
" Aku tidak mengijinkan kamu meninggalkan perusahaan ku ini, Winda!" kata Hendra serius ketika Winda sudah sampai di kantor dan berada di ruangan Hendra yang ber AC itu.
" Maaf pak! Tetapi kenapa pak, saya mohon biarkan saya ikut membantu mengurus perusahaan milik keluarga saya pak." kata Winda dengan memohon.
" Bukan keluarga kamu, lebih tepatnya keluarga suami kamu." sahut Hendra sinis.
" Eh? Keluarga suami saya, secara otomatis juga sudah menjadi keluarga saya dan bagian hidup saya, Pak Hendra." ucap Winda.
" Oke! Oke! Maafkan saya! Saya terlalu egois dalam hal ini. Baiklah saya beri kelonggaran. Kamu bisa aktif ikut menjalankan bisnis di perusahaan milik keluarga kamu tetapi kamu juga harus bekerja disini bersama aku. Kamu tetap membuat semua laporan perkembangan tiap-tiap cabang dari statistik keuntungan, barang masuk dan keluar, laporan kegiatan aku, dan kamu harus datang ke kantor ini minimal 2 kali dalam seminggu." kata Hendra.
" Astagfirullah!" keluh Winda.
" Astagfirullah? Kamu mengeluh Winda? Kami bisa membuat laporan- laporan itu di rumah atau di tempat kamu kerja di perusahaan milik keluarga kamu." sahut Hendra.
" Tetapi apakah saya mampu pak? Pikiran saya menjadi bercabang dua." sanggah Winda.
" Sanggup tidak?" tantang Winda.
" Baiklah! Saya akan mencobanya pak!" kata Winda akhirnya.
" Kamu bisa, lagi pula aku sangat yakin. Di perusahaan milik keluarga kamu itu, tidak akan memberikan posisi yang membuat kamu berat. Paling kamu hanya duduk-duduk manis dan hanya memantau saja tiap perkembangan transaksi kerjasama antara klien. Kamu hanya Ratu yang duduk saja, sebagai simbol dari kekuatan dan kekuasaan di perusahaan." nilai Hendra kepada Winda.
" Jadi patung Pancoran, istilahnya?" sahut Winda sambil tersenyum kecut.
" Sebenarnya apa yang memberatkan, pak Hendra jika aku meninggalkan perusahaan ini?" tanya Winda penuh selidik.
" Kamu disini, menjadi aku lebih semangat. Tingkat perkembangan dan keuntungan perusahaan semakin meningkat pesat ketika kamu kerja disini. Kamu seperti Dewi Fortuna di perusahaan ku ini, Winda." ungkap Hendra.
" Hah? Apakah tidak ada yang lain yang bisa menggantikan posisi saya pak?" tanya Winda.
" Tidak ada! Kamu sudah ada di hati saya!" kata Hendra serius.
" Maksud Pak Hendra?" tanya Winda sambil membulat matanya.
" Eh tidak! Tidak! Lupakan saja!" sahut Hendra sambil membuang muka karena takut ketahuan merah mukanya karena malu.
" Kalau begitu, kalau tidak ada yang lainnya lagi saya boleh pulang kan Pak?" ucap Winda.
" Tidak! Kamu harus menemani aku setelah jam pulang kantor ini. Ada agenda ketemuan dengan klien yang menawarkan minuman dan makanan kesehatan. Kita lihat bentuk penawaran dan barang yang ditawarkan mereka." ucap Hendra.
" Minuman dan makanan kesehatan?" tanya Winda.
" Iya!" jawab Hendra singkat.
" Duduk santai lah! Aku tidak ingin mendengar keluhan dari kamu kalau kakimu menjadi kram, sejak tadi berdiri saja. Kamu ingin minum apa, biar aku pesankan?" kata Hendra memberi perhatian.
__ADS_1
" Mau juz mangga gak? Aku juga ingin memesan itu." tambah Hendra.
" Terimakasih banyak Pak!" jawab Winda.
" Maksudnya, terimakasih ini, mau tidak juz mangga nya?" tanya Hendra.
" Iya Pak, saya mau!" jawab Winda.
" Nah gitu dong! Jangan banyak basa-basi dengan saya. Saya tidak suka yang muter- muter tidak jelas." ujar Hendra.
" Pak Hendra pun juga suka muter-muter gak jelas." kata Winda pelan.
" Kamu bilang apa?" tanya Hendra yang melihat mulut Winda ngedumel yang tidak jelas.
" Tidak..tidak ada, Pak!" sahut Winda sambil menuju kursi sofa yang terletak di sudut ruangan itu.
