
Wardha sudah tiba di rumah mewah milik Sarwenda. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ada kekhawatiran dan ketakutan karena dia menyembunyikan rahasia yang besar. Menikah secara diam-diam dan hal itu tentu saja tidak diketahui oleh Sarwenda.
Diluar dugaan nya, Sarwenda menyambut kedatangan nya dengan penuh suka cita. Senyuman Sarwenda merekah tatkala suaminya itu tiba dan berada dekat di samping nya. Hal itu lah yang membuat hati Wardha menjadi lega.
"Bagaimana keadaan mu, sayang? Kata Mbak Santi, kamu sempat jatuh sakit." kata Wardha sambil menyelimuti tubuh Sarwenda yang sedikit terbuka di bagian pangkal kaki nya.
Sarwenda hanya tersenyum melihat Wardha yang tampak perhatian kepadanya. Kedatangan suaminya itulah yang membuat hati Sarwenda menjadi sedikit lega dan tenang. Betapa tidak, sudah hampir dua minggu, Wardha ke luar kota dengan dalih mengurus anak cabang perusahaan milik Sarwenda. Memang Sarwenda sudah mempertanyakan informasi keberadaan Wardha di kota tersebut pada orang kepercayaan nya di sana. Informasi yang didapat kan memang Wardha, suaminya ada di sana dan sangat sibuk mengurus segala urusan di sana. Soal ponsel suaminya yang tidak aktif itu, memang Wardha sangat teledor hingga ponsel nya bisa hilang di tempat umum.
Segala upaya dan usaha sudah dipikirkan oleh Wardha. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan oleh Sarwenda. Bagaimana pun juga Sarwenda bukanlah wanita yang bodoh yang bisa dikelabui begitu saja. Senyuman Sarwenda masih tersimpan tanda tanya ketika melihat sikap ataupun perubahan dari suaminya. Tetapi setidaknya kepulangan Wardha, Sarwenda sedikit menjadi obat kerinduan baginya. Sarwenda mendekati wajah suaminya itu dan mengusap lembut bibir seksi milik Wardha. Bibir itu di mainkan dengan jari lentik Sarwenda. Wardha tersenyum sambil menatap wajah istrinya yang terlihat memendam rindu yang begitu dalam.
" Kamu kangen aku, ya sayang?" tanya Wardha sambil meraih tangan milik Sarwenda yang mengusap ke bagian wajahnya itu.
" Tentu saja! Apakah kamu tidak merindukan aku, mas? Apakah kamu tidak ingin itu? Bukankan sudah hampir dua minggu, kita puasa tidak berhubungan selayaknya suami istri?" tanya Sarwenda bak detektif.
" Tentu saja aku ingin. Dan sangat ingin tentunya. Namun, apakah kamu dalam keadaan sehat? Apakah kamu baik- baik saja, sayang?" kata Wardha yang mulai mendekati bibir mungil. milik Sarwenda lalu mengecupnya dengan lembut.
Sarwenda tidak membiarkan hal itu terhenti. Sarwenda langsung menyambutnya dengan ciuman yang panjang dan berhasrat. Satu persatu semua yang melekat di badan mereka dilepas hingga tanpa sehelai benang pun. Hanya kini selimut yang menutupinya. Pergulatan panjang akhirnya terjadi antara suami istri itupun. Senyuman yang merekah muncul di bibir Sarwenda. Sarwenda dengan nyeri yang ditahan melayani suaminya dengan penuh hasrat.
" Kamu seperti kehausan di padang pasir yang kering kerontang, sayang. Menelanku habis bak kelaparan yang sudah sekian lama tidak ter kunyah kan oleh makanan. Kamu melahap habis aku, tanpa sisa. Sehingga aku tidak diberi kesempatan untuk bernafas." kata Wardha.
__ADS_1
" Hahaha.. bukankah kamu menginginkan aku yang selalu bersikap liar jika meladeni mu, sayang?" sahut Sarwenda.
" Tentu saja! Inilah yang membuat aku kangen akan gerakan erotis yang selalu kamu suguhkan kepadaku. Aku seketika pingsan jika sudah tenggelam dalam samudra cinta ini. Kehangatan yang kamu berikan memberikan aliran darahku seketika membeku. Aku pasrah dan tidak berkutik akan aroma nafas dan tubuhmu yang menghipnotis titik sendi- sendiku." kata Wardha sambil merem melek.
