Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADU KU 2 (EPISODE 22)


__ADS_3

Tubuh pria itu tidak sekuat dan garang dulu. Wajahnya menyiratkan kesedihan dan penyesalan akan tindakan, perbuatan yang ia perbuat pada orang-orang yang sudah menyayanginya secara tulus. Namun dirinya membalasnya dengan banyak kebohongan, pengkhianatan. Matanya nya kini sayu dan berkaca tatkala melihat wajah cantik Intan. Ingatannya kembali ke masa lalu yang membuat kekecewaan dan kemarahan bagi wanita yang saat ini berani bertandang ke rumahnya ketika dirinya dalam. keadaan sakit.


Intan berusaha menutupi kesedihan nya namun rasa sayangnya terhadap Wardhana masih menyisakan tangis hingga saat ini. Betapa dulu memang dirinya benar-benar tulus ikhlas mencintai laki-laki di depannya itu. Namun kenyataan nya pengkhianatan yang diberikan oleh laki-laki itu. Bahkan pengkhianatan itupun terjadi ketika masih satu rumah dengan wanita itu. Wanita yang dulu mengaku kalau sudah dinikahi siri oleh kakak kandungnya.


Bukankah itu sudah masa lalu. Namun cerita itu masih saja teringat karena tidak mudah melupakan kesakitan karena sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan itu seolah sengaja diciptakan untuk menyakiti hati yang sudah sekian lama mengharapkan kasih sayang.


Wisnu, mulai ke depan meninggalkan ruangan itu bersama Arsyil di ruangan tengah. Kini di belakang rumah di dekat ruang makan saat ini Wardhana dibaringkan setelah tadi terapi dan latihan berjalan dan menggerakkan bagian tangan, kaki yang mengalami kekakuan karena serangan store itu. Sedangkan Rosiana seolah memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara walaupun tidak banyak kata yang terucapkan. Rosiana ke warungnya yang saat ini sedang ramai pengunjung yang memesan ayam geprek nya. Saat ini memang anak- anak Sarwenda sedang tidak berkunjung ke rumah itu untuk mengurus ayahnya.


Wardhana didudukkan dengan bersandar bantal di balai itu. Matanya masih tidak lepas memandang Intan yang saat ini memberikan minuman untuk dirinya.


" Kamu cepatlah sembuh mas? Aku ingin melihat kembali Wardhana yang kuat dan tidak lemah seperti sekarang ini." ucap Intan sambil meletakkan gelas yang tadi diminumkan oleh Wardhana. Wardhana hanya berusaha tersenyum sambil tetap melihat Intan yang kini berkaca.


" Kamu jangan menangis, Intan! Aku sudah banyak menyakiti kamu. Kenapa kamu menangisi aku. Seharusnya kamu senang ketika aku sakit seperti ini." ucap Wardhana dengan lemah dan pelan. Intan malah semakin tidak bisa menahan air matanya itu.


" Walaupun kamu sudah menyakiti dan mengecewakan aku, tapi aku selalu memaafkan kamu." sahut Intan.


" Terimakasih!" kata Wardhana pelan.


" Bagaimana kabar suami kamu?" tanya Wardhana akhirnya. Intan tersenyum dan menjawabnya.


" Baik dan sehat. Mas Andrie sibuk di hotel dan resort nya." kata Intan.


" Apakah Andrie menyayangi kamu?" tanya Wardhana pelan.


" Tentu saja!" sahut Intan.


" Syukurlah!" kata Wardhana singkat.


" Kamu cepat sembuh ya, mas! Aku akan pulang. Lain kali aku akan datang bersama suami aku, jika dia tidak sedang sibuk." kata Intan sambil meraih tangan Wardhana untuk bersalaman.


" Terimakasih Intan!" ucap Wardhana pelan sambil tersenyum cerah.

__ADS_1


" Aku belum meminta maaf dengan Sarwenda. Sarwenda belum mau mendatangi aku." batin Wardhana sambil menatap punggung Intan yang melangkah meninggalkan dirinya di balai rumah belakang rumah Rosiana.


******


Di rumah Winda. Winda sudah mulai uring-uringan karena sore itu, Haidar belum juga kembali dari kantor nya. Ditelepon nya beberapa kali oleh Winda namun tidak juga diangkat nya. Ini semakin membuat Winda semakin jengkel dan mondar-mandir resah. Selain sudah mulai kangen akan sosok suaminya itu, Winda juga ingin makanan khas Jawa Timur itu, yaitu rujak cingur. Anehnya Winda gak mau kalau rujak cingur itu yang beli pembantu nya maupun penjaga rumahnya. Harus Haidar sendiri yang membelikannya. Ini ngidam atau ingin ngerjain Haidar suaminya.


