
Usia kandungan intan sudah mulai membesar. Hari yang akan dinanti-nanti nya akan tiba. Saat ini dirinya tinggal bersama mama papa nya. Wisnu, keponakannya sering berkunjung di rumah kakek dan neneknya. Pak Hartono dan Bu Hartini sangat menantikan cucu dari anak Intan.
Intan sudah menjalani hari-hari nya penuh semangat. Waktu adalah obatnya untuk melupakan kepahitan jalan dah takdir hidup nya. Betapa awalnya sangat sulit untuk dijalaninya. Namun karena keluarga nya begitu peduli dan membantu nya dalam bangkit dari keterpurukan itu, akhirnya Intan sudah terbiasa sendiri lagi tanpa bayangan masa lalu yang membuat dirinya putus asa untuk bangkit. Terlebih-lebih lagi bayi yang ada di dalam rahimnya membuat semangat Intan kembali bangkit. Bukannya hidup harus dijalani tanpa harus berkeluh kesah lagi. Rasa syukur karena banyak orang-orang disekitarnya yang sangat menyayangi dirinya. Perhatikan dari papa, mama dan juga sanak saudara di keluarga besarnya. Apalagi Wisnu sang keponakan nya selalu setia mendampingi tante nya ketika jalan ke luar rumah maupun aktivitas di kantor.
Hari itu tiba. Intan bersama mama, papa dan juga keluarga Winda sudah mendampingi Intan untuk melakukan proses lahiran dengan jalan Cesar. Hari dan tanggal itu sudah ditetapkan dan disarankan oleh pihak dokter spesialis kandungan. Intan sudah siap menjalani operasi Cesar itu. Semua anggota keluarga nya memberikan semangat dan dorongan. Semuanya berdoa untuk kelancaran operasi Cesar yang dijalani oleh Intan.
Di luar ruangan tunggu baik Winda, Haidar, Wisnu dan juga Pak Hartono menunggu. Semuanya mendoakan proses operasi Cesar yang dijalani Intan lancar dan sukses tanpa ada kendala. Semua berharap bayi dan juga ibunya baik- baik saja.
Winda ikut gelisah di ruang tunggu itu menanti sang keponakan dari anak Intan akan menghirup udara di dunia ini. Haidar tidak melepaskan genggaman tangan Winda. Wibi? Wibi anak Winda dan Haidar dalam gendongan baby sitter nya. Wibi diajak ke rumah sakit. Winda tidak ingin meninggalkan Wibi di rumah bersama baby sitter nya.
Tidak berapa lama, suara tangis bayi terdengar sampai keluar ruangan operasi Cesar itu. Itu artinya pengangkatan bayi di dalam rahim itu yang dilakukan secara Cesar sudah berhasil. Setelah itu mungkin saja Intan sedang dibersihkan dan sedang dijahit bagian sayatan di perut nya. Ruangan operasi itu masih tertutup pintu nya. Bu Hartini masih belum keluar dari ruangan itu. Apalagi dokter dan juga perawat yang melakukan tindakan operasi Cesar itu, juga belum keluar dari ruangan itu. Namun ada sedikit kelegaan dari anggota keluarga Intan karena bayi Intan terdengar suara tangisan nya.
" Anak Intan sudah lahir, sayang!" ucap Haidar pelan. Winda tersenyum lega. Demikian juga Pak Hartono dan juga Wisnu.
" Iya, kamu benar mas! Dari suaranya seperti cewek anak Intan." sahut Winda.
" Memang cewek, loh yank! Bukankah kemarin-kemarin sudah di USG kalau anak Intan berjenis kelamin cewek." ucap Haidar. Winda tersenyum sambil memegang jidatnya sendiri.
" Setelah ini kita buat adik untuk Wibi yuk, yank!" goda Haidar. Winda menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar. Haidar yang melihat reaksi Winda yang seperti malas itu akhirnya terkekeh.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Bu Hartini keluar dari ruangan operasi Cesar itu. Bu Hartini tersenyum bahagia. Wajahnya terlihat cerah dan bibir nya tersenyum lebar. Bu Hartini menghampiri suaminya, Pak Hartono. Pak Hartono tanpa malu memeluk istrinya yang sudah setengah abad usianya itu.
" Cucu kita sangat cantik, pa!" ucap Bu Hartini. Pak Hartono mengusap air mata di sudut istrinya itu yang tiba-tiba ada butiran air mata di sana. Rasa bahagia dan terharu karena mereka kembali mendapatkan seorang cucu dari anak kandung nya, Intan. Walaupun ada rasa sedih jika mengingat kalau Intan saat ini sudah tidak memiliki suami lagi. Kepergian suaminya, Andrie membuat Intan menyandang status seorang janda.
" Pasti secantik neneknya, kan?" goda Pak Hartono. Bu Hartini mencubit lengan suaminya, Pak Hartono lalu melepaskan pelukan itu. Bu Hartini malu dilihat menantu dan juga cucunya, Wisnu.
" Bukan aku, pa! Namun secantik mama nya, Intan." protes Bu Hartini.
" Secantik aku kan ma!" sahut Winda sambil tersenyum. Bu Hartini dan Pak Hartini membenarkan ucapan Winda. Haidar malah menepuk jidatnya karena melihat istrinya yang terlalu super pede. Winda yang melihat reaksi Haidar seolah tidak setuju kalau dirinya cantik, cemberut bibir nya.
