
Matahari tepat di atas kepala. Panasnya sangat menyengat kulit. Cuaca siang hari itu begitu panas. Winda masih di rumah menanti kedatangan suami yang tercinta. Tidak berapa lama pintu rumah Winda diketuk seseorang. Winda dengan cepat membuka pintu rumahnya itu. Betapa terkejutnya Winda dengan kehadiran seorang bapak dan ibu yang sudah separuh baya itu. Mereka mencari Surya. Ibu itu ada raut kesedihan diwajahnya. Mungkin saja sudah terlalu lama mereka tidak menjumpai Surya. Mereka adalah papa dan mama Surya yang sudah sekian lama tidak bertemu dengan Surya.
" Papa! Mama! Silahkan masuk!" kata Winda sambil menjabat tangan kedua orang tua itu lalu menciumnya. Dia adalah mertuanya. Mungkin saja Winda tidak dianggap sebagai menantu nya. Pandangan yang merendah melihat Wind yang sedang hamil anaknya Surya.
" Surya mana?" tanya papa Surya yang bernama Pak Hartono itu sambil duduk di kursi kaya.
" Mas Surya di rumah pak lurah. Rumahnya dekat dari sini pa!" jawab Winda.
" Ada kerjaan apa Surya disana?" tanya mama Surya yang bernama Bu Hartini. Pandangannya meneliti tiap sudut rumah itu yang tidak ada barang mewah satupun disana. Pandangan nya miris dan penuh iba karena anak laki-laki nya hidup jauh dari kata mewah dan mapan.
" Ada borongan menge cat rumah baru pak Lurah ma!" jawab Winda sambil menundukkan kepalanya.
" Apa kamu bilang? Anak laki-laki aku kamu suruh bekerja dan membanting tulang dengan pekerjaan kasar itu?" sahut Pak Hartono penuh kemarahan.
" Suruh secepatnya dia pulang! Bilang ada papa dan mamanya mencari nya!" ucap Bu Hartini.
" Eh? Iya ma! Saya akan segera menyusul Mas Surya." sahut Winda sambil mengambil jaket dan berlalu meninggalkan Pak Hartono dan Bu Hartini.
" Hadeuh! Kenapa anakku hidup susah seperti ini?" ucap Bu Hartini.
" Mama! Itu sudah pilihan Surya. Kenapa dulu dia tidak menuruti perintah kita untuk menikah dengan putri dari relasi bisnis kita." kata Pak Hartono.
" Tapi Pa? Kita harus membujuk Surya untuk kembali pulang dan membantu bisnis papa." ucap Bu Hartini.
" Iya! Nanti papa coba nasihati Surya." sahut Pak Hartono.
" Bagaimana dengan Winda istrinya?" tanya Bu Hartini.
" Winda sedang hamil! Tidak mungkin jika kita menyuruh Surya untuk menceraikan nya. Untuk saat ini, kita ikuti kemauan anak kita Si Surya ma!" ucap Pak Hartono.
" Baiklah! Lagi pula, anak Winda adalah darah daging dari Surya. Aku juga ingin menimang cucu dari anak - anakku." ucap Bu Hartini.
" Iya ma! Sebentar lagi pernikahan adiknya Surya, Si Intan. Surya harus secepatnya kembali kerumah besar kita dan berkumpul semua." kata Pak Hartono.
" Iya Pa! Aku kangen Surya! Melihat keadaan Surya yang serba kekurangan seperti ini, rasanya hatiku sangat sedih. Surya dari kecil sudah terbiasa hidup serba kecukupan dan tidak kurang suatu apa. Kini disini?" ucap Bu Hartini sambil mengusap air matanya.
" Ya sudah! Nanti Surya juga kembali ke rumah besar kita lagi." sahut Pak Hartono.
__ADS_1
" Iya Pa! Semoga Surya mau dibujuk untuk pulang kembali ke rumah." ucap Bu Hartini.
" Dia pasti mau jika kita menerima Winda sebagai menantunya." kata Pak Hartono.
" Iya pa! Kita ikuti dulu kemauan Surya anak kita pa!" ucap Bu Hartini.
*******
Winda berjalan menuju rumah Pak Lurah. Panasnya matahari sudah tidak dihiraukan lagi. Ia harus segera menjumpai suaminya karena papa dan mama Surya datang tanpa diduganya. Kurang lebih hampir satu jam, Winda berjalan dipinggir jalan. Akhirnya, sampai lah dirumah yang besar dan masih baru belum berpenghuni.
