Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADU KU 2 (EPISODE 31)


__ADS_3

Di ruang makan.


" Intan hamil, pa!" kata Bu Hartini pelan sambil mendekat ke suaminya. Pak Hartono. Pak Hartono langsung mengucapkan syukur.


" Di mana Intan sekarang?" tanya Pak Hartono. Winda mulai ikut menjawabnya.


" Tadi bersama Wisnu pa! Mungkin di dalam kamarnya, pa. Apa saya panggilkan pa?" sahut Winda.


" Tidak usah, Winda! Biar kan saja mereka beristirahat. Kamu juga istirahat saja, Winda. Kamu kan lagi hamil, jangan capek- capek." kata Pak Hartono. Haidar mulai tersenyum.


" Apakah kami boleh kembali pulang ke rumah, pa? Besok kami kemari lagi." kata Haidar seketika mendapatkan cubitan dari Winda.


" Tentu saja, Haidar! Kalian pulanglah dan beristirahat. Besok malam bisa kemari lagi, kita mengirim doa bersama untuk almarhum Andrie." ucap Pak Hartono lalu dibenarkan oleh Bu Hartini.


" Ayo, Winda kita pulang sekarang!" ajak Haidar. Winda masih cemberut saja.


" Aku ingin bobok di sini loh, mas! Di rumah ini banyak kamar kosong loh, mas!" kata Winda seperti merengek.


" Ah bilang saja, kamu tidak nyaman kalau harus tidur di rumah orang. Dan aku pikir pasti kamu akan modus kan? Pasti kamu ingin gituan dengan aku." batin Winda sambil cemberut.


" Winda sayang! Pulanglah, nak! Besok malam kalian bisa kemari lagi." kata Bu Hartini. Haidar merasa ada yang membelanya.


" Asyik! Nanti bakal ada pertempuran panas di ranjang deh." batik Haidar sambil senyum- senyum sendiri.


" Ya sudah deh! Pulang ke rumah kayu yah, mas! Sekalian ajak Wisnu pulang! Kangen Wisnu mau peluk Wisnu." ucap Winda manja.


" Weh, Wisnu loh sudah gedhe, ngapain dipeluk- peluk loh? Yang ada Wisnu pasti sudah malu dong, dianggap seperti anak kecil." batin Haidar sambil menggandeng pinggang Winda untuk berpamitan papa, mama nya untuk pulang.


" Mama, papa kami pulang." kata Winda dan Haidar secara bergantian.


" Kamu harus sabar- sabar menghadapi bumil, Haidar! Ibu hamil itu banyak maunya." bisik Pak Hartono ditelinga Haidar sambil berdiri mengantarkan keduanya ke depan rumah.

__ADS_1


Bu Hartini mencari Wisnu di dalam kamar Intan dan menyuruhnya kembali pulang bersama mama papanya.


" Loh, tidak menginap di sini saja?" protes Wisnu. Bu Hartini tersenyum sambil. mengusap punggung cucunya itu yang sudah mulai tumbuh menjadi laki-laki dewasa.


" Tante, aku pulang dulu yah! Besok kami pasti kemari lagi." kata Wisnu sambil bersalaman kepada tantenya yang sudah mulai bersiap untuk tidur karena lelah lahir batinnya.


" Iya, maaf tante tidak bisa mengantarkan kalian ke depan yah." sahut Intan.


" Tidak apa- apa. Mama dah papa yang mengantarkan mereka ke depan kok." ucap Bu Hartini lalu berjalan beriringan bersama cucunya itu.


" Nenek, Tante Intan sudah tahu kejadian semuanya." kata Wisnu akhirnya. Bu Hartini menarik nafasnya dalam- dalam.


" Ya sudahlah! Semoga tante kamu bisa memaafkan suaminya dengan ikhlas." sahut Bu Hartini.


" Semoga saja, yah Nek!" kata Wisnu akhirnya.


Winda dan Haidar sudah di dalam mobilnya. Wisnu bergegas masuk ke dalam nya. Wisnu melambaikan tangannya ke arah kakek dan neneknya. Winda dan Haidar tersenyum dan mulai menutup kaca mobilnya setelah mobil mereka jauh meninggalkan rumah milik Intan beserta suami nya, Andrie itu.


