Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
DIA DATANG


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan berlalu. Satu bulan itu tentu nya aktivitas Winda sudah mulai padat dengan kerjaan nya bergabung di kantor nya Bang Hendra kakak nya Galuh. Sebulan itu pula, Wisnu pun sudah di asuh oleh baby sitter nya selama Winda kerja. Satu bulan itu, Surya tidak pernah berkunjung ke rumah mama nya. Hal itulah yang menimbulkan masalah oleh Sarwenda yang tinggal di rumah itu. Tujuan utama nya supaya bisa dekat dan mendekati Surya, malah semakin jauh dengan Surya.


Di hari Sabtu itu, Winda libur dan memanfaatkan waktu nya bersama Wisnu putranya. Sedangkan Surya saat itu ikut duduk menemani Winda bersama Wisnu. Terlihat pasangan suami istri itu menikmati cerahnya pagi hari di taman depan rumah sambil berjemur untuk mendapatkan sinar matahari.


Surya melihat wajah istrinya dengan penuh kasih. Sesekali Winda tersenyum dengan rona merah di pipinya karena malu dilihat terus menerus oleh Surya, suaminya.


" Ada apa sih? Apa ada yang salah dengan wajah aku, mas?" tanya Winda dengan senyum simpul nya.


" Iyalah, salah nya kamu terlalu cantik. Aku kangen kamu, Winda!" jawab Surya sambil meraih tangan milik Winda.


" Kamu ini aneh loh mas! Kita setiap hari bertemu setelah usai dengan kerjaan kita di kantor." kata Winda.


" Tapi cukup lama juga, aku merasakan jauh walaupun kita dekat dan satu rumah. Setelah terjadi prahara rumah tangga kita itu." sahut Surya sambil mengusap punggung tangan milik Winda.


" Maafkan aku mas! Aku juga perlu waktu untuk bisa melupakan kepedihan itu. Apalagi masalah yang kemarin masih ditangguhkan, dalam artian Sarwenda hamil dan belum diketahui siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Ketika sendiri, jujur aku masih belum bisa melupakan itu." ungkap Winda sambil menatap wajah suaminya itu.


" Maafkan aku, Winda! Doakan saja, semua perkataan ku benar adanya. Doakan saja semua janji aku bisa ditepati. Aku akan berusaha menjaga dan mempertahankan pernikahan kita sampai maut memisahkan kita." ujar Surya sambil berusaha merengkuh tubuh Winda dan memeluknya nya erat.


" Amin! Semoga saja mas!" sahut Winda.


Di luar pekarangan rumah milik Winda ada mobil yang mulai berhenti dan menepi. Mobil itu sangat familiar bagi Surya. Surya terkejut dengan datangnya mobil itu. Dan benar saja, seorang wanita yang sudah mulai berisi badannya itu keluar dari mobil mewah itu.


" Mas Surya! Aku datang!" teriak wanita itu yang keluar dari mobilnya dan menuju pagar besi yang masih tertutup.


" Astaga! Kenapa wanita itu kemari?" kata Surya pelan sambil menatap ke arah Winda.


Winda terlihat terkejut dengan kedatangan Sarwenda yang datang dengan tiba-tiba. Iya Sarwenda datang dengan membawa tas jinjing yang tampaknya berisi baju- baju nya yang cukup banyak.

__ADS_1


" Pak Satpam tolong bukakan gerbangnya. Biarkan mobil saya masuk." teriak Sarwenda dengan suara lantang.


" Eh??" Surya terkejut dengan berdiri terpaku.


" Biar kan dia masuk dulu Mas! Nanti baru ditanya kenapa dia kemari." kata Winda yang masih duduk di taman itu.


Pak satpam rumah milik Winda itu membuka gerbangnya. Sarwenda masuk dengan menenteng tas nya dan mobil yang mengantarnya pun mulai berjalan masuk ke pekarangan rumah milik Winda.


Sarwenda berlari kecil mendekati Surya dan memeluk tubuh Surya. Winda yang melihat itu hanya tersenyum dengan sinis. Surya terkejut sampai tidak bisa berkutik dipeluk secara tiba-tiba oleh Sarwenda.


" Eh Sarwenda! Duduklah!" ujar Surya sinis tapi tidak berani berbuat kasar terhadap wanita hamil itu.


