Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MEREBUTKAN HATI YANG BIMBANG


__ADS_3

Melayang hati melayang, menembus mega- mega. Melayang hati melayang hilangkan berbagai duka. Melayang- melayang ku buang kegundahan.



Ketika sudah melewati jalan lurus yang berkelok- kelok. Di sekelilingnya tanaman padi yang berundak-undak. Dengan pohon pisang yang bersusun- susun. Tingginya pohon kelapa yang melambai-lambai ditiup angin. Anginnya menerpa kencang, menguji sejauh mana kekuatan dari akarnya. Sedikit guncangan dari daun dan buahnya. Tetapi pada dasarnya, menguji kekuatan Akarnya.


Demikian juga ketika manusia diuji dengan segala masalah dan permasalahan hidup. Dihadapkan dengan beberapa pilihan nya, sanggupkah berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip hidup dan keyakinan nya. Tujuannya adalah agar selalu berserah diri terhadap Nya. Ketika Tuhan menguji seseorang dengan segala kekecewaan, kesedihan, segala sesuatu yang luput dari keinginan dan harapan nya. Mungkin saja Tuhan tersenyum senang, tatkala kita bisa meneteskan air mata dan menangis bersimpuh dalam rukuk,sujud dan doa- doa yang kita ucapkan. Apakah kamu bisa merasakan nikmatnya, ketika bisa meratapi, mengaduh, mengeluh dan menangis ketika menghadap Nya?


*******


Sampailah Niga di rumah Galuh. Niga sedang menunggu di depan teras rumah itu. Bersamaan dengan itu, ada Andrie juga sedang duduk di sebelahnya. Mereka masih dalam situasi yang sama-sama diam. Kekakuan diantara mereka berdua tercipta. Kondisi itu ibarat mereka berdua dibelenggu rantai besi yang besar. Gunung yang tinggi menjulang seperti pembatasnya. Mereka seperti bersaing untuk mendapatkan seorang putri kerajaan. Siap bertarung dan mati- matian mempertaruhkan nyawanya.


Di dalam kamarnya, Galuh di bujuk oleh Winda dan juga Bang Hendra supaya menjumpai kedua pria yang menunggunya di teras rumah. Galuh terlihat kebingungan, kenapa dua pria yang sama-sama mengisi hati nya itu, bersamaan berkunjung ke rumahnya.


Bang Hendra terlihat tertawa terbahak- bahak melihat Galuh yang tampak kebingungan dan cemas. Winda pun ikut cengar-cengir dengan kondisi tersebut.


" Puas yah, kalian melihat aku dalam situasi seperti ini. Aku harus bagaimana dong? Mereka kalau berantem, bagaimana?" ucap Galuh khawatir.


" Weleh! Mereka laki-laki dewasa, sahabat ku sayang. Tidak mungkin berantem seperti anak kecil yang memperebutkan mainannya." jawab Winda.


" Mudah saja! Masing-masing kasih senjata pisau dapur dan celurit. Kamu bisa melihat mereka berantem memperebutkan kamu, Luh. Yang menang, otomatis akan mendapatkan kamu." sahut Bang Hendra sambil terkekeh.


" Sadis banget, Abang ini! Bang Hendra, tolong bawa Andrie pergi saja dulu. Ajak kemana, gitu." kata Galuh memohon.


" Ngatur sekali, adikku ini!" sahut Bang Hendra.


" Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Galuh.


" Ya sudahlah! Temui mereka berdua. Ribet amat sih!" jawab Hendra.


" Ya sudahlah! Aku keluar dulu!" kata Galuh yang enggan melangkah keluar dari kamarnya untuk menjumpai dua pria yang menunggunya di teras.


Winda dan Hendra saling pandang dan tersenyum. Winda dan Hendra mengikuti Galuh yang berjalan keluar kamar.


" Kita duduk di sini saja, Win!" ajak Hendra setelah sampai diruang tengah lalu mendudukkan pantatnya di sofa yang empuk itu. Winda pun menuruti perintah Hendra duduk di ruang tamu tersebut.


" Apakah kamu pernah mengalami situasi seperti ini, Win?" tanya Hendra kepada Winda.


" Situasi yang mana?" tanya Winda yang sedang tidak fokus.


" Astaga naga! Situasi didatangi dua pria yang menyukai kamu, sekaligus ke rumah kamu." jawab Hendra.


" Oh! Tidak pernah! Lagi pula, saya bukan primadona. Tidak banyak laki- laki yang menyukai saya." kata Winda.

__ADS_1


" Kamu terlalu cuek! Pria manapun menjadi takut jika hendak mendekati kamu." sahut Hendra.


Winda tersenyum saja, mendengar Hendra menilai dirinya seperti itu.


*******


Di teras depan rumah itu, situasi terlihat penuh keheningan. Untuk beberapa menit belum ada yang memulai berbicara. Galuh yang masih terlihat lemas karena imun nya yang menurun hanya memandang dua laki-laki itu saling bergantian. Keduanya sama-sama perokok, dan sama- sama sedang menghisap rokok kesukaannya masing-masing.


" Aku pulang saja, Luh!" kata Andrie sambil berdiri dari duduknya.


Galuh berusaha menahan Andrie yang berpamitan mau kembali pulang.


" Lain kali aku kesini lagi." tambah Andrie dengan ekspresi yang tidak ada bagus-bagus nya.


Niga hanya menatap Andrie yang hendak pulang itu.


