagai harmoni alur cerita hidup di dunia ini. Siapa yang menduga jika besok kita tak lagi sempat bernafas. Siapa yang mengira kalau esok hari kita tidak bisa melihat lagi mentari.
" Winda! Kamu harus kuat nak!" ucap Bu Hartini sambil memeluk tubuh Winda dengan penuh kelembutan.
Bu Hartini menangis tersedu-sedu sambil memeluk Winda,menantunya itu. Bu Hartini berusaha kuat dan ikhlas dengan semua kenyataan yang telah terjadi. Bu Hartini berusaha merelakan sesuatu yang tidak bisa diterima nya saat ini. Semua sudah terjadi dan inilah kenyataan nya. Inilah akhir dari perjalanan hidup Surya.
" Mama!" ucap Winda dengan suara bergetar hebat dan tangis yang tidak tertahankan.
Tidak jauh dari Bu Hartini dan Winda, Intan meratapi kepergian Mas nya dengan tangis air mata yang tidak terbendung. Bagi Intan, ini pukulan yang paling menyakiti nya. Bagi Intan, Mas Surya masih sosok kakak yang bisa membuat dirinya bangga. Kepergian Surya sungguh tidak di sangka dan diduga nya.
" Mas Surya! Kenapa secepat ini engkau pergi?" kata Intan lirih.
" Kamu pergi duluan,nak? Meninggalkan kami dengan segala duka ini. Pergi lah Surya. Semoga Tuhan memberikan tempat terindah untuk mu. Papa berusaha ikhlas melepas kepergian mu, nak." ucap Pak Hartono dengan rasa sesak di dadanya. Butiran air matanya keluar dari ujung matanya. Pak Hartono tidak kuasa menahan kesedihannya. Baginya ini seperti mimpi dan belum percaya kalau Surya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Bagi seorang ibu dan ayah, inilah penderita yang terhebat dan sangat menyakitkan ketika melihat anak yang disayangi nya lebih dahulu pergi meninggalkan nya. Di usia yang masih terbilang muda, Surya sudah terlebih dahulu dipanggil Nya. Pak Hartono duduk sambil menundukkan kepalanya di depan sosok jasad Surya yang terbujur kaku.
Beberapa pelayat ramai di dalam dan di luar rumah kediaman Pak Hartono. Winda masih berkali- kali pingsan ketika menyadari bahwa kenyataan nya, ia sudah ditinggalkan oleh suaminya. Baru kemarin dirinya dan Surya bercengkrama manja, baru kemarin dirinya dan Surya mulai mengulang masa-masa keromantisan seperti waktu menjadi pengantin baru. Baru kemarin, Winda mulai ikhlas dan memaafkan segala kesalahan yang telah diperbuat oleh suaminya. Kenapa semuanya begitu cepat berlalu? Kebahagiaan itu, berganti dengan kedukaan dan kehilangan sosok suami yang dicintai nya itu.
__ADS_1
" Mas Surya!" teriak Winda sambil memeluk jasad Surya yang terbaring kaku. Winda terkulai lemas tidak sadarkan diri.
" Winda sayang!" panggil Bu Hartini sambil menangis histeris melihat Winda masih belum menerima kenyataan bahwa Surya telah meninggal.
Semua masih belum percaya ketika kabar Surya meninggal dunia. Kecelakaan maut itu telah menelan kedua belah pihak. Tidak ada indikasi yang disengaja. Semuanya murni kecelakaan lalulintas. Surya dan Pak Koko meninggal dunia. Mereka tidak bisa terselamatkan lagi ketika ambulans membawa Surya dan Pak Koko ke rumah sakit terdekat dari tempat kecelakaan. Demikian mobil yang menabraknya, penumpang nya pun ada beberapa yang meninggal dunia. Kecelakaan maut itu menelan beberapa korban jiwa. Semua tidak bisa menduga nya.
Tubuh Winda di baringkan di kamarnya. Disana Galuh dengan setia menemani sahabat nya yang sedang shock hebat itu. Tangannya mengusap-usap dengan lembut tangan milik Winda. Berusaha memberikan kehangatan tangan Winda yang dingin itu. Minyak kayu putih pun diusapkan ke kaki Winda. Pelan- pelan di dekatkan ke hidung Winda supaya lekas sadar.
