
Semesta tak se sempit pikiranmu ketika hatimu telah tertutupi oleh amarah dan emosi. Bergelut lah dengan mentari tatkala sinarnya masih memancarkan cahaya. Bercengkrama lah dengan senja menyambut gelap tatkala sinar bulan mulai mengintip pelan. Songsong lah harapan dari khayalan dari nyata yang tertunda. Bangkitkan semuanya dalam kemauan dan tekad.
Di dunia ini ada yang tidak mungkin terjadi dan Tuhan pun tidak akan memberikan hal ini pada manusia. Apakah itu? Sesuatu itu adalah kemauan. Dengan berdasarkan kemauan itulah manusia akan melawan kemalasan dan menumbuhkan tekad dari keinginan nya. Terwujudnya suatu cita-cita, mimpi- mimpi dan khayalan itu adalah kemauan untuk berjuang untuk mewujudkan nya. Tinggal mau atau tidak manusia itu berupaya dan berbuat dalam langkah menempuh dan mewujudkan mimpinya atau tidak.
*******
"Mas, katakan pada ku! Apa yang kamu suka dari aku?" tanya Intan pada pria yang ada di samping nya yang masih sibuk memakan makanan yang sudah tersaji di atas meja restoran yang terlihat nyaman dengan tanaman hijau segar itu.
" Gak ada!" jawab pria itu singkat sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya.
Terlihat ekspresi Intan seketika berubah menjadi kekecewaan. Mulutnya yang awalnya terlihat manis dengan senyumnya kini berubah menjadi maju beberapa senti. Kini tangannya dengan cepat mencubit pinggang pria yang ada di didekatnya itu.
" Awww sakit sayang!" teriak pria yang berpakaian santai dengan kaos oblong dan celana Lea nya.
Kini pria itu masih sibuk dengan makanan dan minuman yang ada di atas meja sedangkan Intan hanya diam dan mengamati pria tersebut yang sedang makan.
" Kamu tidak mau makan? Keburu dingin makanan ini loh. Apa yang kamu tunggu?" ujar pria itu yang terlihat menahan senyumannya karena tingkah kekanak- kanakan nya.
" Enggak selera! Seketika kenyang dan keinginan makan aku seketika hilang." jawab Intan lalu mengambil ponselnya dan mulai mengutak-atik benda persegi yang ada ditangannya.
Pria itu lalu memandangi Intan sambil mulutnya mengunyah makanan. Senyum nya kini terlihat jelas. Giginya yang berderet putih mulai terlihat sambil melihat Intan yang merajuk karena ketidakpuasan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Intan.
" Aku menyukai kamu karena kamu apa adanya. Kamu tegas tanpa basa- basi. Kamu tipe wanita yang tidak mau menyerah dan pekerja keras. Punya ambisi untuk mencapai target tertentu. Walaupun kamu lahir dari keluarga berada tetapi kamu mau mandiri dan punya keinginan untuk sukses dan maju. Aku salut dengan wanita pekerja seperti kamu." kata pria itu sambil melihat Intan.
Intan pura- pura tidak mendengar ucapan dari pria itu. Intan masih memainkan layar di ponselnya lalu kini beralih ke makanan yang ada di depan nya setelah ponselnya, ia letakkan di meja depannya.
__ADS_1
Intan mulai mengeksekusi makanan dan minuman nya. Pria itu hanya tersenyum dan makin lebar senyumnya. Intan tidak memperdulikan sikap pria yang ada di dekat nya yang selalu memperhatikan dirinya.
" Dan satu lagi. Kamu terlihat sangat cantik kalau sedang merajuk seperti itu. Sikap cuek dan gengsi mu mulai menguasai diri kamu. Hehehe." tambah pria itu sambil menyalakan rokok nya.
Intan masih terlihat cuek. Hal itu lah yang menyebabkan pria itu semakin terkekeh.
" Kamu ngapain tertawa dan menertawai aku? Aku lagi makan nih." kata Intan sambil melihat ke arah pria itu.
" Baiklah! Habiskan dulu makanannya!" ucap pria itu sambil menghisap rokok yang sudah menyala ditangannya itu.
" Niga sebentar lagi akan menikah dengan Galuh. Dan Hendra pun demikian. Hendra juga akan menikah dengan kakak ipar kamu, Winda." cerita pria itu.