" Bro! Aku cabut dulu. Kasihan Galuh, terlihat bimbang ketika kita berdua bersamaan menjenguk nya." kata Andrie berusaha bersikap bersahabat Dengan Niga.


" Eh?? Tidak kok! Aku biasa- biasa saja kok. Cuman kepalaku masih sedikit pening, jadi malas untuk duduk seperti ini. Maunya tiduran saja." sahut Galuh.


" Ya sudah! Kamu masuk saja ke dalam. Biar kami sama-sama pulang." kata Andrie sambil menatap Niga, mengisyaratkan untuk menyuruhnya pulang juga.


" Eh??" Galuh terkejut sambil melihat Niga. Niga hanya diam sambil tersenyum.


Andrie yang mendengar Niga berkata begitu kepada Galuh semakin mendidih kepalanya.


" Kalau begitu aku tidak jadi pulang!" Sahut Andrie.


Niga yang melihat Andrie mengurungkan niatnya untuk pulang, jadi tersenyum. Andrie akhirnya duduk kembali di kursinya.


Galuh hanya menghela nafasnya. Ditatapnya dua pria itu yang sama-sama keras kepalanya.


" Kamu masuk saja, sayang! Katanya kepala kamu pusing." kata Niga yang sengaja mengatakan kata sayang itu kepada Galuh.


Andrie yang mendengar nya mendadak membulat bola matanya.


" Kalau aku masuk ke dalam, kalian berdua ngapain disini? Apakah tidak lebih baik kalian semua pulang saja. Eh maaf!" ucap Galuh sambil melihat kedua pria itu saling bergantian.


" Hadeuh! Kenapa jadi ribet gini sih? Sebenarnya yang kamu anggap kekasih kamu siapa, sih?" sahut Andrie mulai emosi.


Galuh hanya diam dan menundukkan kepala.


" Aku pamit masuk kedalam yah!" kata Galuh akhirnya.

__ADS_1


" Kalau begitu aku juga pulang. Kamu istirahat saja ya sayang!" kata Andrie akhirnya sambil berdiri dan lalu bergegas melangkah menuju mobilnya. Galuh akhirnya mengiringi Andrie pergi sampai masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya sampai meninggalkan rumah itu.


Galuh kembali berjalan melewati teras rumah itu sebelum masuk kedalam rumahnya.


" Selamat istirahat ya, sayang! Cepat sembuh." ucap Niga sambil tersenyum.


" Eh?? Kamu tidak apa-apa saya tinggal sendirian disini?" tanya Galuh yang sudah di dekat pintu utama dengan posisi berdiri.


" Tidak apa-apa! Aku cukup tenang bisa menjaga kamu walaupun dari kejauhan. Mimpi indah yah, sayang!" ucap Niga serius.


Galuh menjadi mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumah. Kini pantatnya kembali ia dudukkan di kursi teras itu. Jantungnya mulai berdetak dengan cepat.


" Kamu kangen aku yah, sampai sakit seperti itu." ucap Niga sambil nyengir.


Galuh hanya diam mencoba tenang sambil menikmati wajah milik Niga.


" Eh? Ada apa dengan wajah aku? Kamu lihat aku sampai tidak berkedip loh, Say." sahut Niga.


" Kamu kenapa kemari?" tanya Galuh akhirnya.


" Karena aku kepikiran kamu. Karena aku sangat merindukanmu. Karena aku tidak rela, kamu memilih laki- laki tadi dibanding aku, jika di hati kamu masih menyukai aku. Aku ingin kamu menjadi milik ku kembali." jawab Niga serius.


Galuh hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


" Katakan padaku! Katakan kalau kamu tidak menginginkan aku disini. Katakan kalau kamu tidak mengharapkan aku menemui kamu disini. Katakan kalau kamu sudah tidak lagi merindukan aku. Katakan kalau kamu tidak mencintai ku." kata Niga bak penyair yang mendadak menjadi budak cinta.


" Aku ingin mendengar semua dari kamu. Setelah itu, aku akan pulang dan menyerah kalah. Aku tidak akan kembali mengejar mu lagi." tambah Niga.


Untuk beberapa saat Galuh hanya terdiam sambil meresapi tatapan Niga yang penuh kasih sayang dan kerinduan yang dalam. Betapa dirinya saat ini menahan gejolak kerinduan dengan Niga. Walaupun sudah menjalin hubungan dengan Andrie tetapi di hatinya tidak bisa dibohongi. Saat ini, dirinya begitu merindukan laki-laki di dekatnya itu.


" Kamu tidak bisa menjawab nya atau takut untuk mengatakan bahwa kamu sudah memilih Andrie? Sudah tidak ada sisa namaku lagi di hati kamu?" ucap Niga.


Cukup lama Galuh diam sambil memijit sendiri pelipisnya.


" Sudahlah! Kamu harus istirahat! Aku akan pulang! Aku sudah mendapatkan jawabannya." kata Niga sambil berdiri dan memberanikan diri mengusap puncak kepala milik Galuh.


"Jangan pulang!" sahut Galuh sambil meraih tangan milik Niga yang sedang mengusap kepalanya.


Niga hanya menatap Galuh dan kini senyum Niga mengembang.


" Katakan! Kalau kamu juga merindukan aku!" suruh Niga dengan sedikit memaksa.


"Iya! Aku juga merindukan kamu, Mas!" jawab Galuh terlihat merona wajahnya.

__ADS_1


Niga semakin tersenyum lebar. Hatinya penuh kemenangan.


__ADS_2