
Rasa itu sudah terkubur bersamaan dengan jasad mu di tempat peristirahatan terakhir. Sempat kecewa namun tersingkirkan oleh kasih sayangmu terakhir yang masih terngiang. Bukankah tidak baik untuk selalu mengingat kesalahan yang diperbuat. Salah dan benar bukanlah salah satu penilaian hakiki yang menghakimi seseorang. Penilaian itu masing-masing berbeda sudut pandang dan alasan kenapa hal itu terjadi dan diperbuat. Sehingga menimbulkan pro dan kontra.
Bukanlah menjadi kesempurnaan dalam langkah hidup seseorang dalam menentukan pilihan. Baik menurut pilihannya bukan berarti tepat untuk penilaian sudut lain orang.
Lalu? Di hadapan batu nisan ini, tertera namamu yang masih saja melekat di hatiku. Bukanlah mudah menepis satu nama itu. Satu nama yang pernah merebut hatiku dan menjaga hatiku saat itu. Surya! Seperti sang Surya yang menerangi semesta. Seperti halnya aku melangkah dan berjalan tanpa cahaya dan cahaya itulah hadirnya dari kamu. Iya, kamu adalah penerang dan penentu pelita tatkala itu. Dimana nama itu selalu ku sebut dan menggetarkan relung hatiku yang paling terdalam. Tapi kini, dan saat ini hanyalah kesunyian dan kebisuan. Tidak ada lagi canda, tawa, keluh kesah cerita perjalanan mu. Hanya tinggal cerita masa lalu yang kini terbawa dan terbenam bersama dengan sang waktu. Bukan aku ingin menyingkirkan mu, tapi antara duniamu dan duniaku sudah lain cerita. Paling tidak, kita pernah melangkah bersama- sama dalam melalui kisah cinta itu. Dan aku sudah menjadi wanita mu yang paling setia dan bahagia.
" My queen! Sudah mulai senja. Kita pulang yuk! " ajak Bang Hendra sambil menaburkan sisa bunga yang beraneka ragam itu ke atas batu nisan yang tertera tulisan nama Surya.
Winda terdiam. Mungkin saja kebisuan nya adalah kesedihan yang sesaat ketika bayang-bayang masa lalu itu hadir kuat di pelupuk matanya bersama sosok laki-laki yang sudah memberikan seorang putra.
Bang Hendra menyentuh bahu milik wanita yang masih fokus di depan batu nisan itu. Matanya kosong seolah ragu kembali untuk bangkit berdiri.
" Queen! Aku disini di samping mu. Akan selalu memberikan kekuatan itu pada mu. Memberikan warna baru di langkah selanjutnya. Aku akan membantu kamu dan membahagiakan mu, selamanya." ucap laki-laki yang ada di samping Winda.
Kata-kata yang begitu manis dan indah terdengar keluar dari bibir pria itu. Seketika Winda menatap laki-laki itu dari ujung kepala sampai kaki. Seperti nya tidak akan pernah percaya, bahwasanya pria yang ada di samping nya itulah yang kenyataan nya saat ini telah membantu menyembuhkan lukanya. Luka yang tidak berdarah tapi mampu menggerogoti jiwa dalam rasa sakit yang pernah dikecewakan dan rasa pedih karena ditinggalkan oleh seorang yang sudah menjadi tambatan hatinya.
" My queen!" panggil pelan bang Hendra sambil meraih tangan milik Winda.
Kembali Bang Hendra berdiri di atas batu nisan itu. Kaki pria itu tanpa alas kaki menghormati jasad yang sudah dikubur didalam nya. Matanya kembali fokus di sana. Tangannya masih memegang erat wanita yang masih larut dalam sedih dan kesunyian.
" Mas Surya! Di depan tempat peristirahatan terakhir mu aku mengutarakan. Aku mencintai, Winda dengan kesungguhan hati. Aku tidak akan mengecewakan kamu dan juga Winda. Aku akan ikut menjaga dan membesarkan Wisnu seperti selayaknya anakku sendiri. Aku akan memperistri Winda secepatnya. Sungguh, aku tidak akan bermain- main dalam perasaan cinta ini." ucap Bang Hendra masih tetap tangannya menggenggam tangan milik Winda.
Winda, seketika melihat laki-laki itu. Di samping nya, pria itu sungguh-sungguh serius ingin menjadikan dirinya sebagai pendamping hidupnya.
__ADS_1
" Kita pulang, King!" sahut Winda pelan lalu menarik tangannya Bang Hendra yang masih menggenggam nya.
" My queen! Ucapkan sesuatu kepada suami kamu. Bahwasanya kamu akan segera menikah dengan aku." kata Bang Hendra sambil menahan supaya Winda tidak cepat berlalu di tempat itu.
Winda akhirnya menurut perintah Hendra dan kembali di depan batu nisan itu.
