
Cinta itu ada dorongan. Cinta itu ada usaha dan tindakan. Cinta itu ada memberi tanpa harus mengharapkan balasan. Cinta itu ada janji walaupun tidak sempat diucapkan. Cinta itu penuh kasih tanpa ada hitung menghitung seperti jual beli. Di dunia ini, mana ada cinta sejati yang memberi tanpa mengharap balasan dari kekasih hati. Bilangnya cinta tapi dalam kenyataannya mendua dan mengkhianati.
Ucapan bisa berubah dari waktu ke waktu. Pendirian bisa goyah tatkala goda dan uji yang menggiurkan mata. Seperti kata pepatah, jatuh cinta berawal dari pandangan mata lalu turun ke hati. Dari mata, seseorang mulai tertarik dan terpesona dengan apa yang sudah dilihat nya. Tidak munafik bukan, jika memang kenyataannya penilaian orang berawal dari fisik semata. Lalu di lanjutkan atau di sudahi.
*******
Pagi itu Winda menikmati rumah barunya di taman depan. Bersama Wisnu yang sudah mandi, Winda sengaja duduk di bangku kayu panjang yang diletakkan di taman depan. Selera Surya dalam memilih dan menentukan desain rumah dan tata letak taman bisa di ancungi jempol..Tentu saja, semua karena keinginan Winda yang memimpikan rumah kayu yang asri dengan taman dan rumput hijau yang terbentang. Pemandangan hijau dari rumput dan beberapa tanaman hias menambah sejuk dan damainya mata.
" Halo!" sapa Winda setelah menggeser ikon warna hijau di ponselnya yang sedari tadi berbunyi.
" Winda! Kata Bang Hendra, besok pagi kamu sudah bisa bekerja di kantor nya." kata Galuh dari seberang sana.
" Benarkah? Lalu aku kerja di bagian mana?" tanya Winda akhirnya.
" Hah? Aku lupa tadi menanyakan soal itu. Oh iya! Berkas-berkas lamaran kamu, masih aku bawa. Bang Hendra gak butuh itu katanya." cerita Galuh sambil terkekeh yang terdengar melalui sambungan ponsel.
" Wah nanti aku tidak di akui menjadi karyawan di kantor tersebut dong." sahut Winda mulai khawatir.
" Besok pagi aku jemput kamu ya, Win! Aku antar kamu datang ke kantor Bang Hendra sekalipun membawa berkas nya ini. Mana tahu di tanyakan lagi." kata Galuh di seberang sana.
" Iya, baik! Tapi kamu yakin kan, kalau bang Hendra kasih aku posisi yang tidak menyulitkan aku?" tanya Winda mulai khawatir.
" Tidak! Tidak! Paling separah nya di posisi office girl. Hahaha." jawab Galuh.
" Ya ampun! Tega sekali." sahut Winda.
" Ya sudahlah. Aku tutup telponnya yah, say. Nanti sore aku mampir ke rumah kamu yah, setelah pulang kerja." kata Galuh.
" Oke! Aku tunggu." jawab Winda.
Mbak Ita yang dari kemarin sudah datang di rumah itu yang di antar Bu Hartini, kini berjalan mendekati Winda sambil membawa teh manis panas dan beberapa cemilan di piring.
" Non Winda! Ini teh dan jajanan pasar yang non Winda pesan tadi." kata Mbak Ita sambil meletakkan meja kayu di dekat Winda.
" Iya mbak Ita. Terimakasih banyak. Kalau tidak ada kerjaan, duduklah disini bersama temani saya." kata Winda sambil tersenyum.
" Waduh! Kerjaan saya di belakang belum selesai non!" sahut Mbak Ita sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
" Oh gitu yah! Baiklah kalau gitu. Saya tidak berani memaksa hehehe." ujar Winda sambil tersenyum.
" Baiklah non! Saya permisi kebelakang dulu, non!" pamit Mbak Ita akhirnya dan berlalu meninggalkan Winda di taman itu.
__ADS_1
" Iya Mbak Ita! Terimakasih banyak Mbak Ita." sahut Winda.
Pagi tadi, Surya sudah berangkat ke kantor di jemput Pak Koko. Hari ini ada agenda ke kantor cabang yang baru di buka. Sesaat Winda sudah menikmati tenangnya tinggal di rumah barunya tanpa harus melihat Sarwenda. Tentu saja, ketika melihat Sarwenda pikiran nya hanya berkutat akan kesalahan yang sudah diperbuat oleh suaminya. Memang pada dasarnya, wanita itu yang slalu diingat- ingat terus adalah kesalahan yang sudah diperbuat oleh pasangan nya. Walau pun masih bertahan di statusnya dan berusaha memaafkan kesalahan yang sudah diperbuat oleh pasangan nya.
Seperti halnya luka bakar yang bisa sembuh dan kering tetapi bekas nya masih terlihat jelas, bukan? Dan aku bisa memaafkan salah karena kamu pernah menyakiti hati aku. Namun aku tidak akan pernah lupa dengan perbuatan yang sudah kamu perbuat terhadapku.
( Dialog Winda dengan Author, just kidding)
" Thor? Apakah kamu sudah pernah di sakiti?" tanya Winda kepada Author yang mulai sibuk bikin kue- kue lebaran...hehehe.