" Winda! Aku datang!" kata Sarwenda sambil mengulurkan tangannya ke Winda lalu ikut duduk di kursi taman itu.


" Kamu mau apa kemari?" tanya Surya tanpa basa-basi.


" Eh??" Surya terkejut dan khawatir dengan perasaan Winda yang ada di dekat nya.


" Satu Minggu aku tunggu kamu tidak juga datang ke rumah mama kamu, dua Minggu aku tunggu pun juga tidak kunjung datang. Sampai sudah satu bulan lamanya kamu tidak juga mau menemui aku di rumah itu. Lalu maksud kamu apa? Aku tinggal di rumah itu supaya aku bisa selalu dekat dengan kamu, walaupun cuma hanya melihat kamu itu sudah cukup buat aku. Tapi kamu, malah tidak mempedulikan aku. Kamu terlalu jahat kepada aku, mas! Apakah kamu lupa, jika aku hamil anak kamu, mas?" ucap Sarwenda panjang lebar.


" Astagfirullah! Sarwenda! Kamu sudah bukan istri aku. Kita sudah bercerai secara agama, apakah kamu lupa itu?" sahut Surya.


" Tapi aku hamil anak kamu, Mas! Setelah anak ini lahir, kita menikah secara resmi dan kita menjadi suami istri lagi, mas!" kata Sarwenda yang membuat Winda berusaha tidak mendengar dan memperhatikan keributan diantara laki- laki dan perempuan itu.


Winda lalu berdiri dan bangkit dari tempat duduknya sambil menggendong Wisnu.


" Kemana sayang? Disini saja!" ujar Surya seraya menahan tangan Winda supaya kembali duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


" Aku rasa aku tidak perlu ikut campur urusan kalian bukan?" tanya Winda mulai menahan kecemburuan.


Mungkin lebih tepatnya kekecewaan nya karena sakit hati. Sudah sekian lama hidup tenang di rumah barunya, kini hadir wanita itu di dalam rumahnya. Berusaha melupakan prahara rumahtangga nya yang terjadi, tapi sekarang mengingat kan kembali.


"Tuh Kan! Winda saja tahu dan pengertian jika aku datang kepada kamu, Mas! Kamu malah berlaku tidak adil terhadap aku. Aku sedang hamil loh mas! Aku perlu kasih sayang dari kamu!" rengek Sarwenda.


" Oh iya, Mbak Sarwenda ingin minum apa, biar dibuatkan oleh Mbak Ita." kata Winda.


"Hem! Sebenarnya aku ingin minuman buatan kamu Win. Teh manis hangat saja." jawab Sarwenda sambil tersenyum.


" Sarwenda! Kamu mulai tidak sopan terhadap istri aku." bantah Surya.


" Aku juga istri kamu loh, mas!" sahut Sarwenda sambil melirik ke arah Winda.


" Lagi pula ini bukan keinginan aku. Ini kemauan dari bayi didalam perut aku." tambah Sarwenda tersenyum sinis.


" Istri apa? Sudah aku bilang! Kamu sudah bukan istri aku lagi. Sekali lagi aku katakan kamu sudah aku cerai kan. Kamu Ku cerai!" kata Surya dengan lantang.


" Mas??Sudah! Sudah! Tidak apa-apa biar aku buatkan minumannya. Tapi setelah itu, tolong antarkan Sarwenda kembali pulang ke rumah mama. Aku tidak ingin satu atap dengan maduku." ujar Winda.


" Tuh kan! Winda saja masih mengakui aku sebagai madu nya loh, mas!" sahut Sarwenda.


" Tapi, Win!" kata Surya yang terlihat malas jika harus mengantar Sarwenda.


" Tidak apa-apa, mas! Antar kan Sarwenda pulang dulu. Atau mas ingin dan menghendaki, jika Sarwenda tinggal di rumah ini?" ujar Winda.


" Eh ti..ti..tidak!" sahut Surya.

__ADS_1


" Ya sudah! Antarkan Sarwenda kembali ke habitat nya. Aku ogah satu atap dengan nya. Aku dan Wisnu ingin tenang di rumah ini." ucap Winda sambil melangkah menjauh meninggalkan Surya dan Sarwenda yang masih duduk di kursi taman itu.


__ADS_2