" Mas Surya!" ucap Winda sambil menangis tersedu-sedu.
" Winda! Winda! Istighfar sayang! Kamu harus kuat. Kamu harus sabar. Demi Wisnu. Anak kalian bersama Surya." ucap Galuh dengan suara yang bergetar.
" Tidak! Kamu harus kuat. Demi Wisnu. Wisnu masih kecil. Kasihan dia." ujar Galuh.
" Mas Surya!" Panggil Winda sambil bangkit dari tempat tidur nya dan berlari keluar dimana jasad Surya terbujur kaku.
Beberapa pelayat menjadi miris dengan reaksi Winda yang kehilangan suaminya itu. Hal ini semakin menambah kesedihan bagi Bu Hartini dan Pak Hartono yang melihat Winda masih belum menerima kenyataan pahit ini.
__ADS_1
Winda memeluk jasad suaminya itu. Intan berusaha menenangkan kakak ipar nya dengan lembut.
" Mbak Winda! Jangan seperti ini, mbak. Kasihan Mas Surya. Biarkan Mas Surya pergi dengan tenang tanpa ratapan tangis dari mbak Winda. Kami semua sayang dengan Mas Surya. Kami semua juga kehilangan Mas Surya, mbak. Tapi jangan lagi diberatkan langkah Mas Surya dengan tangisan yang meraung-raung ini." kata Intan berusaha bijaksana.
" Tapi Intan, Mas Surya pergi meninggalkan aku. Mas Surya berjanji akan membahagiakan aku. Mencintai aku dan selalu setia dengan aku selama nya." kata Winda dengan suara parau nya.
" Iya aku tahu mbak Winda. Tenang lah mbak. Sabar yah! Kita harus ikhlas supaya Mas Surya pergi dengan tenang tanpa beban. Kita harus kuat dan tegar." ucap Intan sambil menarik badan Winda supaya melepasnya pelukannya ke jasad Surya.
Jauh dari anggota keluarga Pak Hartono yang merasa kehilangan sosok Surya, ada beberapa pelayat ada Sarwenda dan Wardha duduk di kursi yang terletak di luar pekarangan. Terlihat Sarwenda pun masih terisak-isak dengan kesedihan nya kehilangan Surya. Memang dirinya kecewa dengan Surya, tetapi tidak menghendaki kematian dari Surya. Memang dirinya sakit hati dengan Surya, tetapi tidak menginginkan Surya meninggal dunia. Wardha menatap Sarwenda yang menangis itu dengan rasa tidak suka. Mungkin saja Wardha cemburu karena Sarwenda masih menangis karena Surya.
" Sarwenda! Sudahlah jangan banyak menangis. Kasihan bayi yang ada diperut kamu. Kamu jangan ikut- ikut an bersedih dan kehilangan Surya. Masih ada aku disisi kamu." ucap Wardha.
Sarwenda menatap tajam ke arah Wardha yang berbicara tanpa perasaan.
" Kamu disaat seperti ini masih bisa cemburu dengan orang yang sudah meninggal? Kamu lucu dan sangat lucu, Wardha." kata Sarwenda pelan.
" Eh? Maafkan aku." sahut Wardha yang menahan kegondokan nya.
__ADS_1
" Kamu tahu, Sarwenda? Saat ini aku begitu lega ketika melihat Surya sudah meninggal. Bagiku dialah penghalang kebahagiaan ku untuk bersamamu." batin Wardha.
" Memang cinta ini sudah gila. Sama seperti aku tergila-gila dengan kamu. Demikian juga halnya dirimu yang tergila-gila dengan Surya. Sampai melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Surya. Berbeda dengan aku. Aku akan menyingkirkan semua orang yang akan menghalangi kebahagiaan ku. Saat ini Tuhan sedang berpihak terhadapku. Sebelum aku menyusun rencana jahat ku, kecelakaan maut ini telah terjadi. Bukankah ini keuntungan bagi aku? Hahaha." batin Wardha penuh kemenangan.