
Awan berarak membentuk suatu gugusan. Gunung menjulang membentuk kerucut. Semua menjalankan tugas nya sesuai titah Nya. Aku dan kamu punya peranan di semesta ini. Raih sukses itu tanpa menjatuhkan kawan. Naiklah ke atas tanpa menjengkali teman. Berkarya lah dan buat inovasi dan kreativitas yang bisa diterima khalayak sesuai sasaran. Tetap fokus dan konsentrasi untuk mencapai mimpi - mimpimu dan sesekali tengoklah kebelakang agar kita selalu berbenah.
*******
" Intan!" panggil Winda setelah mulai dekat dengan Intan yang masih duduk di kursi makan.
Winda mulai duduk di samping Winda. Pandangan Winda masih tertuju pada Intan yang masih menyantap makanan yang sudah ada di atas piringnya. Intan masih cuek dan diam tanpa memberi sahutan dari panggilan Winda, kakak iparnya itu.
" Besok pagi ada janji dengan klien. Mbak Winda, harus ikut mendampingi aku. Setidaknya, mbak harus mulai aktif di perusahaan milik keluarga kita. Jangan lagi menyibukkan diri dengan usaha-usaha milik pria yang datang tadi." kata Intan ketus sambil menatap tajam ke arah kakak iparnya itu.
Winda mulai menciut, harus berkata apa kepada Intan. Memang kenyataannya selama ini, Winda malah lebih fokus di perusahaan milik Hendra sehingga urusan perusahaan milik keluarga Hartono lebih Intan lah yang memegang semuanya.
" Setelah pertemuan dengan beberapa klien, kita ke makam mas Surya. Apakah Mbak Winda sudah lupa dengan Mas Surya?" ucap Intan jutek.
Winda mulai menatap ke arah Intan. Pandangan nya mulai tajam. Sorot matanya tiba-tiba ingin menerkam Intan yang berucap dan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di hati Winda. Lalu untuk beberapa saat, mata Winda itupun mulai berkaca-kaca.
" Tentu saja aku tidak akan pernah lupa dan melupakan, Mas Surya." sahut Winda dengan suara yang bergetar.
" Lalu kenapa, Mbak Winda sudah jalan dengan pria lain? Seolah, Mbak Winda sudah melupakan Mas Surya. Secepat itukah, Mbak Winda menghilangkan Mas Surya? Belum ada dua tahun loh Mbak?"
" Intan!" panggil Winda lirih.
Pandangan Winda seperti memohon dan ingin Intan segera paham dan memahami dirinya. Bahwasanya, Winda juga butuh kawan dan sahabat yang bisa mengerti dan memahami dirinya. Winda juga perlu seseorang yang bisa memberikan cinta yang tulus terhadap dirinya. Bisa memberikan kebahagiaan dalam hatinya dan selalu menjaga hati itu dengan nama seseorang yang Winda cintai.
" Kenapa Mbak?" tanya Intan yang berani menatap mata kakak iparnya itu.
" Mbak Winda jangan menunjukkan rasa sedih itu. Kenyataannya memang, Mbak Winda sudah melupakan, Mas Surya bukan? Pasti sebentar lagi, pria itu mengajak menikah dengan Mbak Winda, bukan?" kata Intan.
" Tapi, apakah aku tidak boleh bahagia Intan? Apakah aku harus terpuruk dan meratapi kesedihan itu, dari kehilangan suami aku. Ayah dari anakku, Intan?" sahut Winda.
" Hah? Silahkan! Silahkan saja! Carilah kebahagiaan itu, Mbak. Tapi asal, Mbak tahu, aku sungguh sudah muak ketika Mbak Winda jalan dengan pria itu." kata Intan jujur.
__ADS_1
" Tapi kenapa Intan? Apa kamu tidak setuju jika aku menjalin hubungan yang lebih dengan Bang Hendra?" tanya Winda.
" Iya!" jawab Intan singkat.
" Apa alasannya, Intan?" tanya Winda.
" Karena dia kakak dari wanita yang sudah merebut kekasihku. Cukup jelas bukan?" jawan Intan akhirnya.
" Galuh? Jadi kamu menyukai Mas Niga?" tebak Winda akhirnya.
Winda mulai mengerti kenapa Intan lebih tidak menyetujui hubungan nya dengan Hendra ketika Intan menganggap, bahwa Galuh lah penyebab cinta nya hancur dan tidak terwujud bersama Niga. Sedangkan Galuh adalah adik dari Bang Hendra.
