
Jika kamu sudah tidak lagi menyukaiku, kenapa kau semakin menumbuhkan rasa cinta itu ke hatiku. Jika kau sudah bosan akan bayangan ku, kenapa kau memberikan rayuan itu. Kenapa kau ciptakan seolah aku satu-satunya orang yang menjaga hatimu. Dalam nyatanya kau mempermainkan perasaan ini. Menjadikan aku bodoh karena omong kosong itu. Semakin berkembang harapan dan keyakinan itu lalu kau jatuhkan aku hingga hancur berkeping-keping jiwaku. Sakit, namun tiada darah yang menetes disini. Aku terpaku dalam diam, antara percaya dan tidak. Bahwa kamu sungguh tega menyakiti aku ketika cinta ini semakin besar terhadap mu.
Membencimu pun aku sudah tidak sanggup. Membalas mu pun aku tidak ada nyali untuk itu. Aku sudah terlanjur, menjadikan kamu penjaga hatiku. Namun penjaga itu pun dalam keletihan untuk setia mengabdi di istana ini. Lalu berlari pergi karena kebosanan itu. Mencari suasana baru, bukan lagi dengan aku. Enggan pulang walaupun sekadar tersenyum kepadaku.
*******
Sarwenda dan Mbak Santi masih di dalam mobil. Sarwenda sudah menepikan mobilnya di pinggir jalan tidak jauh dari rumah mewah dari tujuannya pergi. Mbak Santi sesaat menunggu perintah dari nona nya. Entah apa yang akan mereka lakukan ketika sudah berada di rumah itu nanti.
" Ayo kita turun!" ajak Sarwenda kepada Mbak Santi. Namun Mbak Santi masih terlihat ragu- ragu untuk mengikuti perintah dari nona nya itu.
" Kita akan makan dan minum di warung milik Rosiana itu dahulu. Setelah itu nanti baru kita mulai bertindak." kata Sarwenda kepada Mbak Santi. Mbak Santi hanya mengangguk mengikuti arahan nona nya itu.
Mereka mulai melangkah menuju warung yang dikemas begitu sempurna walaupun menu yang dijual termasuk menu sederhana. Mbak Santi mengikuti langkah Sarwenda di belakang punggung nya. Sesampainya di sana mereka disambut salah satu pegawai warung itu. Lalu dengan tenang duduk kursi yang telah disediakan di sana.
Sarwenda mulai memesan makanan dan minuman yang ada. Sesekali matanya mencari- cari keberadaan orang yang hendak ia jumpai. Di warung itu belum terlihat sosok Rosiana si empunya warung. Setelah beberapa lama, salah satu pramusaji itu mengantarkan makanan dan minuman yang telah dipesan oleh Sarwenda. Sarwenda mulai menahan pramusaji itu dengan pertanyaan nya.
" Apakah warung ini adalah milik kamu?" tanya Sarwenda pura-pura bertanya akan kepemilikan warung itu.
" Tidak, Mbak! Saya hanya bekerja disini saja." jawab pramusaji itu.
" Oh saya kira ini milik kamu sendiri." sahut Sarwenda yang pandai bersandiwara.
" Tidak, Mbak!" kata pramusaji itu dengan tersenyum. Karena pembeli di warung itu belum terlalu ramai, maka pramusaji itu dengan senang hati mengobrol dengan Sarwenda yang mengajaknya berbincang dengan akrabnya.
" Apakah kamu tahu dan mengenal pemilik nya?" tanya Sarwenda.
__ADS_1
" Pemilik nya ibu Rosiana. Dia ada di dalam rumah sedang beristirahat." cerita pramusaji itu.
"Sebentar lagi beliau juga akan keluar membantu kami karena sebentar lagi akan ramai pembeli jika sudah menjelang malam hari seperti ini." jelas pramusaji itu.
" Oh begitu!" sahut Sarwenda.
" Kalau begitu, saya tinggal dulu mbak. Silakan dinikmati makanan dan minuman nya." ucap pramusaji itu.
Sarwenda dan Mbak Santi saling pandang. Mbak Santi sudah mendengarnya kalau Rosiana akan membantu melayani para pengunjung di warungnya.
" Jadi bagaimana, nona? Kita langsung bertamu di rumah itu atau kita menunggu disini?" tanya Mbak Santi.
" Aku ingin tahu reaksi Rosiana ketika melihat kita duduk di sini. Untung- untung jika Mas Wardhana juga ikut bergabung melayani pembeli di warung ini." kata Sarwenda.
