
DI ruang tengah yang cukup luas itu hampir semua keluarga berkumpul untuk makan bersama. Galuh dan Niga pun terlihat duduk berdekatan di sana. Mereka seolah tidak mau saling berjauhan. Winda dan Hendra pun duduk berkumpul di dekat pasangan kekasih itu yang hendak menikah.
" Winda, kapan kamu akan menyusul seperti kami?" tanya Galuh kepada Winda. Pertanyaan itu membuat Hendra tersedak ketika sedang meminum air mineralnya.
" Menyusul kemana, dek? Dan satu hal yang harus ku ingatkan lagi kepadamu adikku Galuh yang manis sendiri. Panggil Winda dengan, Mbak Winda. Ingat itu! Winda bakalan menjadi kakak ipar kamu. Jadi biasakan memanggilnya dengan itu." kata Hendra serius.
Kata-kata Hendra membuat orang yang mendengar nya menjadi tersenyum. Seperti halnya Niga dan juga Galuh.
" Iya, aku ralat nih. Mbak Winda kapan ada rencana menikah?" tanya Galuh lagi.
" Pertanyaan itu, seharusnya kamu tujukan ke abang kamu, sayang. Bukan ke aku. Kapan dia meminang, melamar dan mau menikah dengan aku." jawab Winda sambil melirik ke arah Hendra di samping nya.
" Besok! Besok mau gak? Kita langsung ke KUA." kata Hendra akhirnya yang kemudian beberapa mata membulat menatap ke arah Hendra. Seperti halnya papa, mama Hendra yang menatap Hendra lalu kemudian melemparkan senyuman ke putra laki-laki nya yang sudah dewasa dan selayaknya harus menikah.
__ADS_1
Winda mencubit pelan ke pinggang Hendra yang mulai konyol berkata- kata di depan banyak orang. Yuslita yang duduk makan di dekat ibu Sundari menatap kurang suka terhadap Winda yang terlihat tersenyum malu- malu.
"Bagaimana Win? Abang ku sudah menantang kamu untuk segera menikah ke KUA. Kamu mau?" tanya Galuh menggoda.
" Lagi-lagi kamu lupa, Adik ku sayang! Panggilan apa yang kau panggil tadi." sahut Hendra.
" Hahaha iya iya, mbak Winda." Kata Galuh akhirnya
" Queen! Ke kamar aku saja!" ajak Hendra sambil mengantar Winda.
" O abang! Mau ke belakang saja, Mbak Winda harus di buntuti. Takut sekali kalau hilang." sahut Galuh.
" Sama aja dengan kalian! Lusa sudah acara pernikahan kalian pun, mempelai pria nya sudah kabur ke tempat pengantin wanita." goda Hendra sambil melihat ke arah Niga. Niga pun menjadi tertunduk malu.
__ADS_1
" Yuslita, kamu kapan menyusul kami?" tanya Galuh kepada Yuslita.
" Eh? Masih belum ketemu jodohnya." jawab Yuslita sambil melihat ke arah bu Sundari.
" Nanti juga akan ketemu. Jodoh tidak akan kemana, Yuslita. Di sekitar kamu itulah jodoh kamu. Tidak mungkin yang jauh- jauh. Kalau pun dapat yang jauh, yang jauh itu pasti akan mendekati kamu." sahut Bu Sundari.
" Iya ma! Tapi yang dekat sudah dengan yang lain." kata Yuslita.
Kata-kata Yuslita menjadikan Galuh mencari keberadaan orang yang dimaksud oleh Yuslita. Sedang orang yang dimaksud lagi di dalam kamarnya. Niga yang mendengar percakapan itu hanya ikut senyum saja.
" Di mana-mana pasti ada duri yah. Seperti halnya ikan, di dalam nya ada duri yang sewaktu- waktu bisa menusuk kalau kita tidak berhati-hati." sahut Niga pelan sambil berbisik ke dekat telinga Galuh.
" Iya, seperti halnya Intan yang masih nekat mengejar kamu kan, mas!" balas Galuh dengan suara ikut pelan. Galuh pun mendapatkan cubitan pelan dari Niga di pinggang nya.
__ADS_1