
Di sebuah rumah makan lesehan.
" Bagaimana kabar Winda, sekarang?" tanya Niga sambil menyeruput minuman dingin dengan rasa strawberry itu.
Galuh yang sedang mengunyah makanan nya akhirnya menjawab pertanyaan suaminya itu walaupun terlihat penuh mulutnya.
" Baik!" jawab Galuh singkat. Hal itu membuat Rosa dan Niga yang melihat pipi Galuh terlihat chubby itu tersenyum geli.
" Papa! Mama Galuh sedang makan, kenapa papa malah mengajaknya bicara." protes Rosa dengan terkekeh.
" Hahaha, maaf sayang! Papa khilaf!" ucap Niga sambil mengusap pucuk rambut milik Galuh lalu membersihkan sisa makanan yang belepotan di dekat pipinya.
" Rosa, ayo habiskan makanan kamu sayang!" kata Galuh dengan ramah dan penuh perhatian.
" Sudah kenyang, ma! Rosa sudah tidak sanggup." sahut Rosa sambil menatap Niga yang tersenyum kepada dia wanita di dekatnya itu. Dua wanita yang sama-sama Niga sayangi.
" Bagaimana kabar mama Margaret, sayang?" tanya Galuh kepada Rosa.
" Mama baik dan sehat. Hem sedikit bergosip nih ya ma, mama Margaret saat ini dekat dengan seseorang." cerita Rosa yang masih menggantung.
Hal itu membuat Niga mengerutkan dahinya mulai berpikir. Mungkinkah Margaret juga akan segera menikah?
" Apakah mama akan segera menikah?" tanya Niga akhirnya yang membuat Galuh seketika membulat matanya.
" Kelihatannya masih dekat saja! Hehehe." jawab Rosa cengengesan.
" Apakah ganteng?" tanya Niga lagi. Pertanyaan Niga membuat mata Galuh kembali membulat.
" Ganteng papa kok!" jawab Rosa kembali cengengesan.
" Bagus Rosa! Kamu menjawabnya dengan tepat. Jika kamu menjawab ganteng om itu, Siap-siap saja uang jajan kamu tidak turun besok pagi." ucap Galuh bercanda.
" Eh? Hehehehe! Tapi jujur saja ganteng papa kok. Om yang mendekati mama Margareta tidak sekeren papa. Walaupun om itu masih terlihat lebih muda dibandingkan dengan papa." ucap Rosa sambil melihat papanya.
" Masih muda?" tanya Niga penasaran.
" Benar!" jawab Rosa singkat.
" Oh iya pa! Setelah ini, Rosa boleh ke tempat mama gak? Rosa mau bobok di sana." kata Rosa meminta ijin.
__ADS_1
" Bagaimana dengan tugas-tugas sekolah kamu, sayang? Bukankah hari senin ada ulangan?" tanya Galuh yang ikut peduli dengan Rosa.
" Iya betul, bagaimana dengan sekolah kamu?" ucap Naga ikut membenarkan pertanyaan Galuh.
" Mama Galuh dan papa jangan khawatir! Urusan sekolah Rosa semua sudah aman terkendali." jawab Rosa.
Niga dan Galuh saling pandang.
" Sebenarnya Rosa itu hanya ingin melindungi mama Margaret juga. Kalau Rosa menginap di rumah mama Margaret, om itu pasti tidak berani menginap di rumah mama Margaret." cerita Rosa akhirnya.
Niga dan Galuh saling pandang.
" Apakah laki-laki itu pernah menginap di rumah mama kamu itu? Apakah kamu pernah melihat nya sendiri?" tanya Niga penasaran.
"Pernah sekali! Ketika hari minggu pagi, Rosa ijin ke papa untuk main ke rumah mama Margaret. Di sana ternyata ada om itu sudah di rumah mama. Lalu Rosa bertanya pada om itu, apakah semalam menemani mama di rumah itu? Dan ternyata om itu membenarkan, kalau dirinya menginap di rumah mama." cerita Rosa seperti ibu- ibu yang suka bergosip.
Galuh dan Niga saling pandang.
" Mungkin waktu itu hujan, sayang! Jadi om itu gak bawa mantel dan akhirnya tidur di rumah mama Margaret." sahut Galuh mencoba supaya Rosa tidak menyudutkan mama Margaret.
" Mama Galuh! Om itu bawa mobil! Apa kalau dalam keadaan hujan, jika mengendarai mobil masih bisa kehujanan?" protes Rosa.
