
" Apapun yang terjadi, kita adalah sahabat. Kalau pun kamu sudah tidak menginginkan menjalin hubungan dengan Niga. Itu adalah keputusan yang benar, Galuh. Tetapi bagaimana juga, kita tidak bisa memutuskan hubungan baik sesama kawan bukan. Jangan lantaran cinta, akhirnya menjadi bermusuhan." kata Winda sambil meminum minuman yang sudah tersaji di meja.
" Iya aku tahu. Tetapi aku butuh waktu dan harus jaga jarak, bukan?" sahut Winda.
" Tentu saja!" ujar Winda.
" Ngapain Mas Surya malah duduk di sana dengan Niga dan rekannya?" tanya Winda sambil melihat ke arah Surya yang asyik mengobrol dengan teman lamanya yang sudah sekian lama tidak berjumpa.
" Biar kan saja!" sahut Galuh dengan sewot.
" Iyalah! Ayo kita makan dulu saja. Biar Mas Surya pesan makanan nya di meja sana saja. Biar aku chat saja." kata Winda sambil mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di nomer Surya.
Surya membaca isi chat dari Winda dan tersenyum ke arah Winda.
" Kata Mas Surya, kita makan dulu saja. Mas Surya lagi asyik bernostalgia dengan kawan lamanya." kata Winda.
" Iya! Eh apa aku minta jemput Andrie saja yah." ucap Galuh sambil mengeluarkan ponselnya dan mencari nomer Andrie.
" Lalu? Kita tidak jadi belanja?" tanya Winda.
" Eh? Iya juga yah!" sahut Galuh.
" Sudahlah jangan khawatir. Kita semuanya teman. Yang terpenting kamu punya prinsip yang kuat. Sekali tidak ya tidak dan tetap menjalin hubungan baik." ucap Winda.
Sementara di sudut ruangan rumah makan itu, ada meja dan kursi yang diduduki oleh Surya, Niga dan satu rekannya Niga. Mereka mulai menikmati beberapa hidangan yang dipesannya. Sesekali mereka larut dalam obrolan ringan baik cerita dulu, bisnis dan juga hobby masih- masing.
" Aku tidak menyukai motor Gedhe, Niga." kata Surya sambil nyengir.
" Waduh sayang sekali loh. Kalau kamu suka, kita bisa ketemu di sana." sahut Niga.
" Kapan-kapan main lah ke rumah aku, Surya. Mana tahu kamu tertarik dengan motor Gedhe ini." tambah Niga.
" Waduh maaf sekali. Aku lagi sibuk membuka cabang di luar kota untuk bisnis yang aku jalani." ucap Surya.
" Yah, kalau ada waktu saja." sahut Niga.
" Niga! Tampak nya aku harus duluan pulang nih. Ada keperluan mendadak bersama keluarga ku." kata rekan Niga yang sedari tadi hanya menyimak dan menjadi pendengar setia saja.
" Baiklah! Terimakasih ya bro!" sahut Niga sambil menjabat tangan rekan bisnisnya.
" Iya sama-sama. Ayok Mas Surya, saya duluan yah!" kata rekan Niga sambil menjabat tangan Surya.
__ADS_1
" Oke! Oke!" sahut Surya sambil berdiri.
" Hah?" Niga menarik nafas pelan.
" Ada apa bro?" tanya Surya kepada Niga.
" Tidak ada!" jawab Niga sambil melihat ke arah tempat duduk Winda dan Galuh.
Surya yang mengetahui gelagat Niga jadi tersenyum.
" Yang pakai kerudung itu Winda, istri aku. Mungkin kamu tidak mengenalnya karena beda fakultas bukan? Dan lagi pula, Winda tidak aktif di BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa). Kalau yang itu, Galuh. Apakah kamu mengenali nya?" kata Surya sambil tersenyum mencoba memancing Niga.
" Iya! Kalau Galuh pasti ingat. Dia aktif di kegiatan mahasiswa." jawab Niga sambil menunduk.
" Kenapa bro? Kamu terlihat sedih, ada apa?" tanya Surya mulai kepo.
" Tidak ada apa- apa." jawab Niga.
" Begitu yah!" sahut Surya sambil berusaha meneliti wajah Niga yang terlihat muram.
Niga masih mengaduk- aduk minuman yang ada di depannya. Niga seperti ingin bercerita dengan Surya panjang lebar.
