
" Kenapa kamu terlihat tidak menyukai Sarwenda, Tan?" tanya Winda seraya melihat - lihat beberapa baju yang tergantung di butik itu.
Intan spontan menatap Winda sambil menghela nafasnya.
" Gimana yah mbk? Tingkahnya bikin eneg saja. Apalagi sejak mbak Winda pindah ke rumah baru, Sarwenda jadi berasa Ratu di rumah kita. Dia selalu ingin mengatur semua orang yang ada di rumah, seperti asisten rumah tangga sampai tukang kebun di rumah kita." cerita Intan.
" Gak tahu juga yah mbak, berasa tidak nyaman saja kalau ada Sarwenda di rumah." tambah Intan.
" Hem pasti ada yang lain juga yah?" tanya Winda menebak.
" Tentu saja! Sebelum Mas Wardha benar- benar angkat kaki dari rumah mama, aku sering melihat diantara mereka terlihat akrab. Terkadang, Mas Wardha sengaja membuat aku cemburu dengan memberikan perhatian yang lebih pada Sarwenda. Yah, walaupun saat itu kami sudah pisah ranjang dan dalam proses perceraian juga. Tapi hal itu semakin membuat aku semakin eneg dengan sikap Sarwenda. Sikapnya semakin membakar emosi diantara kami dan memperkeruh masalah." cerita Intan.
" Eh? Ceritanya kita lanjutkan sambil ngopi saja yuk mbak. Oh iya, mbak Winda suka warna baju ini tidak? Ini akan aku belikan untuk mbak Winda." kata Intan.
" Bagus kok! Apapun pilihan dari kamu, mbak terima dengan senang hati." jawab Winda.
" Hehehe. Mbak Winda ini tidak banyak menuntut yah. Makanya, Mas Surya begitu mencintai Mbak Winda dan takut kehilangan Mbak Winda ketika Mas Surya melakukan kesalahan." ucap Intan.
Winda hanya tersenyum mendengar ucapan dari Intan.
" Kita ke kasir dulu, mbak!" ajak Intan.
Setelah mereka membayar semua baju- baju yang dibelinya di butik itu, mereka berjalan keluar dari tempat itu dan mencari kafetaria yang ada di mall itu. Sampai akhirnya mereka memasuki kafetaria yang tidak terlalu padat pengunjung nya.
" Kita duduk di sudut ruangan itu saja mbak!" kata Intan sambil menunjuk meja yang berada di pojokan kafe itu.
Winda mengikuti Intan dengan pelan.
Intan pun segera memesan beberapa minuman dan makanan ditempat itu setelah pelayan kafe datang menghampiri mereka.
" Pernah suatu malam, aku mencoba mencari Mas Wardha di kamar nya. Tapi Mas Wardha tidak ada di kamarnya. Kami pisah ranjang mbak Winda, Mas Wardha sudah tidak mau satu kamar dengan aku jadi Mas Wardha tidur di kamar yang lain. Tujuanku adalah aku ingin berbicara dengan Mas Wardha baik- baik. Harapan aku yang paling dalam adalah mana tahu hubungan antara kami masih bisa diperbaiki." cerita Intan dan Winda menyimak nya dengan mata yang fokus.
" Lalu? Coba tebak mbak, apa yang sudah aku lihat, mbak?" tambah Intan sambil melotot matanya.
__ADS_1
" Apa Intan?" tanya Winda penasaran.
" Aku melihat Mas Wardha keluar dari kamar Sarwenda." jawab Intan.
" Ngapain Wardha ke kamar Sarwenda?" tanya Winda polos.
" Entahlah!" jawab Intan singkat.
" Apakah Wardha tahu kalau kamu melihat dia keluar dari kamar Sarwenda?" tanya Winda serius.
" Tidak!" jawab Intan.
" Sejak saat itu, tekad aku untuk bercerai dengan Mas Wardha semakin kuat. Dan aku tidak ragu- ragu lagi. Lagi pula, Mas Wardha memang kenyataannya sudah tidak menghendaki aku menjadi istrinya lagi." cerita Intan sambil mengaduk-aduk minumannya setelah minuman dan makanan yang dipesannya sudah disajikan oleh pelayan kafe itu.
" Haduh! Ada hubungan apa antara Sarwenda dengan Wardha yah?" kata Winda sambil menelaah cerita dari Intan.
" Entahlah mbak! Setelah itu, aku mulai membaca gerak- gerik diantara mereka ketika sedang duduk di meja makan bersama-sama kami. Tatapan Mas Wardha terhadap Sarwenda terlihat lain." cerita Intan.
" Iya! Aku rasa diantara mereka memang ada sesuatu yang tidak beres dan ada yang disembunyikan." jawab Intan.
" Kamu cemburu tidak?" tanya Winda terkesan pertanyaan yang konyol.