" Sering kali!" jawab author dengan tersenyum sambil fokus mencetak kue nastarnya secara manual.
" Masak sih?" tanya Winda tidak percaya.
" Aku sering dipukuli dan di tendang." cerita author.
" Astagfirullah! Ini namanya sudah ke tahap kekerasan dalam berumahtangga." sahut Winda sampai membulat matanya.
" Apakah kamu tidak melawan nya? Dan mengadukan semua itu ke.. Komnasham?" tambah Winda serius. Author malah senyum- senyum manis sambil melirik Winda yang serius menatap wajah dirinya.
" Kamu terlalu sabar, Thor dalam hal ini. Kamu juga tidak menggugat cerai?" imbuh Winda lagi.
" Tidaklah! Aku masih menyayangi suami aku." jawab author nya.
" Berisik sekali kamu! Kasih ASI dulu Wisnu, anak kamu tuh!" sahut author sambil melihat ke arah Wisnu.
Dengan sigap Winda memberi susu formula ke Wisnu.
" Weleh! Malah di kasih susu formula loh!" kata author.
" Hehehe. biar cepet gedhe dan pinter, Thor!" alasan Winda.
" Jadi gimana?" tanya Winda.
" Gimana apanya?" tanya author.
" Kenapa kamu bisa dengan mudahnya memaafkan perlakuan suami kamu itu?" tanya Winda mendelik.
" Memang nya kenapa? Apa alasannya aku marah dan tidak memaafkan nya? Justru aku harus berterima kasih terhadap beliau. Karena dengan aku mengenal beliau, aku dibina, dididik, di arahkan ke arah yang lebih baik." kata author itu yang malah semakin membuat bingung Winda.
" Kamu itu aneh! Sudah di pukul, ditendang malah bilang kamu di bina, dididik olehnya." sahut Winda semakin melotot matanya.
" Karena aku dari dulu belajar beladiri dengan beliau." jawab author itu dengan santainya.
__ADS_1
" Sial! Kamu kurang dihajar yah?" kata Winda sewot.
" Hahaha. Ketika aku belajar beladiri, pas sesi tarung bukankah beliau nya selalu menyerang aku dengan pukulan, tendangan tepat ke arah sasaran yang mematikan. Dengan sigap, aku tangkis dan tepis juga ada serangan yang kuberi ketika ada celah untuk memukul ataupun menendang." ungkap author dengan terkekeh.
" Tidak lucu Thor!" sahut Winda sinis.
" Memang aku bukan pelawak, Win! Aku pelatih silat! Hehehe." ungkap author.
" Baiklah! Tampaknya kamu sudah tidak mampu untuk menulis cerita dalam bentuk novel ataupun cerpen. Sudahlah fokuslah pada karier kamu menjadi atlit maupun pelatih silat." protes Winda.
" Hahaha! Ini juga salah satu caraku belajar untuk ketrampilan menulis bukan? Tidak ada batasan usia, karier dalam menulis bukan?"
" Sudahlah! Kembalilah ke habitat kamu! Aku mau menidurkan Wisnu ke dalam." kata Winda sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
"Baiklah! Minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir batin! Untuk semua peminat karya sastra terutama novel. Saya yang manusia hina dan lemah tidak luput dari kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja. Selamat Merayakan Hari raya Idul Fitri bagi yang merayakannya. Semoga kita semua menjadi insani yang lebih baik lagi."
" Amin!" teriak Winda.
*******
Sore hari tiada lagi mentari bersinar lagi. Cuaca mendung masih menyelimuti langit- langit. Galuh sudah di depan pintu rumah milik Winda dengan menenteng paper bag yang berisi makanan. Wajah Galuh terlihat sumringah walaupun habis pulang dari kantor nya.
" Assalammualaikum Winda, sayang!" teriak Galuh yang langsung ngacir masuk mencari keberadaan Winda.
" Waalaikum salam! Mbak Winda ada di kamar, non!" sahut Mbak Ita dengan tersenyum sambil merapikan ruangan tengah.
" Oh iya mbk Ita. Terimakasih banyak. Oh iya ini, bolu nya. Bisa mbak Ita potong- potong yah. Saya biar masuk saja ke kamar, Winda." kata Galuh sambil menyerahkan paper bag itu ke Mbk Ita lalu masuk ke kamar Winda.
" Halo Winda sayang! Aku datang!" kata Galuh sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Winda.
" Kamu sendirian datang kemari?" tanya Winda.
" Memang nya aku akan datang dengan siapa? Aku single loh, Winda!" sahut Galuh sambil manyun mulutnya.
" Mana tahu sama Andrie! Ajaklah Andrie sekali- kali kemari." ledek Winda.
" Weleh! Kantor kita kan beda. Andrie rekan bisnisnya bang Hendra." ungkap Galuh.
" Kamu sudah makan belum? Yuk kita makan yuk!" ajak Winda.
" Boleh! Ayok!" sahut Galuh.
" Kami mewakili keluarga besar di novel ' Satu Atap Dengan Maduku' mengucapkan SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IDULFITRI MOHON MAAF LAHIR BATIN'."
__ADS_1
" Jadi lebaran kita? Hahaha!" Winda terkekeh.