" Ya ampun, sejak kapan kamu bisa merangkai kata- kata seperti orang pujangga yang gila akan cinta?" sahut Sarwenda dengan terbahak- bahak.
" Sarwenda sayang! Lebih cepat dan lebih dalam sayang. Aku seperti tengah terhanyut dan tak mampu berenang. Aku pasrah dan siap lemah lunglai karena semburan magma yang membuat bahagia." ujar Wardha sambil memejamkan matanya.
" Hahaha.... sialan! Kata-kata mu bikin muak saja sayang. Akan aku beri pelajaran supaya kamu tidak bisa berpaling padaku." sahut Sarwenda.
" Hah? Mana mungkin aku berpaling padamu, sayang. Hanya orang bodoh lah yang akan melakukan itu semua." ujar Wardha.
*******
" Aku lapar sayang!" kata Wardha sambil mengecup dengan lembut dahi milik istrinya.
Sarwenda yang masih berbalut kan satu selimut dengan Wardha hanya tersenyum sumringah.
" Kamu ingin makan apa sayang? Bagaimana kalau kita makan di luar setelah ini." ajak Sarwenda.
__ADS_1
" Tidak! Tidak! Aku masih malas keluar rumah. Aku hanya ingin ber manja- manja dengan kamu, sayang! Kita makan di rumah saja." jawab Wardha.
" Hehehe, apakah kamu juga kangen aku, mas?" tanya Sarwenda.
" Apakah perlu aku jawab? Hal itu aku rasa kamu sudah cukup tahu. Seorang laki-laki yang berpuasa hampir dua minggu an tidak menyentuh istrinya. Aku sudah cukup menderita dengan siksaan itu, sayang!" ucap Wardha sambil menatap lekat ke mata Sarwenda.
" Hahaha, tapi kamu kuat kan mas? Apa kamu tidak tergoda dengan wanita-wanita di luar sana? Buktinya ponsel kamu tidak aktif dan tidak berusaha menghubungi aku, loh mas." protes Sarwenda.
" Aduh, apakah harus aku jelaskan berkali-kali kalau ponsel aku hilang dan aku belum sempat membeli lagi yang baru. Lagi pula kamu pun sudah mencari tahu informasi keberadaan ku di kantor cabang itu kan. Memang benar aku lagi sibuk di luar bertemu beberapa klien- klien perusahaan kita." alasan Wardha.
" Tetapi ini terlalu aneh loh, mas. Masak kamu tidak bisa menyuruh karyawan atau pegawai mu untuk membelikan ponsel baru. Sesibuk-sibuknya kamu, kamu seharusnya kasih kabar aku, dong. Betapa ini membuat aku menjadi khawatir dan risau." ucap Sarwenda dengan cemberut.
" Maaf.. maaf sayang! Aku khilaf dan sangat sibuk di lokasi. Jadi aku rasa, kamu akan lebih memahami posisi aku. Ternyata kamu sangat mengkhawatirkan aku yah! Maaf ya sayang!" kata Wardha sambil memeluk istrinya itu supaya tidak cemberut marah.
" Awas saja kalau kamu diluar sana, main gila dengan wanita lain. Aku tidak akan segan- segan membunuh kalian berdua jika aku dapati, Mas Wardha main gila dengan wanita lain." ancam Sarwenda.
Wardha menatap Sarwenda dengan tatapan penuh tanya. Mencari- cari dibalik kata- kata yang terlontar dari mulut Sarwenda itu, apakah ada keseriusan di dalamnya.
" Hai! Aku tidak main- main sayang! Aku akan bikin hidup mas Wardha dan wanita itu hidup segan mati tak mau." tambah Sarwenda yang menebak tatapan tajam dari suaminya itu.
__ADS_1
" Mengerikan sekali, ancaman mu sayang! Bahkan mendengar nya saja aku menjadi lemas tak berdaya." sahut Wardha sembari menyerobot bibir mungil milik Sarwenda yang sedari ngomel- ngomel dan marah- marah itu.