Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MASIH ADA CEMBURU


__ADS_3

Di kediaman keluarga Pak Hartono. Enam bulan sudah berlalu, perut Sarwenda pun sudah mulai membuncit. Intan pun sudah sangat jelas berstatuskan menjadi janda. Sidang perceraian nya dengan Wardha tidak ada kendala dan proses nya berjalan lancar karena kedua belah pihak memang sudah yakin akan keputusan nya untuk bercerai. Secara pribadi, Intan tidak mengetahui secara jelas kalau Wardhana menceraikan nya itu lantaran ada pihak ketiga yaitu Sarwenda. Dalam hal ini, Intan memang sudah tidak peduli lagi, wanita yang menjadi perusak rumah tangga nya.


Karena Intan kini terbilang sudah single dan janda tanpa memiliki anak, kini Intan ikut membantu di perusahaan milik keluarga nya menggantikan posisi Wardhana. Kesibukan nya lah yang akan mengobati dan mengubur semua kekecewaan nya terhadap Wardhana yang sebenarnya sangat di cintai nya. Wardhana karena gengsi pun tidak lagi bekerja di perusahaan milik keluarga Pak Hartono. Tentu saja, Intan memilih bergabung bekerja di perusahaan milik keluarga nya sendiri ikut mengawasi administrasi dan manajemen keuangan pembelanjaan di perusahaan konstruksi keluarga nya. Selain itu, Intan juga mengawasi bahan- bahan yang digunakan yang dipilih secara langsung bangunan proyek, harus sesuai, tahan lama dan kuat sehingga tidak merugikan kepentingan kliennya. Tentu saja, Intan bersama Surya, abangnya turun langsung di lapangan, walaupun sekadar memantau perkembangan nya. Berkat bimbingan Surya dan juga Papa nya, Intan lebih cepat memahami akan tugasnya.


Seperti saat ini, hari Sabtu mereka sedang berkumpul di keluarga besar itu. Disana ada Surya beserta Winda juga. Tentu saja, Wisnu, putra dari Winda dan Surya juga dibawanya beserta baby sitter nya. Pak Hartono dan Bu Hartini pun ada di rumah tersebut. Mereka sedang duduk di meja makan sambil menikmati hidangan di meja.


Siang itu, mentari bersinar cukup terik. Cuaca siang yang panas. Panasnya seperti suasana hati Sarwenda yang selalu melihat Surya menunjukkan perhatian nya kepada Winda, istrinya. Sarwenda pun mencoba mencari perhatian dari Surya. Hal ini membuat Intan dan Bu Hartini menjadi risih dengan sikap Sarwenda yang drama queen.


Saat ini, Sarwenda berpura-pura sakit perutnya yang membuat penghuni rumah keluarga Hartono tersebut menjadi tertuju dan perhatian terhadap Sarwenda. Sarwenda memegangi perutnya sembari mengeluh kesakitan.


" Ya sudah, panggil saja ambulan!" kata Intan datar sambil melirik ke arah Mamanya, Bu Hartini.


" Intan! Sarwenda lagi sakit loh. Kamu jangan jahat dong." sahut Bu Harini.


" Lho memangnya aku salah ma? Aku kan menyarankan suruh panggil ambulan biar dibawa ke rumah sakit." protes Intan.


" Tapi nada bicara kamu, tidak enak sayang!" kata Bu Hartini sambil memegang tangan Sarwenda dengan tujuan meringankan rasa sakit itu.


" Haduh!" sahut Intan sambil menarik nafas dalam-dalam.


" Mas Surya! Kasih perhatian tuh istri muda mas!" bisik Intan Sewot kepada Surya yang duduk di sebelahnya.


" Eh? Dia bukan istriku kok!" bisik Surya lagi ke Intan.


Hal itu malah membuat Pak Hartono menjadi menatap ke arah Intan dan Surya secara bergantian.


" Tapi dia berusaha mencari perhatian pada Mas Surya." bisik Intan lagi ke Surya sambil mencubit lengan Surya.


" Kalian ini! Apa yang sedang kalian bicarakan? Kalau disini lagi duduk bersama-sama dan ada orang disekitar kalian, berbisik-bisik itu sungguh tidak sopan dan sangat tidak menghargai seseorang yang ada bersama kalian. Walaupun kalian sedang tidak membicarakan tentang kami." ucap Pak Hartono serius.


Intan dan Surya jadi terdiam dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Maaf papa!" sahut Surya dan Intan secara bersamaan.