" Iya, nak! Apakah kamu masih bersedih akan meninggalnya om Andrie?" tanya Haidar. Winda sudah mulai menguap dan memejamkan matanya. Ibu hamil itu setelah perut nya kenyang bawaannya mau bobok saja. Haidar tersenyum melihat istrinya yang mulai tidur.


" Sedih pa! Namun saya lebih sedih ketika melihat tante Intan. Yang sudah meninggal tidak merasakan lagi penderitaan di dunia. Namun yang masih hidup di dunia ini masih merasakan kesedihan, kepahitan hidup di dunia." kata Wisnu. Haidar tersenyum mendengar Wisnu.


" Kamu sudah semakin dewasa, nak! Namun kenapa mama kamu malah semakin manja yah." ucap Haidar. Keduanya terkekeh pelan. Winda sudah tertidur dan tidak mendengarkan ucapan Haidar. Jika Winda mendengarnya, pasti Winda akan cemberut saja.


*******


Sesampainya di rumah kayu mobil itu masuk ke dalam garasi. Winda terlihat sudah tidur dengan pulas. Wisnu mulai keluar dari dalam mobil milik papa Haidar.


" Papa, kuat kan mengangkat mama?" tanya Wisnu sambil terkekeh.


" Papa akan membangunkan mama kamu saja. Perut mama sudah makin buncit saja. Papa takut tidak kuat menggendongnya." ucap Haidar. Haidar kini mendekati Winda yang sudah tidur nyenyak di dalam mobil itu.

__ADS_1


" Papa, aku masuk duluan yah!" kata Wisnu. Haidar mengangguk cepat.


" Sayang! Sudah sampai di rumah, sayang! Ayo masuk, ke dalam. Pindah boboknya." kata Haidar pelan sambil menepuk istrinya itu. Winda pelan- pelan membuka matanya.


" Hem? Sudah sampai yah?" sahut Winda. Haidar mulai memeluk Winda dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


" Lapar lagi!" ucap Winda pelan. Haidar membulat matanya.


" Kamu mau makan apa sayang?" tanya Haidar.


" Mie rebus aja deh, tapi super pedes dan sawi hijau nya yang banyak." kata Winda.


" Nanti kita lihat dulu, Di kulkas ada sawi hijau tidak, yah sayang." kata Haidar lembut.


" Kamu tidak ngantuk, mas?" tanya Winda. Kini keduanya sudah masuk ke dalam kamarnya.


Haidar mulai memberi salam bibir milik Winda itu dengan bibir nya. Pelan- pelan Haidar mengecup lalu menciumnya lama. Haidar mulai menuntut lebih. Tangannya kini mulai tertarik pada benda kenyal milik Winda yang semakin besar dan seksi. Kehamilannya kini, kedua benda kenyal milik Winda semakin berisi. Itu menjadikan Haidar semakin tergoda untuk tidak memainkannya.


" Kenapa ini makin besar sih?" ucap Haidar sambil membuka bagian-bagian yang menutupi daerah itu.


" Ini nanti bekal untuk adik bayi, mas! Jangan dirusak loh!" ucap Winda. Haidar malah terkekeh.


" Tidak! Tapi itu milik aku sebelum nya. Adik bayi nanti harus minta ijin papa nya dulu jika hendak mimik itu." ucap Haidar sambil tangannya tidak luput bermain dengan benda kenyal itu.


" Astaga! Gak boleh rebutan sama anak sendiri." sahut Winda sambil terkekeh.


Tanpa banyak kata, Haidar kini mulai banyak aksinya. Tidak mensia-siakan waktu lagi, Haidar mulai bermain lembut dengan istrinya. Winda pasrah akan suami nya yang hendak menuntut pelayanan di atas ranjangnya. Akhirnya malam itu pergumulan itu terjadi.


" Aku akan pelan- pelan melakukan nya, sayang! Kamu jangan khawatir." bisik Haidar kepada Winda. Winda mulai melenguh.


" Adik bayi, sayang! Papa akan mengunjungi kamu yah, nak! Papa akan memastikan,kalau kamu di sana baik- baik saja. " kata Haidar sambil mengusap perut buncit milik istrinya itu. Winda terkekeh mendengar ucapan suaminya yang super mesum itu.

__ADS_1


__ADS_2