" Kenapa sih? Bukannya aku cantik kan sayang?" kata Winda ingin penegasan kepada Haidar.
" Iya, cantik!" sahut Haidar akhirnya. Pak Hartono dan bu Hartini tersenyum melihat pasangan suami istri itu yang seperti pengantin baru saja.
" Aamiin!" sahut Winda pelan."
*******
Di lain tempat. Wardhana menjalani hari- hari nya seperti sudah tidak bersemangat lagi. Keadaan dan kondisi tubuhnya semakin hari semakin memprihatinkan. Wardhana seperti sudah tidak ada semangat untuk kembali pilih. Setiap hari Wardhana hanya terbaring tidak berdaya di atas kasurnya. Rosiana beserta anak- anaknya yang melihat keadaan Wardhana mulai pasrah.
__ADS_1
Setiap hari Wardhana tidak banyak memakan makanan nya ketika disuapi oleh Rosiana maupun anak- anaknya. Dahlia dan juga Siwa sering berkunjung di rumah kediaman Rosiana. Bahkan mereka sering menginap di rumah itu ikut menjaga dan merawat Wardhana. Dahlia dan juga Siwa dengan penuh kesabaran merawat ayahnya yang sudah tidak bisa apa- apa itu. Baginya itulah bentuk baktinya kepada orangtuanya yang sudah membesarkan dan mendidik nya dari kecil.
Rosiana sangat terbantu dengan perhatian dari Dahlia dan Siwa yang ikut membantu memperhatikan Wardhana yang dalam keadaan stroke itu. Walaupun masih ada perawat pribadi yang mengurus Wardhana di rumah itu. Dahlia memang tidak membiarkan Wardhana seperti sendirian tanpa ada yang merawat. Apalagi mama tirinya, Rosiana juga sibuk dengan usaha kuliner nya yang berada di dekat rumah nya itu.
Namun di suatu malam. Hal buruk pun terjadi. Kondisi Wardhana semakin memburuk. Perawat pribadi yang menjaga Wardhana mulai memeriksa kondisi Wardhana. Saat itu semua anggota keluarga berada di dalam kamar itu. Wajah- wajah panik dan juga sedih terpancar dari Rosiana dan juga anak- anaknya. Apalagi ketika perawat itu seperti pasrah melihat kondisi buruk yang terjadi pada Wardhana yang tiba-tiba.
Rosiana sudah merasakan hal buruk akan dialami oleh suami tercintanya. Ajal Wardhana seperti sudah dekat. Tanda-tanda itu semakin jelas. Rosiana mendekati Wardhana demikian halnya anak- anaknya, Dahlia, Siwa dan juga Arsyil. Mereka mulai menuntun Wardhana dengan bacaan- bacaan yang menuntun papa nya untuk kembali pulang menghadap Sang Khaliq.
Siwa dengan air mata yang tak bisa terbendung selalu membisikkan ke telinga papanya dengan ayat-ayat suci. Demikian juga Dahlia. Tangisan itu pecah. Dahlia tidak kuasa menahan kesedihan itu tatkala melihat papanya seperti merasakan sesak dan sulit untuk bernafas. Dahlia menuntun papa nya dan membisikkan kalimat syahadat. Sedangkan Arsyil membaca surah di kitab suci Al-Quran.
" Ya Tuhan! Berikanlah kebaikan untuk papa hamba. Aku mohon ampunilah segala dosanya. Hilangkan rasa sakit nya. Dan berikanlah yang terbaik untuk papa hamba." doa Dahlia dalam hati.
Di kamar itulah akhirnya sudah mulai datang pak ustadz dan beberapa tetangga di sekitar rumah komplek itu. Kini mereka yang sudah memegang kendali menuntun Wardhana dalam sakaratulmaut nya. Rosiana dan juga anak- anaknya yang menyaksikan nya sudah mulai ikhlas jika Wardhana harus pergi dan diambil oleh Sang Maha Kuasa.
Tidak berapa lama, Wardhana menghembuskan nafas terakhirnya. Pak ustadz menutup mata Wardhana dan merapatkan mulut Wardhana. Betapa rasa sakit ketika harus menghadapi sakaratul maut itu. Namun bagi orang-orang pilihan dan tertentu yang diberikan keringanan dalam menghadapi sakaratulmaut itu. Dan hanya Tuhanlah Yang Maha Berkehendak. Manusia hanya menjalankan tugas dan kewajiban kita sebagai makhlukNya. Berusaha berbuat baik dan menjalankan segala titah kita.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun." ucap Pak Ustadz beserta beberapa tetangga sebelah rumah yang ikut mengantar kepergian Wardhana pulang ke Sang Pencipta.
Rosiana dan anak-anak nya menangis terisak. Tidak ada tangisan yang histeris karena mereka sudah ikut merawat, menjaga Wardhana penuh perhatian ketika dalam kesakitan dari penyakit yang dideritanya. Mereka sudah ikhlas melepaskan Wardhana sebagai suami, ayah bagi mereka. Mungkin itulah jalan terbaik untuk Wardhana dan Wardhana tidak lagi menderita karena sakit nya.
__ADS_1
Jodoh, rejeki, maut sudah diatur oleh Nya.
Marhaban Ya Ramadhan! Mohon maaf lahir Batin untuk reader' semua. Selamat menyambut bulan suci Ramadhan dan selamat Menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankan.