
Sepi itu ketika tidak ada kamu di sisiku. Kesunyian itu akan semakin senyap tatkala tidak ada kabarmu kini. Seketika aku menjadi kacau kala aku diam membisu tiada aktivitas yang aku jalani. Ketika rindu itu hadir,aku berusaha melawan segalanya dengan sibuk. Sibuk untuk mengalihkan bayangan kamu yang selalu hadir. Tapi pikiran aku masih tertuju dengan kamu. Kamu dimana? Kamu dengan siapa? Apa yang sedang kamu lakukan? Sejenak dada ini mulai sesak tatkala bayangkan kamu bersama wanita lain. Apakah kamu bahagia tatkala tidak bersama aku? Semudah itu kau lupakan aku dan jauh dari aku. Inikah yang kau bilang sayang itu? Bentuk realitas nya seperti apa yang kau maksud dengan sayang?
Kau hanya mencari kesenangan diri. Tanpa aku pun kau masih bisa tertawa. Tanpa dengan aku sisi mu pun kau mampu berdiri tegak. Apakah kau sudah memperoleh ketenangan itu jika sudah jauh dari aku? Jawab lah! Aku tidak perlu kata- kata manis dalam ucapan kamu. Aku perlu perhatian dan sikap hangat kamu. Ah bohong nya kamu, ketika sepi ini sudah menyelimuti jiwa ku.
Semesta pun mulai tahu. Rahasia apakah dibalik semua sikap manis mu. Tampak keindahan tapi di dalamnya penuh ancaman dan goncangan. Lalu aku hanya duduk terdiam merenungi kelemahan ku. Karena kau begitu mudahnya berpaling dariku.
*******
" Winda!" panggil Bu Hartini lalu duduk di dekat Winda yang masih menemani Wisnu di box bayi nya.
" Iya ma!" sahut Winda sambil tersenyum dan memberi ruang Bu Hartini untuk duduk di dekat nya.
" Teman kamu, Si Galuh sudah pulang yah?" tanya Bu Hartini sambil duduk di dekat Winda.
" Iya ma!" jawab Winda.
" Winda! Mama tidak melarang kamu berteman dengan siapa saja. Mama tidak melarang kamu bergaul dekat dengan sahabat - sahabat kamu semasa sekolah atau kuliah. Tapi Winda. Kamu sudah memiliki keluarga kecil dan keluarga besar juga. Kamu sudah memiliki suami dan anak. Dan menurut mama, Galuh kawan kamu itu memberi pengaruh yang buruk terhadap kamu." ucap Bu Hartini.
" Maksud mama?" tanya Winda mulai fokus dan perhatian dengan Bu Hartini yang ingin berbincang dengan nya.
" Maaf Winda! Sejak Galuh mulai sering kemari, kamu jadi kurang bisa mengontrol keinginan kamu untuk bebas dari tanggungjawab kamu sebagai istri dan ibu." kata Bu Hartini.
" Mama. Bukankah saya setiap hari di rumah terus ma. Hanya satu kali itu saja saya menginap dan tidak pulang ke rumah." bela Winda.
" Iya sih! Tapi menurut mama, Galuh akan memberikan pengaruh buruk bagi kamu." sahut Bu Hartini tidak mau kalah.
" Dalam hal apa ma?" tanya Winda.
__ADS_1
" Maaf Winda! Mama tidak suka status janda. Dan itu akan mempengaruhi kamu ketika kamu memiliki permasalahan keluarga dengan Surya. Lalu pada akhirnya kamu cepat menyerah dan ingin lepas status kamu sebagai istri Surya." ucap Bu Hartini.
" Maksud mama apa?" tanya Winda lagi.
"Winda! Kamu dan juga mama adalah istri dari orang penting dan suami kita sibuk dengan urusan bisnisnya serta berjuang menjadi tulang punggung keluarga. Mereka dengan segala kesibukan nya di luar sana demi apa, Winda. Supaya kita, istrinya bisa hidup lebih layak dan bahagia dengan segala keperluan cukup tanpa kekurangan." kata Bu Hartini.
" Terlepas suami kita diluar sana, entah berbuat menyeleweng atau tidak, tapi ketika mereka pulang kita sambut dengan hangat dan penuh senyuman. Kita berusaha menghilangkan prasangka buruk atau semacamnya. Terpenting kita masih sah menjadi istri mereka. Status kita sangat jelas, Winda. Apakah kamu akan menyerah ketika mengetahui suami mu berselingkuh dengan wanita lain di luar sana? Kalau mama tidak semudah itu, Winda!" ungkapan Bu Hartini penuh kejujuran.
" Sudah bertahun-tahun mama bersama papa. Bukan tidak ada permasalahan yang kami hadapi, Winda. Mama juga pernah muda seperti kamu. Dan papa kamu juga pernah muda seperti Surya. Kenakalan- kenakalan seorang laki-laki itu sering kita jumpai, Winda. Apalagi suami kita mapan dan punya jabatan. Pesan mama, kamu jangan mudah menyerah dengan ini semua. Apalagi jika kamu hanya mendengar berita tidak baik dari orang lain tanpa kamu melihat sendiri kebenaran nya. Dan yang terakhir, yang terpenting suami kita ketika pulang masih bersikap hangat dan penuh kasih sayang." ucap Bu Hartini.
" Tapi bukan berarti kamu pasrah dengan semua yang terjadi. Kamu bisa menyelidiki sendiri tentang berita buruk atau kebohongan tentang suami kamu. Kamu bisa bertindak jika kamu tidak ingin suami kamu direbut wanita lain." kata Bu Hartini.
Winda menarik nafas kasar. Segala ucapan dari mama mertua nya ada baiknya juga. Selama ini, dirinya pasrah dan hampir menyerah dengan keadaan. Tidak mencoba mencari tahu informasi atau menyelidiki kebenaran nya. Bila perlu jika terbukti dan melihat Surya berkhianat dengan dirinya mungkin perang akan dimulai. Keputusan akhir nya apakah Surya hendak bersama Winda atau Sarwenda.
" Mama bicara seperti ini seolah tahu kalau Mas Surya bermain api dibelakang aku." ucap Winda.
" Mama adalah ibu nya Surya. Dari penampilan Surya mulai berubah dan sering tidak pulang ke rumah, mama jadi menduga-duga saja. Mama adalah seorang wanita, Winda. Mama tidak ingin membela anak mama sendiri jika dia salah. Mama akan bantu kamu,jika Surya terbukti bersalah." ujar Bu Hartini.
" Jadi benar? Kamu sudah mulai merasakan kegundahan dari sikap Surya?" tanya Bu Hartini sambil mengambil tangan Winda.
" Maafkan Winda, Ma! Mungkin Winda tidak bisa menjadi wanita dan istri yang terbaik untuk Mas Surya. Dan mungkin saja,Winda belum bisa memberikan pelayanan dan kepuasan dengan baik terhadap Mas Surya. Sehingga... sehingga..." kata Winda sambil terisak dan meledak lah tangis nya.
" Winda! Winda sayang!" sahut Bu Hartini sambil memeluk Winda menantunya.
" Ini belum berakhir. Kamu masih istri sah Surya. Kamu hanya berprasangka saja bukan?" ucap Bu Hartini.
"Tapi ma, aku sudah melihat sendiri Mas Surya jalan berdua dengan Sarwenda. Waktu itu ketika aku pamit dengan Mama keluar rumah untuk menemani Galuh jalan- jalan. Galuh ketika itu ingin curhat tentang masalah nya, ma!" cerita Winda.
" Sarwenda? Memang dari dulu dia menyukai Surya. Tapi nak, kamu harus menyelidiki kebenaran nya terlebih dahulu. Atau biar mama yang menyuruh orang untuk menyelidiki nya?" ungkap Bu Hartini.
__ADS_1
" Oh kenapa Mama melupakan Pak Koko. Pak Koko pasti tahu, kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Surya ketika Surya tidak pulang ke rumah. Bukankah Pak Koko adalah sopir pribadi Surya?" ucap Bu Hartini.
Winda mulai mengusap air matanya. Kini dirinya mulai duduk dan merapikan rambutnya.
" Mama! Terimakasih banyak ma!" ucap Winda.
" Mama! Ada satu hal lagi ma." ujar Winda.
" Ada apa Winda?" tanya Bu Hartini.
" Minggu depan bolehkah saya pindah dari rumah ini, ma?" tanya Winda pelan- pelan.
" Winda? Kenapa sayang? Kamu tidak betah disini sayang?" tanya Winda.
" Tidak! Tidak ma. Bukan begitu. Mas Surya membelikan rumah untuk aku dan Wisnu ma. Jadi bolehkah Minggu depan saya pindah ke rumah baru ma?" tanya Winda lagi.
" Winda, nanti mama bakalan kesepian dong. Pasti mama akan kangen dengan Wisnu. Tapi baik lah, kalau itu akan membuat kamu bahagia. Mama akan sering-sering datang ke rumah kamu nantinya." ucap Bu Hartini sambil tersenyum.
" Mama! Terimakasih banyak ma! Tapi bagaimana dengan papa, ma?" tanya Winda.
" Nanti biar mama yang bicara dengan papa. Lagi pula di rumah ini pun sudah ada Intan dan Wardha,suaminya. Tapi Winda,mama pasti akan kangen dengan kamu dan Wisnu." Ucap Bu Hartini sambil memeluk Winda.
" Mama! Aku juga akan kangen dengan mama." sahut Winda.
" Maafkan mama, Winda. Coba dari dulu mama sudah mengenalmu, mungkin dahulu kamu dan Surya tidak akan menjauhi kami. Kami buta karena keegoisan kami." ungkap Bu Hartini.
" Tidak ma! Mama tidak salah. Mama dan papa hanya ingin Mas Surya mendapat menantu dari keluarga yang sederajat. Dan menginginkan Surya bahagia juga." ujar Winda.
"Winda! Jangan bicara soal derajat dong. Mama jadi malu dan tidak enak hati." Sahut Bu Hartini.
__ADS_1
" Eh? Maaf mama." kata Winda sambil meraih tangan mama mertuanya.
" Iya gak papa. Sudah kamu harus bahagia Winda. Jangan berpikiran macam-macam dulu. Kita buat enjoy saja dulu yah, sayang." ucap Bu Hartini.