Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
DI VILLA


__ADS_3

Ketika kesedihan itu hinggap di hati bahkan menguasai pikiran. Langkah dan cara apa yang bisa merubah nya dari sedih menjadi ceria. Namun kesedihan itu bisa menjadikan tangan- tangan ini menjadi terampil menulis kan ide, gagasan dan mencurahkan segala kreatifitas yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Menghasilkan karya baru yang bisa diandalkan. Tentu saja, di sertakan pesan moral yang mendidik di dalamnya tidak sekadar tulisan yang kosong nyaris tidak ada nilai yang tersurat maupun tersirat di dalamnya.



Ketika kamu menjumpai dua jalan di satu ruas jalanan yang sama. Jalan manakah yang akan kamu pilih? Jalan mana yang akan kamu lalui, apakah kamu akan mencoba jalan satunya untuk jalan kembali atau tetap memilih jalan yang sama dengan jalan yang sudah kamu lalui ketika berangkat dan memulai melangkahkan kaki?


Setiap diri punya pilihan. Pilihan itulah yang menentukan langkah seseorang. Dan masalah tepat atau tidaknya jalan yang dipilihnya, semua sudah menjadi ketentuan dari masing-masing pilihan nya.


*******


" Kamu sudah mandi Ros?" tanya Mbak Santi kepada Rosiana.


" Hehe. Belum Mbak Santi. Dingin sekali cuaca di villa ini yah Mbak?" jawab Rosiana sambil mengusap- usap telapak tangannya.


"Memang dingin tapi kamu harus mandi dong Ros! Ayo lah sana mandi dulu, supaya kamu lebih segar dan tambah cantik." kata Mbak Santi sambil mendorong tubuh Rosiana masuk ke dalam kamar mandi di kamar penginapan yang ditempati oleh mereka berdua.


" Eh handuk saya, Mbak!" kata Rosiana akhirnya.


" Oh iya, ini!" sahut Mbak Santi sambil mengambil kan handuk milik Rosiana dan menyerahkan nya pada Rosiana.


" Malam ini kamu harus terlihat cantik, Rosiana." teriak Mbak Santi.


" Kenapa harus malam ini saja, Mbak! Sudah dari orok saya sudah cantik, Mbak." Rosiana ikut berteriak- teriak.


" Oke! Oke percaya. Kalau gak cantik, mana tuan Wardha dulu begitu menyukai kamu." kata Mbak Santi pelan sambil terkekeh.


Tiba-tiba suara pintu terbuka dan Sarwenda melangkah masuk ke dalam kamar itu.


"Kamu ngomong apa, Santi? Tadi kamu menyebut nama suami aku?" tanya Sarwenda penasaran.


" Eh ti.. ti tidak nyonya! Nyonya Sarwenda cantik, tidak heran jika tuan Wardha begitu menyayangi nyonya Sarwenda." jawab Mbak Santi sambil berusaha menutupi keterkejutan nya.


" Ah kamu terlalu memuji, Santi. Oh iya Santi, anak- anak di kamar sebelah bersama pengasuh Dahlia. Kamu bantu- bantu juga yah, sekiranya pengasuh Dahlia itu kerepotan. Siwa biar di kamar sebelah bersama Dahlia. Malam ini aku pun ingin menikmati kebersamaan bersama suami aku." kata Sarwenda sambil tersenyum.


" Baik nyonya! Selamat bersenang-senang nyonya!" sahut Mbak Santi dan Sarwenda pun tersipu malu.


" Baik Santi. Masalah makan malam, kamu bisa pesan saja yah. Mumpung hari ini, aku lagi baik nih... hahaha." kata Sarwenda sambil tersenyum dan melangkah keluar dari kamar yang di tempati oleh Rosiana dan Mbak Santi.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Hampir saja jantung aku copot. Untung saja, nyonya Sarwenda tidak curiga dan langsung percaya semua yang aku katakan. Kalau tidak? Bisa perang Dunia." kata Mbak Santi sambil bermonolog.


" Ada apa mbak?" tanya Rosiana yang tiba-tiba keluar dari pintu kamar mandi yang ada di kamar itu.


" Ada Nyonya Sarwenda. Tadi kemari, ngasih tugas pada ku, disuruh bantu-bantu Babysitter di sebelah. Siwa juga tidur di kamar sebelah menemani si kecil Dahlia." kata Mbak Santi.


" Siwa bisa tidur di sini saja." sahut Rosiana bersemangat.


