Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 8)


__ADS_3

Rencana pernikahan Winda dengan Haidar sudah mulai serius dibicarakan dari keluarga besar. Keluarga besar Winda sendiri, keluarga besar dari mertua atau keluarga Pak Hartono yang sudah menganggap Winda sebagai anak sendiri dan keluarga besar dari Haidar.


Rencana pernikahan Winda dan Haidar akan digelar cukup meriah mengingat Haidar adalah putra tunggal di keluarganya. Bagi Winda sendiri sebenarnya tidak menginginkan acara pernikahannya yang kedua diselenggarakan secara besar dan mewah. Mengingat usianya kini sudah tidak lagi muda.


Seperti saat ini percakapan Winda dan Haidar di sore hari ini.


" Mas, kamu yakin akan menikahi aku mas?" tanya Winda mulai ragu. Haidar yang mendengar ucapan Winda jadi geregetan pada Winda.


" Winda sayang! Aku sudah menunggu kamu lama, Winda. Apakah kamu masih saja ragu akan keseriusan aku ini, hum?"sahut Haidar.


" Bukan! Bukan itu yang jadi masalahnya. Usia aku saat ini sudah terbilang tidak muda lagi. Kamu tahu kan, usia aku sudah kepala empat, dan kamu sebenarnya bisa mendapatkan wanita muda yang lebih segar dan bisa memberikan kamu keturunan yang banyak nantinya. Sedangkan aku, kemungkinan memiliki anak tidak seperti wanita yang masih usia muda yang produktif." kata Winda panjang lebar.


" Baik wanita muda maupun sudah berumur kalau Tuhan belum menghendaki memberikan amanah seorang janin di dalam rahim wanita itu, semua tidak akan terjadi dan terwujud untuk melahirkan anak." ucap Haidar akhirnya. Winda hanya berdiam.


" Jadi tidak perlu mencari alasan lagi kalau akan menimbulkan keraguan hati kamu untuk keputusan besar ini. Yang penting kamu memiliki niatan menjadikan aku imam kamu yang akan membimbing kamu dalam segala hal. Demikian juga hal nya aku menjadikan kamu makmum ku yang saling mengingatkan juga ketika aku keliru dalam melakukan tindakan." kata Haidar.


Keduanya kembali terdiam dan sama- sama menikmati cuaca cerah sore itu. Namun sejak tadi kedua tangan mereka saling bertautan. Mereka terlihat tidak ingin terpisahkan.


" Sore- sore gini enaknya makan apa yah?" tanya Winda.


" Kamu ingin makan apa? Aku ikut aja deh." jawab Haidar.


" Suka bakso atau mie ayam tidak?" tanya Winda.


" Hahaha itu menu andalan kamu, Winda! Kamu selalu mencari menu itu kalau lagi pengen pedas kan? Tapi aku belum bisa makan- makan yang pedas loh sayang." kata Haidar.


" Iya! Mau cari bubur ayam nggak?. Aku juga lagi pingin nih!" kata Winda.


" Beneran? Tumben tidak lagi pingin makan mie ayam atau bakso." sahut Haidar.


" Enggak enak jika aku makan itu sendiri sedang kamu tidak makan itu saat ini, yah kan? " kata Winda.


"Kamu kalau lagi pingin makan mie ayam atau bakso, ayolah aku temani." ajak Haidar.


" Tidak usah! Kita makan bubur ayam saja biar kita sama- sama makan bubur ayam saja." kata Winda.

__ADS_1


" Baiklah, ayo!" ajak Haidar.


*******


Setiap pasangan masing-masing memiliki kekurangan nya. Bagaimana dari kekurangan itu bisa saling melengkapi dari kelebihan pasangan hingga terjalin kesempurnaan. Saling mengimbangi dan pengertian satu dengan yang lain. Jika yang satu sedang menjadi api pasangan nya harus bisa menjadi air. Jika yang satu keras seperti batu es, pasangan nya harus bisa mencairkannya dan menghangatkan.


" Bukankah itu Bang Hendra, sayang!" kata Haidar sambil menoel pinggang Winda. Mereka saat ini sedang di warung kecil yang menjual bubur ayam.


" Di mana?" tanya Winda sambil melihat ke arah luar warung bubur ayam itu.


" Di seberang jalan, dia sudah masuk ke mini market itu." terang Haidar dan mata Winda mengikuti petunjuk dari Haidar.


