Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
HERIKA


__ADS_3

" Mbak Winda pesan apa? Biar aku yang bayari." kata Intan yang kini mereka sudah duduk di kursi tempat makan di pusat perbelanjaan itu.


" Hem." gumam Winda sambil membaca daftar menu yang tertera di sana.


" Juz mangga, iga bakar dan sup buntut aja." kata Winda.


" Hehehe. Aku salad buah saja lah. Masih malas makan berat." sahut Intan sambil menatap pelayan di rumah makan tersebut. Dengan cepat pelayan itu bergegas menyampaikan daftar pesanan itu pada petugas di bagian penyajian.


" Winda! Eh kamu Winda bukan?" panggil seorang laki-laki yang tiba-tiba menghampiri ke arah Winda dan Intan sambil mengulurkan tangannya.


" Eh? Maaf siapa yah?" kata Winda lirih takut menyinggung perasaan dari laki-laki tersebut yang merasa mengenali Winda. Sedangkan Winda sendiri masih mengingat- ingat, siapa gerangan laki-laki yang menegurnya.


Laki-laki itu dengan santainya duduk di kursi yang masih kosong di dekat Winda. Mata Intan makin membelalak menatap ketidak sopanan dari laki-laki tersebut.

__ADS_1


" Eh maaf! Saya kawan Winda di kampus dulu. Namaku Herika." kata laki-laki itu yang sempat melihat ketidaknyamanan Intan karena kehadiran nya ikut gabung di meja itu.


" Oh iya, Herika! Maaf aku sempat lupa. Maaf yah, soalnya penampilan kamu makin oke aja. Ups eh?" sahut Winda keceplosan yang menimbulkan mata Intan makin membulat.


" Berapa laki-laki dekat yang dikenal, mbak Winda sih, semua laki-laki kok semuanya terlihat berpenampilan maco, keren, dan dari baju,sepatu yang dikenakan bukanlah barang murahan. Bikin iri saja." batin Intan sambil memperhatikan Herika dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Herika yang merasa diperhatikan Intan terlihat cuek saja. Herika malah semakin memperhatikan Winda yang masih terlihat santai saja. Akhirnya pelayan dari rumah makan itupun datang dengan membawa pesanan dari Winda dan Intan.


" Terima, mbak!" kata Winda sambil mengambil gelasnya yang berisikan juz mangga pesanan nya. Sedangkan Intan sudah sibuk mengaduk salad buahnya.


" Barusan aku sudah selesai makan dan minum. Tadi aku duduk di sudut itu. Lalu dari jauh aku melihat kamu. Dan aku pikir aku mengenali wanita cantik itu. Nyatanya benar. Itu adalah kamu. Winda si cantik bunga kampus, yang dulu pernah aku taksir. " kata Herika tanpa sungkan berbicara seperti. Hal itu menjadikan Intan semakin melihat tajam ke arah laki-laki itu.


" Bertambah lagi nih, penggemar mbk Winda. Apa bagus nya mbk Winda sih. Banyak di idolakan seorang cogan. huh." batin Intan.

__ADS_1


" Winda! Aku boleh minta nomer WA kamu, gak?" tanya Herika.


" Tidak boleh!" jawab tegas Intan sambil melotot tajam ke arah Herika.


Winda hanya diam dan cukup terkejut dengan reaksi dari Intan. Herika hanya nyengir saja melihat Intan yang terlihat kurang bersahabat dengan kehadiran Herika di tengah- tengah mereka.


" Oh iya, kenalkan namaku Herika. Kamu bisa memanggilku Heri." kata Herika sambil mencoba bersahabat dengan Intan dan mengulur kan tangannya mengajak berjabat tangan dengan Intan.


" Tidak penting!" sahut Intan yang tidak membalas uluran tangan dari Herika.


" Eh?" keluh Winda sambil melihat ke arah Intan.


" Asal kamu tahu saja yah, mas. Mbak Winda ini wanita yang sudah beristri dan aku adalah adik iparnya." kata Intan mencoba memblokir jalan aksesnya Herika yang mencoba mengganggu Winda.

__ADS_1


" Eh, begitu yah." sahut Herika sambil garuk- garuk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2