" Siwa memang disuruh tidur di kamar sebelah menemani si kecil Dahlia. Nanti kalau semua sudah beres dan tidak ada masalah kita nikmati malam indah di tempat ini saja, Ros." ucap Mbak Santi.


" Baiklah! Ayolah kita ke kamar sebelah dulu. Saya ingin jumpa dengan Siwa sebentar." ajak Rosiana.


" Baiklah! Ayo kalau begitu!" sahut Mbak Santi.


*******


" Bagaimana menurut kamu, suasana di villa ini sayang?" tanya Sarwenda sambil bergelayut manja dengan Wardha.


" Dingin!" jawab Wardha singkat.


" Bagus dan nyaman kok. Kamu senang kah sayang?" tanya Wardha sambil meraih dagu istrinya yang sedang ingin di manja itu.


" Selagi berdua bersama kamu, bagiku semuanya terasa indah." sahut Sarwenda.


" Benarkah?" tanya Wardha menggoda.


Sarwenda masih bergelayut manja. Rasanya malam itu seperti malam terindah bagi mereka berdua. Sejenak Sarwenda dimanjakan oleh Wardha. Malam ini mereka bersama- sama mengarungi lautan cinta.


Angin malam berhembus menusuk pori- pori. Cuaca dingin begitu terasa sekali malam itu. Tentu saja, tidak dengan pasangan suami istri itu. Mereka berdua akan menyatu menciptakan kehangatan satu dengan yang lain. Membentuk ritme indah dalam gerakan eksotisme yang mengantarkan aliran darah yang membakar. Seketika hilang sudah hawa dingin yang ada.


" Terima kasih sayang!" ucap Wardha terhadap Sarwenda sambil tersenyum dan mengecup dahi milik istrinya tersebut.


" Huum! Kamu bahagia sayang?" tanya Sarwenda manja.


" Tentu saja! Oh iya sayang. Aku ingin lihat Dahlia dan Siwa di kamar sebelah dulu." kata Wardha akhirnya dan mulai mengenakan kaos oblong dan celana pendek nya.


" Baiklah! Jangan lama- lama ya sayang!" sahut Sarwenda akhirnya sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


Wardha mulai melangkah keluar dari kamarnya dan menuju kamar yang ditempati oleh Dahlia dan Siwa.


*******


" Nyenyak yah, tidur nya?" tanya Wardha kepada pengasuh Dahlia tersebut setelah membukakan pintu kamarnya.


" Iya tuan! Sejak sore tadi mereka sudah lelap tidur nya. Cuaca dingin di villa ini semakin membuat nyenyak tidur mereka tuan." kata pengasuh Dahlia tersebut.


" Tapi mereka tadi sudah makan banyak kan?" tanya Wardha lagi.


" Tentu saja, tuan!" jawab Pengasuh tersebut.


" Baiklah!" kata Wardha lalu melangkah keluar dari kamar tersebut dan berjalan melewati taman- taman yang cukup rapi villa tersebut.


Mbak Santi dan Rosiana masih duduk di bangku kayu yang panjang sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa cemilan. Bangku itu terletak di tengah taman villa tersebut. Suara tawa ringan terdengar samar- samar diantara keduanya. Mungkin saja mereka telah hanyut dalam cerita yang lucu dan menarik sehingga rasa kantuk diantara keduanya lenyap sudah.


" Kalian masih belum tidur?" tanya Wardha yang tiba-tiba berdiri tidak jauh dari mereka duduk.


" Eh tuan Wardha! Belum tuan!" sahut Mbak Santi yang sempat terkejut dibuat nya.


" Aku boleh gabung gak?" tanya Wardha akhirnya sambil mencari posisi duduk yang tidak jauh dari mereka.


" Mbak Santi, saya boleh duluan masuk kamar tidak? Saya mulai mengantuk nih." sela Rosiana sambil bangkit dari tempat duduk nya.


" Eh?" keluh Mbak Santi sambil menatap ke arah Wardha.


" Tiba-tiba mengantuk yah, setelah aku ingin bergabung disini?" sahut Wardha menyindir.


" Eh?" kata Rosiana akhirnya duduk kembali.


" Baiklah! Kalau begitu lanjutkan ngobrol nya kembali. Aku akan kembali ke kamar." kata Wardha sambil tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.


Mbak Santi dan Rosiana hanya saling pandang melihat reaksi Wardha yang dengan cepat berubah pikiran.


" Kamu ini, Ros!" ucap Mbak Santi sambil mencubit pipi milik Rosiana.


" Aww!" keluh Rosiana.

__ADS_1


__ADS_2