" Lalu kenapa semua itu dikait-kaitkan, dengan Bang Hendra dan hubungan kami?" pikir Winda sambil menatap wajah Intan dan berusaha memaklumi emosi Intan yang saat ini meledak-ledak.
" Intan! Kita ke tempat mama dan papa yuk!" ajak Winda akhirnya.
" Gak mau! Hari ini aku mau di rumah saja. Besok bangun pagi, dan jangan lupa ya Mbak! Besok Mbak Winda harus ikut dan gabung di meeting bersama klien. Jangan sampai tidak!" kata Intan.
" Baiklah!" jawab Winda akhirnya dengan lemah lembut nya.
*******
Winda mulai berbaring setelah, dilihat nya Wisnu anak laki-lakinya sudah tertidur pulas di kamarnya.
" Bagaimana apanya?" tanya Winda balik tanya.
" Adik ipar kamu!" jawab Bang Hendra akhirnya.
" Tampaknya kita harus secepatnya memperkenalkan Intan dengan kawan- kawan, Abang deh. Terutama kawan yang berjenis kelamin jantan." kata Winda akhirnya.
" Jantan? Memangnya kucing, jenis kelamin jantan? Laki-laki, sayang! Kalau manusia jenis kelaminnya wanita atau pria. Hadeuh!" kata Bang Hendra sambil terkekeh.
" Iya, laki-laki My king." sahut Winda berusaha meralat kata-kata nya yang salah.
__ADS_1
" Sebenarnya ada apa sih?" tanya Bang Hendra akhirnya.
" Intan sebenarnya menyukai Mas Niga. Sedangkan Mas Niga sendiri, sudah dekat dengan Galuh. Mungkin saat ini mereka sudah menjalin hubungan lebih dan ke tahap yang lebih serius." cerita Winda.
" Lalu?" tanya Bang Hendra.
" Bukankah Galuh adalah adik dari Bang Hendra? Jadi Intan tidak menyukai Bang Hendra karena Abang adalah kakak dari Galuh tersebut. Memang itu bukan faktor utamanya, tapi hal tersebut semakin memicu ketidaksetujuan hubungan kita ini, my king." kata Winda serius.
" Oh begitu!" sahut Bang Hendra akhirnya.
" Sayang! Saya cerita serius, Abang malah menanggapinya dengan santai saja." kata Winda.
" Bagi ku ini bukan masalah serius, sayang. Baiklah nanti kita kenalkan Intan dengan kawan- kawan kita di kantor. Agar terlihat lebih natural, nanti kita buat acara makan- makan malam di rumah. Siapa tahu Intan bisa menemukan yang klik dan cocok dengan dirinya." kata Bang Hendra.
" Baiklah! Mana baik nya saja, yank!" sahut Winda.
" Oh iya, bang! Besok pagi ada jadwal meeting di perusahaan konstruksi milik keluarga Hartono. Jadi, Intan ngotot dan bersikeras supaya, saya datang dan hadir di meeting tersebut." kata Winda takut- takut.
" Baiklah! Selesai meeting langsung meluncur ke kantor kita yah!" perintah Bang Hendra.
" Tapi Intan, mengajak saya ke makam, sayang! Dan setelah itu kami akan ke rumah mama dan papa, mertua saya." ucap Winda.
" Tetapi mertua kamu yang baru sudah menunggu juga, sayang." sahut Bang Hendra.
" Siapa?" tanya Winda sambil terkekeh.
" Bu Sundari dan Pak Suyatno! Hehe." jawab Bang Hendra ikut terkekeh dengan menjawab pertanyaan Winda.
" Apakah Abang, benar-benar ingin menikahi saya? Tidakkah lebih baik berpikir seribu kali terlebih dahulu untuk meminang saya? Saya adalah seorang janda, dan tentunya masih banyak gadis- gadis belia yang mau dengan Abang. Apalagi, saya sudah memiliki anak juga. Beli satu dapat dua juga." kata Winda melalui sambungan ponsel itu.
" Bukankah di mall atau di toko- toko yang dicari yang seperti itu, sayang?" jawab Bang Hendra malah terkekeh.
" Kalau dekat, pasti sudah saya cubit Abang ini." sahut Winda akhirnya.
__ADS_1
" Aku pasrah kalau kamu yang nyubit!" ujar Hendra akhirnya.
" Hadeuh!" sahut Winda terkekeh.