" Tapi, nona tidak akan membuat keributan bukan?" tanya Mbak Santi.
" Tidak! Kamu jangan khawatir! Aku hanya ingin lihat setelah ini apakah Wardhana masih berani pulang ke rumah aku dan merayu aku." ucap Sarwenda dengan tersenyum getir.
Sebelum mereka hendak turun membantu melayani pembeli, kedua mata mereka langsung menatap keberadaan Sarwenda dan Mbak Santi yang sudah duduk di kursi pengunjung warung itu. Betapa raut dan wajah terkejut dari Wardhana dan Rosiana ketika melihat keberadaan dua wanita yang sudah sangat ia kenal nya itu. Mau berlari pun mereka sudah terlanjur dilihat oleh Sarwenda dan Mbak Santi. Akhirnya mau tidak mau Wardhana dan Rosiana menghadapi segalanya.
Sarwenda hanya menunjukkan senyumannya. Sarwenda masih diam tanpa reaksi dengan situasi tersebut. Sarwenda menunggu tindakan apa yang akan dilakukan oleh dua manusia lawan jenis itu menghadapi dirinya.
" Sarwenda, sayang! Kamu kamu di sini sayang?" ucap Wardhana akhirnya. Rosiana hanya berdiri mematung di dekat Sarwenda.
" Tadi aku hanya lewat di jalan ini dan kebetulan aku sangat haus. Jadi akhirnya aku singgah saja di warung ini. Ternyata ada kalian di sini juga yah." kata Sarwenda mencoba pura-pura tidak tahu jika warung itu adalah milik mereka.
Wardhana dan Rosiana saling pandang dan tidak bisa berbicara. Akhirnya Sarwenda melangkah pergi dari warung itu setelah Mbak Santi membayar semua tagihan makanan dan minuman yang tadi mereka makan.
__ADS_1
" Sarwenda, sayang!" panggil Wardhana.
Sarwenda menoleh ke belakang dan sejenak melihat Wardhana dan Rosiana secara bergantian.
" Baiklah! Kamu bisa menjelaskan semua ini di rumah mas! Itu jika kamu punya nyali dan keberanian menemui aku." kata Sarwenda menantang Wardhana.
Wardhana dan Rosiana masih saling pandang. Mereka masih dia belum bisa berbicara karena situasi pembeli di warung itu sudah begitu ramai. Untung saja Sarwenda sudah berbaik hati tidak membuat keributan di tempat itu. Sarwenda tidak membuat malu Wardhana dan Rosiana di warungnya. Sarwenda dengan langkah yang tegas meninggalkan warung itu dan mulai menjalankan mobilnya bersama Mbak Santi.
" Mas! Apakah kamu akan pulang malam ini?" tanya Rosiana ada kekhawatiran dengan situasi tersebut.
" Mungkin besok saja! Mungkin Sarwenda saat ini sangat terkejut dan penuh dengan emosi. Nanti jika aku menemuinya malah ribut dan tidak bisa menyelesaikan masalah." jawab Wardhana yang seakan sudah sangat siap dengan keadaan itu.
" Lalu, apa keputusan kamu nanti mas?" tanya Rosiana penuh selidik.
" Ah belum tahu, Ros! Ayo kita masuk ke dalam rumah saja. Biar pegawai kamu saja yang melayani pembeli yang datang."ajak Wardhana sambil menggandeng Rosiana dengan pelan.
Sambil berjalan masuk Rosiana masih terdiam memikirkan persoalan ini. Rosiana sangat khawatir jika Wardhana akan meninggalkannya dan kembali ke Sarwenda sepenuhnya.
" Mas!" panggil pelan Rosiana.
" Iya, sayang!" sahut Wardhana sambil mengajak Rosiana duduk di sofanya.
" Apakah kamu akan menceraikan aku mas?" tanya Rosiana khawatir.
" Tidak!" jawab Wardhana singkat kini Wardhana mulai menyalakan batang rokok nya dan menghisap nya pelan.
" Aku takut kehilangan kamu, mas!" kata Rosiana lirih.
__ADS_1
Wardhana hanya tersenyum menatap istri mudanya itu sambil mengusap perut Rosiana yang mulai membuncit.
" Aku juga!" ucap Wardhana akhirnya. Rosiana yang mendengar nya menjadi sangat lega.