Winda segera mencari Surya, suaminya. Di depan ada dua orang bapak - bapak separuh baya sedang beristirahat sambil menikmati kopi dan rokok.
" Assalammualaikum! Pak maaf! Mas Surya ada?" tanya Winda tanpa berbasa-basi.
" Oh! Ada di dalam! Mungkin sedang sholat Mbk!" jawab salah satu bapak itu.
" Masuk saja mbk! Ada diruangan tengah, Surya sholatnya." ucap bapak itu.
" Terimakasih pak!" ucap Winda sambil masuk kedalam rumah baru milik pak Lurah.
Diruang tengah terlihat, Surya sedang menjalani sholat dhuhur. Winda Akhirnya menunggu sampai Surya sholat menunaikan sholatnya. Winda tersenyum melihat suaminya itu tidak meninggalkan kewajiban nya sebagai orang muslim. Ketika pekerjaan masih menunggu nya, Surya masih menyempatkan menjalankan ibadah wajib itu.
" Mas!" panggil Winda pelan.
" Eh? Winda! Kenapa kamu kemari? Kamu naik apa?" tanya Surya terkejut.
" Kamu jalan kaki kemari?" tanya Surya lagi.
Winda mengangguk pelan.
" Mas! Ada papa dan mama mencari mu dirumah!" cerita Winda.
" Hem! Biarkan saja!" sahut Surya.
" Mas?" ucap Winda sedikit memohon.
" Aku tidak mau pulang, Winda! Mereka tidak tulus menyukai kamu! Kamu pasti akan mendapatkan penghinaan dari mereka!" ucap Surya.
__ADS_1
" Mas! Mereka orang tua kamu mas! Mama kamu begitu rindu dengan mu. Aku tahu dari raut wajahnya." cerita Winda.
" Tapi aku tidak mau kembali! Jika kamu tidak ikut bersama dengan aku." ucap Surya.
" Iya Mas! Sebaiknya kita pulang dulu kerumah! Kita jumpai papa dan mama kamu!" kata Winda sambil memegang tangan suaminya itu tanda memohon.
" Hem Winda! Mas tidak mau!" ucap Surya.
" Tolong mas! Kali ini saja! Temui papa dan mama kamu dulu dirumah. Siapa tahu ada yang penting yang akan mereka bicarakan dengan kamu." kata Winda.
" Penting apanya. Semua pasti untuk kepentingan mereka sendiri saja." sahut Surya.
" Mereka seperti itu untuk kebahagiaan Mas Surya." ucap Winda.
" Tapi aku harus melindungi kamu Winda! Jangan sampai mereka menghina kamu lagi." kata Surya.
" Iya! Ayo mas! Kita pulang!" ajak Winda sambil menarik lengan Surya.
Surya dengan malas akhirnya mengikuti kemauan istrinya. Setelah permisi dengan rekan kerjanya, akhirnya Surya dan Winda pulang mengendarai motor maticnya.
" Kamu berjalan kaki panas - panas begini tidak ingat kalau kamu sedang mengandung?" ucap Surya marah.
" Maaf Mas! Tapi dengan jalan kaki tambah sehat loh mas!" sahut Winda.
" Hem kamu ini, keras kepala juga!" sahut Surya.
" Kamu sudah makan belum mas?" tanya Winda sambil berpegangan di pinggang Surya.
" Alhamdulillah sudah! Pak lurah tadi mengirim nasi bungkus kerumah." jawab Surya.
" Alhamdulillah!" sahut Winda.
" Kamu sudah makan belum sayang?" tanya Surya.
" Hem! Tadi aku nungguin kamu! Aku kira kamu pulang makan siang dirumah." jawab Winda.
" Tuh kan! Kamu selalu bandel! Ingat sayang! Kamu sedang hamil. Ada bayi kita yang masih didalam perut itu perlu gizi dan makan" ucap Surya.
__ADS_1
" Iya mas! Maaf! Lain kali aku tidak begitu lagi!" sahut Winda.
" Nanti kalau aku disuruh pulang! Kamu harus ikut denganku ya sayang! Aku tidak ingin kita berpisah." ucap Surya sambil memegang tangan Winda yang berpegangan di pinggang nya.