" Mas Surya! Saya akan segera menikah dengan Bang Hendra. Semoga engkau ridlo dengan keputusan kami. Ada dan tidaknya kamu, Mas Surya. Kamu sudah pernah masuk didalam kehidupan ku. Dan kamu tetap tidak akan terganti sebagai ayah dari anak kita, Wisnu." ucap Winda lalu menatap wajah Bang Hendra. Ada kekhawatiran kalau saja pria itu akan cemburu.
" Queen! Aku tidak akan cemburu sayang!" sahut Bang Hendra sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
Di susul oleh Winda, Winda ikut melangkah meninggalkan tempat itu dibelakang punggung Bang Hendra. Secepat mungkin, Winda menoel pinggang Bang Hendra. Senyum nya sedikit melebar melihat wajah Hendra yang mulai di tekuk.
" My king! Seperti nya ada yang cemburu deh." sindir Winda sambil tersenyum.
" Siapa?" sahut Bang Hendra.
" My king! Pingin rujak cingur." kata Winda seorang tidak ingin minta persetujuan dari Hendra.
" Aku lagi pingin mie pangsit." sahut Bang Hendra sambil mulai menjalankan mobilnya. Winda hanya menarik nafas panjang. Seolah ada keluhan dari tarikan nafasnya.
Bang Hendra sesekali melirik ke arah Winda yang mulai cuek sambil memainkan ponselnya. Hendra semakin merasa dicuekin.
" Mie pangsit, mau gak sayang?" tanya Bang Hendra mulai menciut dan mengalah serta tidak mau ribut terlalu panjang.
" Pingin rujak cingur." sahut Winda sambil memainkan ponsel nya.
" Baiklah! Hari ini aku lagi baik. Katakan sesuatu supaya aku menuruti kemauan kamu hari ini."kata Bang Hendra sambil melirik ke arah Winda yang masih fokus dengan ponselnya.
__ADS_1
Mobil yang dijalankan Hendra akhirnya ditepikan dan berhenti pelan. Matanya dengan sorot tajam menoleh ke arah Winda. Lalu dengan cepat, merebut ponsel yang dipegang Winda. Seketika Winda hanya melotot menoleh Hendra.
" Abang!" sebut Winda pelan.
" Kamu lagi hubungi siapa sih? Dari tadi aku dicuekin." kata Bang Hendra sambil meneliti ponsel milik Winda.
" Enggak ada, my king! Aku lagi baca novel kok."bela Winda.
" My queen! Lain kali kalau lagi sama aku, gak boleh main ponsel." pinta Bang Hendra sedikit memaksa.
" Kalau ada panggilan darurat, apa harus didiamkan saja tidak diangkat? My king! Aku sudah mempercayaimu lebih dari aku mempercayai diri aku sendiri. Aku sudah terlanjur menyayangimu lebih dari yang kamu tahu. Jadi, jangan risau dan ragukan lagi perasaan ini." ucap Winda serius.
Bang Hendra yang mendengar perkataan Winda jadi tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya seketika cerah dan bahagia mendengar kata manis dan indah yang terlontar dari mulut mungil Winda.
" Benarkah?" tanya Bang Hendra yang pura-pura wajahnya masih di tekuk.
" My king! Bukankah sebentar lagi kita menikah? Bukankah itu yang sudah kita sepakati bersama, aku dan kamu akan menjadi suami istri yang bahagia dengan keluarga kecil kita, sayang." kata Winda serius berucap.
Bang Hendra akhirnya tersenyum lebar. Hatinya penuh bunga- bunga bermekaran. Kebahagiaan menyelimuti nya.
" My queen! Aku juga mencintai kamu lebih dari yang kau tahu. Dan Terima kasih atas kata- kata indah yang baru saja kamu lontarkan. Aku tidak akan pernah membuat kamu kecewa." kata Bang Hendra.
" Aaminn! Sungguh? Tapi jangan lagi berjanji kepadaku, tidak akan membuat aku kecewa. Yang dulu pun pernah berkata seperti itu, yang nyatanya pernah membuat kecewa hatiku. Jadi, jalani semuanya saja dengan saling percaya dan berusaha menumbuhkan rasa kasih sayang ini. Seperti halnya tanaman yang harus rajin kita sirami, demikian halnya rasa kasih sayang ini yang harus kita bina dan kita pupuk supaya tidak akan layu dan memudar."kata Winda serius.
Bang Hendra akhirnya menjalankan mobilnya sambil tersenyum dan akhirnya Bang Hendra tanpa malu meneriakkan kata- kata untuk Winda.
" My queen! Aku mencintaimu! Aku menggilai mu!" teriak Bang Hendra diiringi suara mesin mobil yang menyala.
__ADS_1
" Gombal!" teriak Winda.