Kembali Winda menghubungi suaminya tersebut. Akhirnya panggilan suara keluarnya itupun diangkat oleh Haidar di seberang sana.


" Iya, sayang! Ada apa sayang?" tanya Haidar dengan lembut.


" Kemana aja sih? Aku dari tadi Nelponin kamu tapi gak diangkat terus loh. Kamu ngapain?" ucap Winda manjanya tidak bisa ngalahin siapapun termasuk author yang kumat manjanya, suaminya bisa langsung jungkir balik koprol beberapa kali karena dibuatnya pusing. ☺.


" Maaf, sayang! Tadi tiba-tiba ada klien datang dan ada pembicaraan bisnis dan kerjasama. Maaf yah, sayang! Ada apa sih? Hem?? Adik bayi di perut apa lagi rewel nih?" kata Haidar tetap berusaha lembut dan tidak terpancing emosi.


" Aku mau rujak cingur. Mau pakai banget banget. Ini sudah mau ngiler ingin makan itu, mas." ucap Winda dengan manjanya. Haidar malah makin gemas mendengar suara Winda seperti itu. Rasanya ingin gigit nanti kalau sudah kembali sampai rumah.


" Kalau sudah kepingin pakai banget kenapa tidak minta tolong bibi atau pak satpam." sahut Haidar.


" Enggak mau! Aku maunya kamu yang beli, pulang dari kantor langsung mampir beli itu rujak cingur." kata Winda lagi- lagi pakai merengek.


" Imbalannya apa? Jangan aneh- aneh loh, mas!" kata Winda kembali manja.


" Nanti malam dua ronde yah!" jawab Haidar tanpa sensor.


" Apa? Ogah! Bisa pegel pinggang aku ini mas. Mas Haidar jangan banyak minta deh. Awas saja nanti anaknya ngiler, mau?" ucap Winda.


" Yah kalau gak ada imbalannya mana semangat beli rujak cingurnya, yank!" mulai kumat otak licik Haidar.


" Ya sudah deh, satu ronde saja dan biar aku yang di atas." kata Winda tanpa sensor. Haidar diseberang sana tersenyum penuh kemenangan.


" Yess!" batin Haidar.

__ADS_1


" Oke! Oke, sayang! Deal yah! Rujak cingur segera dibeli sekaligus lima porsi." janji Haidar.


" Tidak usah banyak- banyak, siapa yang mau makan?" tanya Winda.


" Bibi sama om satpam pasti juga mau." sahut Haidar.


" Oh iya, gak papa kalau untuk mereka. Kirain aku yang harus makan semua." ucap Winda.


" Sudah sayang! Ini aku siap- siap pulang dulu." kata Haidar.


" Oke, Hati-hati di jalan ya mas!" sahut Winda.


" Iya, jangan lupa nanti malam yah sayang!" kembali Haidar memastikan barter nya.


" Iya, kalau tidak ngantuk yah!" goda Winda.


" Eh? Hahaha. Awas saja!" ancam Haidar.


" Sudah ah, bye sayang? Muaahh!" kata Winda menutup panggilan keluar nya.


" Horee rujak cingur akan tiba nak! Sabar yah!" kata Winda pelan sambil mengelus- elus perutnya.


*******


Di tempat lain. Di rumah Hendra. Hendra pulang lebih awal namun sampai rumah dirinya tidak mendapati istrinya, Jelita tidak dirumahnya. Padahal ketika tadi perjalanan pulang dia sengaja tidak memberitahu istrinya kalau dirinya pulang dan bertanya kepada istrinya sedang ngapain. Jelita bilang lagi di rumah dan sedang membuat puding kesukaannya. Namun ternyata ketika Hendra sampai di rumah, Jelita tidak ada si rumah.


" Apakah sudah lama, nyonya perginya bu? " tanya Hendra kepada salah satu asisten rumah tangga nya itu yang kira- kira berumur lima puluhan.


" Hem, sudah dua hari ibu tidak pulang ke rumah pak!" jawab ibu itu. Hendra terkejut bukan main. Sejak kapan istrinya sudah pandai berbohong? Hendra mulai berpikir, kemana istrinya saat ini.


" Ya sudah, terimakasih bu!" kata Hendra akhirnya masuk ke kamarnya. Kembali Hendra menghubungi Jelita istrinya. Tersambung panggilan keluar nya itu. Namun lagi- lagi ketika kembali ditanya oleh Hendra akan posisi nya Jelita saat ini, dirinya bilang sedang di rumah. Memang Hendra masih belum mengatakan kalau dirinya sudah pulang.

__ADS_1


" Astaga! Jelita kembali membohongi aku." gumam Hendra kesal.


" Dia dimana sebenarnya? Dan dengan siapa?" pikir Hendra mulai emosi.


__ADS_2