
Sesampainya di rumah Winda tepatnya masih di depan pagar rumah yang tinggi menjulang.
" Turun disini saja saya. Tidak perlu masuk." ucap Winda sambil membuka pintu samping mobil milik Haidar.
" Bahkan hanya sekedar basa- basi mengajak mampir pun tidak." sindir Haidar sambil melengos.
Winda tersenyum mendengar sindiran dari Haidar.
"Masalahnya kamu itu tidak bisa kalau di ajak bicara berbasa-basi, mas." sahut Winda.
Kembali Haidar cemberut karena Winda membalas sindiran dari Haidar.
" Ya sudahlah! Ayo ke rumah dulu, mas. Kalau cuma kopi masih ada di rumah." ucap Winda bercanda.
Tanpa banyak berkomentar Haidar turun dari mobilnya dan membiarkan mobilnya terparkir di luar pagar rumah Winda.
*******
" Masuk saja mas!" ajak Winda yang melihat Haidar kini duduk di kursi teras di depan rumah Winda.
" Nyaman duduk disini. Aku disini saja, Win." kata Haidar.
" Baiklah! Mana enaknya kamu saja, mas! Aku masuk dulu yah mas." ucap Winda sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.
" Oke, silahkan!" sahut Haidar.
*******
Di dalam rumah.
__ADS_1
" Halo Wisnu sayang! Mama pulang!" sapa Winda yang menyapa Wisnu kebetulan duduk di ruang tengah sambil bermain game. Setelah itu mencium pipi kanan dan kiri milik Wisnu yang tembem.
" Halo mama cantik. Mama pulang diantar siapa ma?" tanya Wisnu penuh selidik.
" Eh iya! Diantar oleh Om Haidar. Tadi kebetulan mama ketemu di rumah eyang dan om Haidar beserta ayah, bundanya sedang berkunjung ke rumah eyang juga." cerita Winda yang membuat Wisnu menatap serius mendengar mama nya yang sedang bercerita.
" Oh iya? Kalau begitu biar Wisnu saja yang menemani om Haidar." ucap Wisnu sambil berdiri dari duduknya.
" Nah bagus! Kalau begitu mama mau mandi dulu sudah lengket. Oh iya Wisnu sayang! Kopi untuk om Haidar jangan lupa yah, sayang!" kata Winda sambil mengusap pucuk kepala milik Wisnu.
" Beres mama cantik!" sahut Wisnu.
*******
Di teras depan rumah Winda.
" Om, bagaimana kalau kita masuk ke dalam saja yuk om!" ajak Wisnu kepada Haidar.
" Di taman belakang bisa kok om. Di taman belakang yang ada bunga anggrek yang beraneka ragam milik mama, ada kursi kayunya. Kita bisa duduk santai dan om Haidar bisa sambil ngopi dan merokok di sana." cerita Wisnu.
" Oh! Mamanya Wisnu koleksi bunga anggrek?" tanya Haidar.
" Iya om! Saat ini banyak bunga anggrek yang bermekaran semua. Jadi mata ini seperti dimanjakan ketika melihat bunga anggrek itu om."kata Wisnu yang berusaha membuat Haidar tertarik. Haidar tersenyum dengan Wisnu yang dengan lancar dan jelas mendeskripsikan tentang taman anggrek milik mama nya itu.
" Baiklah! Om menjadi penasaran dengan yang kamu ceritakan." ucap Haidar lalu mengikuti Wisnu yang berjalan melewati ruang tengah, ruang makan, dan dapur.
" Disain rumah ini sungguh keren. Ini taman anggrek milik mama Wisnu sungguh menakjubkan! Indah dan subur." puji Haidar sambil mendekati tanaman-tanaman anggrek yang bermekaran itu.
" Tentu saja om! Mama aku paling senang merawat tanaman anggrek ini. Setiap hari diperhatikan, disiram, dirawat dan akhirnya aku yang merasa di kesampingkan karena mama aku lebih perhatian tanaman anggrek nya dibandingkan dengan aku." kata Wisnu sambil tersenyum.
__ADS_1
" Itu karena adik sudah dianggap mama sudah besar! Benar kan?" sahut Haidar sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepala milik Wisnu.
" Mungkin benar kata om Haidar! Aku sekarang ini harus selalu menjaga mama aku dan melindungi mama aku." kata Wisnu dengan mata berbinar.
" Nah begitu dong! Wisnu adalah anak laki-laki harus bisa menjaga mama yah, sayang!" kata Haidar sambil menyemprotkan air ke bunga anggrek yang kelihatan indah bermekaran itu.
" Hai jangan asal siram- siram tanaman aku!" teriak Winda saat Haidar mulai menyemprot air ke tanaman anggrek itu.
"Eh astagfirullah! Kaget aku!" sahut Haidar hampir meloncat mendengar Winda yang berteriak itu. Wisnu yang melihat Haidar yang terkejut itu sampai tertawa terbahak- bahak.
" Jadi, tanam anggrek ini kalau mau menyirami nya sebisa mungkin kena ke akarnya dan usahakan jangan terkena daunnya." kata Winda sedikit memberikan masukkan kepada Haidar.
Haidar yang tidak tahu perihal perawatan tanaman anggrek hanya mengangguk pelan.
" Oh begitu yah?" sahut Haidar.
" Besok kalau tanaman anggrek aku mati, kamu harus tanggung jawab!" kata Winda akhirnya.
" Idih mama galak amat!" protes Wisnu. Winda malah nyengir saja. Haidar hanya tersenyum saja mendengar Winda yang berujar begitu kepadanya.
" Lusa, ke galeri taman anggrek yuk! Nanti akan ku belikan banyak untuk kamu!" ajak Haidar kepada Winda.
__ADS_1
" Nah kalau sudah begini ini, mata mama aku pasti langsung berbinar!" sahut Wisnu sambil melirik ke mama nya. Winda hanya tersenyum saja mendengar sindiran dari Wisnu.