Galuh dan Rosa yang mendengarnya menjadi tertawa terbahak- bahak.
" Papa! Rosa sudah dewasa. Sudah mengerti mana yang pantas dan tidak." ucap Rosa.
Galuh akhirnya mengusap lembut puncak kepala milik Rosa.
" Baiklah! Jagalah mama Margaret dari lelaki hidung belang." kata Niga akhirnya.
" Jadi, papa kasih ijin Rosa kan, untuk menginap di rumah mama Margaret?" tanya Rosa.
" Baiklah! Asal bawa laptop dan buku- buku pelajaran kamu sayang!" jawab Niga sambil mengusap rambut Rosa.
" Terima kasih Papa." sahut Rosa sambil tersenyum.
" Baiklah! Nanti kami antar kamu ke rumah mama Margaret." kata Niga akhirnya.
*******
__ADS_1
Di rumah Niga.
" Jadi gimana hubungan Winda dengan Bang Hendra sekarang?" tanya Niga sambil membenamkan kepalanya ke dada milik Galuh.
" Tampaknya mereka belum bisa disatukan kembali, mas! Winda masih ingin sendiri. Dan Bang Hendra pun belum gencar mendekati Winda lagi. Mereka berdua sama- sama keras Kepalanya." jawab Galuh sambil mengusap kepala milik Niga yang ada di atas dadanya. Mungkin saja bagi Niga posisi itu lebih nyaman dibandingkan tidur di atas bantalnya.
" Menurut mas Niga gimana? Dalam hal ini apakah mereka tidak akan kembali menjalin hubungan seperti dulu?" tanya Galuh.
" Tidak tahu juga, sayang! Mungkin saat ini antara Winda dengan Bang Hendra saling introspeksi diri dulu. Kita doakan saja mereka bisa berjodoh. Namun kalau tidak berjodoh ya, itu bukanlah kuasa kita." ucap Niga.
" Kita fokus saja buat adik bayi. Sepertinya Rosa sudah sangat ingin memiliki adik." kata Niga sambil memeluk Galuh.
" Bukan Rosa, mas! Namun aku sendiri juga sangat ingin menjadi ibu. Merasakan bagaimana hamil, menyusui, merawat bayi, membesarkan dan mendidik anak-anak." kata Galuh serius.
" Eh? Sabar sayang ku! Kita tetap berusaha terus dan selalu berdoa.Kamu jangan putus asa dong, sayang!" ucap Niga sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya mas!" sahut Galuh sambil meletakkan kepala Niga ke bantal di dekatnya.
" Kamu mau kemana sayang?" tanya Niga yang melihat Galuh hendak turun dari peraduan itu.
" Mau buatkan kopi untuk mas Niga!" jawab Galuh.
" Nanti saja, sayang!" ucap Niga sambil mengambil tangan Galuh lalu menarik nya kembali ke atas kasur itu.
" Mas!" panggil Galuh pelan.
" Iya sayang!" sahut Niga.
" Kalau aku benar-benar tidak bisa hamil dan punya anak gimana mas?" tanya Galuh sambil memandang Niga dengan tatapan yang sedih dan penuh kekhawatiran.
" Sayang! Jangan putus asa dulu dong! Kamu dan aku kan saat ini sedang menjalani program kehamilan. Nasihat dari dokter spesialis itu selalu kita ikuti selain obat- obat yang dia resep kan untuk kita. Kamu jangan menyerah ya, sayang!" ucap Niga.
" Aku hanya khawatir saja, mas! Jikalau benar-benar aku mandul gimana mas? Jawab saja dengan jujur mas. Aku ingin mendengar jawaban dari kamu, mas." kata Galuh dengan serius dan mata penuh memohon.
" Jujur, aku secara pribadi juga menginginkan anak itu lahir lewat rahim kamu, sayang! Aku ingin buah cinta kita itu di sini. Namun jikalau Tuhan belum memberikan itu semua pada kita, aku dan kamu harus ikhlas. Aku pribadi tidak akan mempersoalkan itu semua, sayang! Toh kita sudah ada Rosa bukan?" kata Niga sambil memeluk Galuh.
" Mas!" panggil Galuh pelan sambil mengeratkan pelukannya.
" Sudah dong! Jangan menangis sayang! Aku selalu mencintai kamu, sayang!" ucap Niga sambil mengecup dahi milik Galuh.
__ADS_1