Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 44)


__ADS_3

" Bagaimana dokter? Bagaimana keadaan papa kami?" tanya Siwa.


" Pak Wardhana kembali mengalami stroke yang kedua. Hal ini lebih buruk dari sebelumnya. Kemungkinan untuk pilih akan semakin kecil. Tetapi jika semua diupayakan dengan ikhtiar yang benar-benar, kemungkinan bisa pulih pun bisa terjadi. Pak Wardhana harus kembali melakukan terapis secara inten disertai pengobatan secara kontinu. Semangat untuk sembuh bisa mempengaruhi kesembuhan si pasien." terang dokter itu panjang lebar. Siwa dan semua yang berada di sana seketika sedih mendengar penjelasan dari dokter Robert.


" Terimakasih dokter atas penjelasan nya." sahut Siwa.


" Baiklah! Resep obatnya bisa ditebus di apotik ya, Siwa! Dan saya permisi pulang. Jika ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi saya." ucap dokter Robert. Siwa mengantarkan kepergian dokter Robert sampai di depan rumah itu.


" Papa!" gumam Dahlia sambil memeluk papanya, Wardhana. Dahlia kembali menangis melihat papa nya yang saat ini kondisinya tidak berdaya.

__ADS_1


Arsyil ikut mendekati Dahlia. Dalam hal ini Arsyil sangat merasa bersalah sekali. Betapa tidak? Mungkin saja papanya, Wardhana menjadi kepikiran atas kelakuan dan penyimpangan yang dilakukan oleh Arsyil. Arsyil ikut menangis. Dahlia yang melihat Arsyil menangis lalu meraih tangan adiknya itu dengan penuh kelembutan.


Rosiana dan Siwa masih berdiri mematung melihat pemandangan itu. Dalam benak Rosiana, Rosiana tidak pernah menyangka setelah Wardhana mulai bercerai dengan Sarwenda mengalami serangan stroke yang tiba-tiba. Bahkan saat ini kondisi Wardhana lebih parah dibandingkan sebelumnya. Wardhana benar-benar tergantung dengan orang-orang didekat nya, dari mandi, makan, minum, buang air besar, mengganti pakaian nya. Wardhana sudah kesulitan jika melakukannya sendiri.


Wardhana menatap orang-orang di dekatnya. Wardhana merasa sangat bersalah dengan kondisi dan penyakitnya. Dia seperti hidup namun tidak mampu berbuat apa-apa. Ini seperti hidup segan mati tidak mau. Semangat itu berangsur-angsur mulai meredup. Tidak seperti sebelumnya yang masih bersemangat untuk kembali pulih dan sehat. Rosiana mendekati suaminya itu.


" Cepat sehat, mas! Aku akan selalu menemani kamu. Kamu harus tetap semangat untuk pulih. Bukankah kamu ingin melihat anak- anak kita menikah bersama pasangan hidupnya. Dan juga kita akan menimang cucu dari anak-anak kita. Jangan putus asa yah, mas!" ucap Rosiana. Wardhana mengedipkan matanya dan mengangguk pelan. Wardhana ingin tetap tersenyum. Dahlia mengusap air liur yang menetes di sudut bibir milik papa nya. Wardhana seperti sudah malas berucap. Lidahnya seperti kelu dan susah di gerakan.


"Papa harus menjalani terapi dan pengobatan baik medis maupun pengobatan tradisional. Papa pasti bisa pulih, jika papa dan kita semangat." kata Dahlia sambil mengusap dengan lembut punggung tangan milik papanya itu, Wardhana.

__ADS_1


" Mulai besok, papa akan menjalani terapi." sahut Siwa.


" Apakah terapisnya sama dengan yang mengobati mama Sarwenda?" tanya Arsyil.


" Iya! Nanti kakak akan bertanya dengan mama Sarwenda kontak terapis itu supaya secepatnya menangani papa besok. Papa harus sembuh dah kembali pulih." ucap Siwa. Rosiana tersenyum senang.


" Terimakasih banyak, Anak-anak mama! Kalian sungguh anak-anak yang perhatian dan menyayangi orang tua. Di saat seperti ini, kalian masih perduli dengan kami." sahut Rosiana.


" Mama Rosiana, bicara apa sih? Kami tentu perduli dengan papa Wardhana dan juga mama Rosiana.Arsyil pun demikian halnya kami sayangi karena Arsyil adik kami yang harus selalu kami sayang." ucap Dahlia. Arsyil dan juga Rosiana tersenyum bahagia.

__ADS_1


" Terimakasih kakak!" sahut Arsyil memeluk kakaknya, Dahlia.


__ADS_2