" Lalu?" sahut Intan sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
" Kita kapan?" tanya pria itu masih dengan rokoknya menghisap nya dengan pelan.
Intan mengamati wajah ganteng milik pria itu. Kulitnya yang bersih terlihat sangat terawat. Badannya yang cukup atletis memiliki nilai lebih dan menambah kesempurnaan. Ditambah penampilan nya yang cukup modis dan mengikuti trend masa kini menambah nilai lebih sebagai pemuda single yang belum pernah menikah.
" Intan sayang! Apakah kamu juga sedang marah ketika mendengar kabar bahwasanya Niga juga akan menikah dengan Galuh?" ujar Andrie dengan tersenyum menggoda.
" Tidaklah! Itu sudah bukan lagi urusan aku. Mas Niga mau menikah atau tidak dan menikah dengan siapa pun bukan lagi hak ku. Itu tidak penting dalam diriku." sahut Intan nge gas.
" Hahaha!" Andrie tertawa.
Intan makin sewot dan tangannya mulai mendarat dengan cepat mencubit pipi Andrie. Andrie dengan cekatan mengambil tangan milik Intan yang ingin mencubit pipinya. Andrie dengan lembut mengusap dan menggenggam tangan wanita itu lalu mencium punggung tangannya.
" Intan! Aku menyayangimu. Rasa itu muncul setelah mereka memperkenalkan dan mempertemukan kita saat makan malam bersama. Seketika jantung aku tidak beraturan. Detak nya begitu kencang seperti genderang." kata Andrie jujur.
"Benarkah? Berarti kita harus berterima kasih dengan Mbak Winda dan Bang Hendra dong. Karena mereka lah kita bisa lebih dekat dan akhirnya bisa sedekat ini." sahut Intan.
__ADS_1
" Betul! Berkat usaha mereka dan karena takdir dari Tuhan lah yang menentukan cerita dan babak baru untuk kita. Cerita cinta kita mulai berkobar-kobar seperti bara yang sangat sulit dipadamkan." kata Andrie serius.
" Ya Tuhan! Seperti nya aku akan pingsan mendengar kalimat yang Mas Andrie lontarkan. Aku pikir, kamu tidak bisa merangkai kata- kata indah seperti itu. Hehehe." ujar Intan terkekeh.
"Kata-kata yang mana, sayang?" tanya Andrie mulai menunjukkan keromantisan nya.
" Itu tadi. Cinta yang berkobar-kobar seperti bara dan sulit dipadamkan. Hahaha." jawab Intan geli.
" Oh itu yah! Itu karena aku suka baca novel karya Nurbaiti. Tulisan di novelnya banyak puisi yang terkena baper. Hehehe." kata Andrie.
" Author itu yah! Aku kurang suka dengan author itu. Tulisan nya terlalu cengeng dan muter-muter saja. Tidak layak sebagai penulis novel." sahut Intan sambil garuk- garuk kepala nya.
" Apakah kamu bisa menulis dan membuat karya seperti itu?" tanya Andrie sambil mendekati wajah polos milik Intan.
" Eh. eh tidak.. tidak! Aku tidak hobby menulis novel tetapi suka membaca karya-karya novel. Kamu ngapain dekat- dekat aku. Sana menjauh lah dari aku!" kata Intan mulai gugup.
Andrie dengan cepat mencium pipi Intan drai samping. Seketika Intan merona wajahnya karena malu. Andrie tersenyum sambil terkekeh melihat reaksi Intan.
" Baiklah, besok aku akan mencoba menulis novel." kata Intan dengan suara gugup.
" Oh ya? Apa judul yang ingin kamu tulis, sayang?" tanya Andrie.
" Judulnya Pacarku mesum." jawab Intan.
" Hahaha." Andrie terkekeh mendengar jawaban dari Intan.
" Baiklah, aku mengaku salah. Tidak seharusnya aku menghina karya orang yang pada dasarnya aku sendiri tidak bisa membuatnya." kata Intan serius. Andrie kembali menyerobot mencium pipi Intan.
" Baiklah, aku tunggu tulisan kamu. Pacarku Mesum." sahut Andrie.
__ADS_1
" Oh tidak.. tidak! Saya hanya becanda, sayang. Aku sangat malas untuk mengarang dan menulis. Maafkan aku." kata Intan akhirnya.