" Hahaha! Aku kan istrinya Mas Wardha mbak. Aku dari dulu memang benar- benar mencintai Mas Wardha dengan tulus. Sebenarnya aku tidak ingin bercerai dengan Mas Wardha tapi apa boleh buat. Mas Wardha menginginkan perceraian ini. Apakah aku harus mengemis cinta padanya?" ucap Intan yang terlihat muram wajahnya.
" Ternyata Mas Warda tidak benar-benar mencintai aku. Dia hanya ingin merasakan kehidupan yang lebih baik di keluarga kita. Diam- diam Mas Wardha sudah memiliki dan membeli beberapa properti sebelum dia menggugat cerai dengan aku. Ketika Dia merasa cukup dengan apa yang sudah dia dapatkan, dia menyudahinya. Dia bilang, wanita yang dicintainya bukanlah aku, mbak. Mas Wardha ingin mengejar cinta nya dengan wanita yang dia cintai. Itu katanya, dan sudah dia sampaikan kepadaku ketika hendak pergi meninggalkan rumah mama." cerita Intan dengan wajah yang sendu.
" Lebih baik mengetahui sekarang, Intan. Daripada Wardha hanya berpura- pura mencintai kamu dan ternyata tidak. Lagi pula, kamu masih muda dan sangat cantik. Laki-laki mana yang tidak menyukai kamu?" ujar Winda.
" Nyatanya ada, dia adalah Mas Wardha. Hahaha!" jawab Intan dengan tawanya yang sinis.
" Itu lantaran, Wardha tidak bersyukur saja." sahut Winda sambil meminum minuman nya.
" Saat ini aku hanya ingin fokus saja dengan kerjaan aku, mbak." kata Intan sambil tersenyum.
__ADS_1
" Oh ya? Bagaimana enak tidak kerja di perusahaan konstruksi keluarga kita?" tanya Winda.
" Dibilang enak tapi tidak seenak pisang coklat ini. Tapi dibilang gak enak tapi memang rasanya enak juga karena banyak duitnya... hahaha." jawab Intan asal.
" Karena aku ikut terjun di lapangan, aku jadi bisa melihat. Selama ini banyak kecurangan- kecurangan dan korupsi yang dijalankan oleh Mas Wardha. Seharusnya bahan yang digunakan adalah nomer satu atau premium, ini dibelanjakan dengan bahan murah yang kwalitasnya tidak bisa dijamin. Hal ini merugikan klien kita bukan? Kepercayaan klien terhadap perusahaan konstruksi kita jadi berkurang. Seharusnya bangunan bisa bertahan sepuluh tahun tapi kenyataannya cuma bisa bertahan lima tahun saja. Itu contoh saja, Mbak. Hehe.." cerita Intan panjang lebar.
" Hadeuh pusing, mbak! Jangan cerita proyek! Mbak tidak paham... Haha." sahut Winda.
" Habis ini kita kemana lagi,mbak?" tanya Intan.
" Pulang sajalah!" jawab Winda cepat.
" Tidak perlu buru-buru, lagi pula belum beli baju untuk Wisnu. Si gembul itu perlu baju loh mbak.. Haha. Badannya sudah mulai montok." kata Intan sambil tersenyum.
" Hadeuh Tante yang baik terhadap keponakan! Jadi terharu, mbak. Hehehe." sahut Winda.
" Weleh!" ujar Intan sambil membuang muka.
"Hehehe." Winda tersenyum manis.
" Menurut mbak Winda, anak siapa yang ada di dalam perut Sarwenda itu mbak?" tanya Intan yang tersimpan kecurigaan.
" Aku kok tidak yakin, kalau itu anak Mas Surya loh Mbak." tambah Intan.
" Tidak tahu juga, Intan. Kita tunggu saja, kebenarannya. Setelah Sarwenda melahirkan anaknya, kita cepat atau lambat akan mengetahuinya siapa ayah dari bayi itu." ucap Winda penuh percaya diri.
" Mbak Winda kok tidak ada khawatir nya sih? Bagaimana jika terbukti itu anak Mas Surya?" tanya Intan penasaran dengan reaksi kakak iparnya itu dari pertanyaan nya.
" Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Jika bayi itu benar-benar anak Mas Surya, aku pun harus menerima semuanya dengan lapang dada. Lagi pula, bayi itu tidak bersalah kenapa harus ikut menjadi korban kebencian kita." jawab Winda dengan senyum getirnya.
" Jangan khawatir, mbak. Seratus persen aku percaya dengan Mas Surya. Mbak Winda, harus percaya dengan cerita yang disampaikan oleh Mas Surya kalau anak yang dikandung oleh Sarwenda bukanlah anak Mas Surya." kata Intan berusaha membuat tenang kakak iparnya.
" Amin! Semoga saja, Tan!" sahut Winda.
__ADS_1