" Ya sudah! Sarwenda! Ayo Mama antar ke kamar kamu dulu." ajak Bu Hartini sambil bangkit dari kursinya lalu mendekati Intan.


" Tidak mau mama! Aku maunya sama Mas Surya!" ujar Sarwenda terdengar merengek manja seperti anak kecil.


Winda melirik ke arah Surya suaminya. Tetapi Winda berusaha menutupi seluruh panasnya ubun-ubun kepala nya. Intan spontan melihat ekspresi Winda yang terlihat pandai menyimpan rasa tidak nyamannya.


" Sudahlah mas Surya! Antar Sarwenda ke kamarnya. Bikin eneg saja di sini. Seleraku jadi hilang." ujar Intan Sewot.


Surya menatap wajah Winda. Winda yang merasa dilihat oleh Surya spontan menatap Surya. Tampak sorot mata Surya meminta ijin Winda. Winda jadi membulat matanya menatap Surya.


" Antar saja dulu ke kamar mas! Orang hamil banyak yang diinginkan nya, bukan? Nanti kalau bayinya ngeces terus kan tidak lucu dong!" ucap Winda berusaha setenang mungkin.


" Hahaha! Ngeces terus?" sahut Intan terkekeh.


" Intan! Kamu tidak boleh begitu, sayang!" kata Bu Hartini.


Sarwenda dengan cepat memegang tangan Surya. Spontan saja, Surya jadi kaget dan kembali menatap ke arah Winda, istrinya. Winda berusaha mengalihkan perhatian nya dengan fokus pada makanan di piringnya. Kini Bu Hartini, Intan dan juga Pak Hartono sama- sama melihat Winda dengan perasaan tidak enak.


" Mas! Aku perlu periksa ke rumah sakit sekarang mas!" kata Sarwenda sambil berdiri dari tempat duduknya nya.


" Ah kamu istirahat dulu di kamar!" sahut Surya seraya mengikuti langkah Sarwenda


Meraka ( Sarwenda dan Surya) berjalan masuk menuju kamar yang ditempati Sarwenda.


" Kamu yang sabar yah, sayang!" kata Bu Hartini sambil tersenyum dan mendekati duduk di dekat Winda. Tangan Bu Hartini meraih tangan milik Winda.


" Iya mama. Saya baik- baik saja, ma!" ucap Winda ikut tersenyum kepada mertua nya tersebut.


" Yuk habis ini kita belanja yuk mbak!" ajak Intan.

__ADS_1


" Belanja apa, sayang! Bahan- bahan di kulkas masih banyak loh!" sahut Bu Hartini.


" Eh maksud aku, kita shopping yuk mbak. Aku juga ingin membelikan baju anak untuk Wisnu. Wisnu sudah mulai gembul.. hehe." kata Intan sambil nyengir.


" Belikan baju Wisnu atau mau beli tas branded lagi?" tanya Bu Hartini menyindir.


" Hahaha! Mama selalu mengingatkan aku loh. Padahal aku tidak berniat ingin beli tas, ma! Aku mau belikan baju branded untuk mbak Winda saja." kata Intan.


" Mama yang jadi saksi disini. Awas kalau beli tas branded lagi. Tas kamu sudah penuh di lemari atas, Intan." ucap Bu Hartini.


" Ayo mbak! Aku sudah selesai makan nih." ajak Intan.


" Ayolah!" sahut Winda.


" Kita perlu mengajak, mas Surya tidak mbak?" tanya Intan.


" Eh? Mas Surya lagi sibuk!" jawab Winda yang terdengar ada sedikit kecemburuan.


" Eh? Maksud saya, mas Surya lagi mengurusi Sarwenda yang sedang sakit. Kita jalan sendiri saja, Intan." tambah Winda sambil melihat ke arah Bu Hartini dan Pak Hartono secara bergantian.


" Kamu jangan khawatir, sayang! Mama akan mendampingi Sarwenda setelah ini. Biar tidak macam- macam dengan Surya. Hehehe." kata Bu Hartini sambil nyengir.


" Mama pasti bisa diandalkan kok, mbak!" sahut Intan.


" Yuk mbak!" tambah Intan sambil menarik tangan Winda pergi dari meja makan itu.


" Mama! Papa! Kami pergi dulu!" teriak Intan.


" Eh Intan! Kita belum salaman dengan papa dan mama loh!" ucap Winda.


" Oh iya!"sahut Intan akhirnya.

__ADS_1


Mereka pergi setelah mencium tangan Bu Hartini dan Pak Hartono secara bergantian.


__ADS_2