" Apa kamu ada masalah?" tanya Surya lagi.
" Hehe.. ya sudah kalau begitu. Aku harus bergabung dengan istri ku yah. Kami akan belanja dulu. Maaf Niga!" kata Surya sambil berdiri dari tempat duduknya.
" Terimakasih banyak Surya! Lain waktu aku akan menghubungi kamu yah. Kita sambung cerita kita." ucap Niga sambil menjabat tangan Surya.
" Oke siap! Mampirlah ke rumah aku, Niga. Nanti aku kirim lokasi rumah aku deh." kata Surya sambil membalas uluran tangan dari Niga.
" BTW! Makanan ini biar aku semua yang bayar yah!" imbuh Surya sambil tersenyum.
" Weh jangan! Biar aku saja yang bayar!" kata Niga akhirnya.
" Hadeuh! Ya sudahlah! Lain kali gantian aku yang mentraktir kamu yah!" sahut Surya lalu bergegas mendekati meja dimana ada Winda dan Galuh sedang duduk.
Niga hanya menatap ke arah bangku dimana ada Galuh duduk. Akhirnya tanpa menyapa, Niga membayar semua tagihan dari menu makanan dan minuman yang dipesan.
" Maaf ya! Aku ke asyik kan ketemu kawan lama. Jadi kalian makan sendiri deh." kata Surya sambil duduk mendekati Winda istrinya.
" Tidak apa-apa. Lagi pula kami sangat enjoy kok, tanpa kamu disini." sahut Galuh mulai sewot.
__ADS_1
" Aku atau aku?" ledek Surya sambil melihat ke arah Niga yang masih membayar tagihan makanan dan minuman di depan kasir.
" Eh?" Galuh mulai melotot ke arah Surya yang sedari tadi meledek nya.
" Sudah yuk! Biar aku membayar dulu tagihannya." kata Winda sambil bangkit dari tempat duduknya untuk menuju ke kasir.
" Baiklah! Pakai ini saja sayang!" kata Surya sambil menyerahkan dompetnya ke Winda.
" Uang kemarin masih ada kok, mas!" kata Winda sambil nyengir.
" Tidak apa-apa, Winda! Habiskan saja uang suami kamu ini." sahut Galuh sewot.
" Hahaha! Tidak akan habis sampai tujuh puluh turunan, Galuh!" ujar Surya sambil nyengir.
Winda mulai membayar semua di depan kasir. Di sana Winda jumpa dengan Niga yang sudah selesai membayar semua di kasir.
" Berapa semua nya, mbak?" tanya Winda.
" Oh meja no 34 yah! Sudah di bayar sama om itu mbak!" jawab wanita yang bertugas menjadi kasir itu.
" Oh begitu yah. Terimakasih mbk!" ucap Winda lalu bergegas berlari mendekati Niga yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
" Om!" panggil Winda.
" Eh iya, Istrinya Surya yah?" tanya Niga.
" Iya betul. Terimakasih banyak sudah membayar makanan dan minuman kami. Tetapi ini tidak baik untuk kami." kata Winda sambil menyerahkan beberapa lembaran uang ratusan ribu itu.
" Eh? Tidak! Saya dan Surya sudah berteman lama. Anggap saja, hari ini saya yang mentraktir dan lain kali kalian bisa mengundang saya untuk makan bersama." ucap Niga akhirnya.
" Baiklah saya harus segera pergi." tambah Niga sambil bergegas pergi dan keluar dari rumah makan itu.
Winda hanya menatap punggung Niga sampai tidak terlihat karena kerumunan beberapa pengunjung di sana. Winda akhirnya kembali ke tempat duduknya mendekati Surya dan Winda yang terlihat masih saja berantem.
" Yuk! Kita belanja!" ajak Winda sambil mengambil tas kecilnya dan menyerahkan dompet milik Surya.
" Mas! Semua makanan dan minuman tadi sudah di bayar oleh kawannya Mas Surya." kata Winda akhirnya.
" Oh Niga yah!" sahut Surya sambil melirik ke arah Galuh.
" Apa loh! Kondisikan mata Lo!" ujar Galuh sewot.
__ADS_1
" Kenapa sih kalian dari tadi berantem mulu?" kata Winda sambil nyengir.
" Yuk sayang!" ajak Surya sambil menggandeng tangan Winda keluar dari tempat itu dan bergegas untuk belanja.