" Sama siapa, mas?" tanya Winda penasaran.


" Kelihatan nya sama istrinya." jawab Haidar.


" Oh, syukurlah kalau sedang dengan istrinya. Kalau dengan wanita lain kan bisa heboh kan kita?" sahut Winda sambil menikmati bubur ayam yang sudah ada di depan nya.


" Kita? Aku engga kok! Kalau itu terjadi juga bukan urusan kita loh sayang!" ucap Haidar dan Winda mendengar ucapan Haidar jadi berhenti menyuap bubur ayam di mulutnya.


" Hem, apakah kamu sudah tidak ada perasaan sama sekali dengan Bang Hendra, yank?" tanya Haidar usil.


" Eh? Mas Haidar ini loh!" sahut Winda sambil cemberut.


" Aku kan hanya bertanya saja, yank!" kata Haidar sambil tersenyum, Winda melirik balik ke arah Haidar.


" Kompetisi untuk mendapatkan kamu berat karena saingan nya banyak dan lebih dari dua orang. Karena yang hendak di dekati sudah beku seperti es dan susah mencairnya, akhirnya satu persatu angkat tangan dan mengaku kalah. Dan hanya aku yang sanggup bertahan menunggu sampai batu es itu mencair." kata Haidar dengan sindiran nya, Winda menjadi nyengir kuda.


"Itu artinya kamu is the best bagi aku. Jadi jangan lagi diungkit orang-orang yang pernah didekat aku. Oke?" ucap Winda sambil menyuapi bubur ayam mangkok milik Haidar yang sudah lama meronta- ronta ingin segera dieksekusi ke mulut Haidar. Haidar membuka mulutnya ketika suapan itu mendekati mulutnya.


" Enak kan?" tanya Winda sambil tersenyum.


" Jadi aku is the best yah?" tanya Haidar.


" Tentu saja!" jawab Winda.

__ADS_1


" Katakan padaku, I love you!" kata Haidar.


" Ogah! Nanti saja! Kamu makan bubur ayam dulu." ucap Winda sambil kembali menyuapi bubur ayam itu ke mulut Haidar. Haidar tidak menolak nya.


" Bubur ayam ini habis, kamu harus bilang I love you padaku yah, yank!" rengek Haidar.


" Ihh maksa banget loh!" sahut Winda kembali menyuapi bubur ayam itu ke mulut Haidar sampai tinggal sedikit lagi.


" Kamu harus dipaksa makan, mas! Walaupun kamu masih tidak berselera makan. Jangan sampai sakit kembali." kata Winda mulai cerewet.


" Aku kalau di suapi kamu, jadi bersemangat makan nya, yank!" kata Haidar.


" Iya nanti aku suapi kamu." sahut Winda perhatian.


" Kamu semakin hari semakin cantik saja, Yank!" goda Haidar.


" Kamu juga semakin hari semakin..... semakin gombalnya!" sahut Winda dan keduanya jadi cekikikan.


" Eh itu dia bang Hendra, yank. Itu yang membawa tas belanjaan dari mini market dan sebelah nya wanita yang cukup cantik juga." nilai Haidar tanpa berkedip dan Winda mencubit pinggang milik Haidar.


" Istrinya cantik yah?" sindir Winda. Haidar jadi tersenyum lalu melirik ke arah Winda.


" Kalau dengan kamu sangat beda jauh! Kamu tetap yang paling cantik bagi aku." sahut Haidar yang tidak ingin bibir Winda menjadi manyun.


Winda mulai membersihkan mulut Haidar dengan tisu setelah bubur yang di mangkok nya habis tak tersisa karena disuapin oleh Winda.


" Terimakasih, Yank! Kini saatnya aku harus mendengar ungkapan cinta itu dari mulut kamu." kata Haidar sambil menunggu Winda mengucapkan kata I love you itu.


Cukup lama mereka terdiam, Winda sudah menahan tawanya karena ekspresi Haidar benar-benar serius menunggu dirinya mengucapkan kalimat itu.


" Nanti saja di rumah! Kita pulang yuk!" ucap Winda sambil berdiri dan membayar bubur ayam itu pada penjualnya.


" Yank! Aku mau mendengar nya sekarang!" rengek Haidar sambil mengikuti Winda dari belakang menuju tempat mobil Haidar di parkir kan.


Winda hanya cekikikan melihat tingkah lucu dan konyol Haidar terhadap dirinya.

__ADS_1


__ADS_2