*******
" Menurut kamu, minuman dan makanan kesehatan yang ditawarkan klien tadi bisa masuk ke pasaran tidak, Win?" tanya Hendra setelah mereka selesai bertemu dengan klien yang menawarkan produk-produk nya.
" Saya kurang yakin sih pak. Tapi untuk minumannya mungkin bisa kita coba untuk memasukkan ke market- market yang sudah ada." jawab Winda.
" Dalam masa-masa sekarang ini, masyarakat sudah mulai melirik ke bahan- bahan tradisional, seperti jamu- jamu an." tambah Winda.
"Baiklah! Kita akan mencoba menawarkan produk minuman itu kita bantu pemasaran nya." ujar Hendra serius.
" Nanti saja! Jangan khawatir, nanti aku antar kamu sampai di rumah." ucap Hendra sedikit memaksa.
" Kita sedang menunggu apa lagi, sih pak?" tanya Winda mulai gerah.
" Tidak ada! Kamu hanya harus menemani aku saja. Itu adalah bagian dari tugas dan kerjaan kamu." jawab Hendra penuh kemenangan.
" Astaga!" kata Winda sambil menghela nafasnya dengan panjang.
" Kenapa? Kamu kalau lapar, pesan saja makanan. Atau kamu ingin minuman. Pesan saja! Tidak akan aku potong dari gaji kamu kok." kata Hendra sedikit semena- mena.
" Eh, Galuh menelepon!" kata Hendra. Winda hanya dia menatap Hendra dengan jengkel karena belum dikasih untuk pulang.
" Kenapa, adikku sayang? Jangan ngomel- ngomel tidak jelas!" kata Hendra setelah menerima panggilan masuk di ponselnya.
" Bang Hendra! Kapan sampai rumah? Aku lagi sibuk loh Bang. Aku tidak mungkin menemani Mbak Yuslita terus." keluh Galuh.
" Ngapain ditemani? Dia loh sudah besar. Suruh saja dia pulang! Membuat tidak nyaman dan malas saja kalau mau pulang ke rumah." sahut Hendra sinis.
" Dia belum mau pulang sebelum berpamitan dengan Bang Hendra." kata Galuh.
__ADS_1
" Haduh! Aku lagi bahagia nih, jangan suka mengganggu kesenangan aku." kata Hendra sambil melirik ke arah Winda. Sedangkan yang dilirik, orangnya lagi sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Memang nya Bang Hendra sedang dengan siapa?" tanya Galuh.
" Dengan Winda nih!" jawab Bang Hendra.
" Oh ya? Dimana? Aku ke sana ya bang?" kata Galuh antusias.
" Katamu kamu sibuk?" tanya Hendra.
" Aku jadi sibuk jika harus mengurusi mantan Bang Hendra itu. Menyebalkan sekali." sahut Galuh.
" Katanya kamu akan membantu kesulitannya?" goda Hendra.
" Iya sih tapi jadi risih juga kalau dia seperti itu." jawab Galuh.
" Maksud nya apa?" tanya Hendra.
" Mbak Yuslita ingin supaya dibantu masuk di perusahaan Bang Hendra. Supaya bisa dekat lagi dengan Bang Hendra." cerita Galuh.
" Lalu apa jawaban kamu?" tanya Hendra.
" Aku bilang, bukan kuasaku memberikan wewenang memasukkan orang untuk bekerja ditempat bang Hendra." jawab Galuh.
" Baguslah! Asal kamu tahu, Abang sudah tidak menyukai Yuslita." kata Hendra.
" Yang benar! Nyatanya Bang Hendra belum juga menikah- menikah dan punya pacar." sahut Galuh.
" Memangnya nyari pacar atau istri bisa di beli di mall?" ucap Hendra.
" Bang Hendra! Tunggu aku. Aku Otw ke sana ya." kata Galuh.
" Baiklah! Aku tungguin. Nanti aku kirim lokasinya." sahut Hendra semangat. Paling tidak akan lebih berlama-lama dengan Winda dan ini bisa menjadi alasan yang masuk akal kalau Galuh akan datang menyusul.
" Winda!" panggil Hendra.
" Iya pak!" sahut Winda.
" Galuh dalam perjalanan kemari. Kita bisa menunggu nya bukan?" kata Hendra.
" Ya ampun! Lama lagi dong di tempat ini." keluh Winda.
" Atau kalau kamu bosan, bisa kita jalan- jalan dulu. Aku temani kamu. Eh aku traktir kamu deh. Kamu mau belanja baju, tas atau apa aja, aku bayarin?" kata Hendra dengan sombongnya.
" Ti...tidak perlu, Pak Hendra." jawab Winda sambil membuat matanya.
__ADS_1
" Pak Hendra ini, sebenarnya apa yang dia inginkan?" batin Winda sambil melihat ke arah Hendra.