Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MALAM PANJANG II


__ADS_3

" Sebagai seorang istri tuh, pergi keluar rumah pun seharusnya ijin suami. Kamu ini seperti tidak pernah di ajari adab." ucap Hendra tanpa ada beban.


"Yang ngomong pun tidak punya adab." sahut Winda tidak mau kalah.


" Hah? Apa kamu bilang?" tanya Hendra mulai terpancing emosi dengan ucapan Winda.


" Aku bilang, Om pun tidak punya adab juga." kata Winda memperjelas dengan sebutan Om.


Hendra yang mendengar kalimat yang di lontarkan Winda pun mata nya melotot membesar seperti bola kelereng. Eh bukan! Lebih tepat nya bola voli. Sangking panasnya ubun-ubun Hendra, segala yang di lihat nya serasa mendidih. Winda semakin terpancing emosi dengan kemarahan Hendra.


Galuh yang masih membuatkan kopi belum juga datang. Diantara kedua orang itu masih pandang - pandangan sinis dan penuh kebencian.


" Ngapain melotot om? Itu mata tidak bisa di kondisikan apa? Sudah membulat gitu. Tidak takut lepas dan aku goreng dan aku kunyah- kunyah lalu ku Telan masuk dalam perut aku." ucap Winda tanpa jeda.


" Kamu ini! Di nasihati tidak mau. Seorang istri itu wajib dan harus nurut dengan lakinya." kata Hendra mulai merendahkan nada bicaranya. Suara nya mulai pelan seolah-olah benar- benar serius ingin menasihati Winda.


"Lagi pula kamu bukan laki aku. Kamu siapa aku? Berani nya mengatur aku." sahut Winda ketus.


" Aku pencabut nyawa kamu!" teriak Hendra yang membuat Galuh yang baru datang mulai terperanjat kaget akan teriakan melengking kakaknya itu.


Winda yang awalnya sudah emosi akhirnya malah menahan tawa nya.


" Kenapa sih kalian? Ribut melulu?" ujar Galuh sambil meneliti wajah kakaknya yang mulai memerah karena kemarahan nya. Dan kini beralih ke wajah Winda malah cekikikan dengan tawanya.


" Kamu kenapa Winda? Ada apa dengan kamu bang?" tanya Galuh yang mulai meneliti ekspresi wajah diantara mereka yang kontras. Satu dengan kemarahan nya yang satu tertawa senang.


" Wanita sekarang memang sangat susah di atur." ucap Hendra sambil menyalakan rokok nya.


" Mana kopi aku?" imbuh Hendra lagi.


" Nih! Mau yang ini atau itu?" tunjuk Galuh ke arah dua cangkir kopi buatan Winda atau buatan nya yang masih panas.


" Buatan kamu saja pasti lebih bisa di atur di lidah. Buatan wanita ini, macam orangnya susah di atur kalau sudah masuk dalam perut." jawab Hendra.


" Paling tidak bisa melancarkan pencernaan kamu, Om! Om susah BAB kan?" celetuk Winda tanpa dosa.


" Ya ampun, kalian ini! Tidak bisa akur apa?" keluh Galuh.


" Om Hendra yang mulai, Galuh. Bukan aku! Aku kan dari tadi diam saja tidak berulah. Dia ngomel-ngomel tidak jelas." bela Winda.


" Diam saja kamu sudah salah, apalagi bicara." sahut Hendra.


" Astaga! Sudahlah berisik sekali. Sudah malam tahu." kata Galuh.


" Dari tadi pun juga sudah malam." sahut Winda.


" Galuh! Aku ke kamar dulu yah, lihat Wisnu." imbuh Winda.


" Nah bagus urusin anak kamu itu dibanding meladeni aku." sahut Hendra.


Galuh dan Winda yang mendengar celutuk Hendra saling pandang dan akhirnya mereka malah tertawa lepas.


" Kalian kenapa malah mentertawakan aku?" tanya Hendra dengan polosnya.

__ADS_1


" Duduk lah dulu Winda! Bang Hendra memang gitu orang nya." sahut Galuh.


******


Kamu jangan terlalu benci pada ku. Kamu jangan terlalu memandang sebelah mata kepadaku. Kamu jangan sinis padaku. Kamu jangan terlalu berlebihan kepadaku. Segala yang berlebihan itu akan menjadi tidak baik. Kamu tahu itu bukan? Benci akan berubah menjadi cinta jika kamu tidak bisa menangkis nya.


*****


" Besok pagi aku antar pulang ya, Winda!" kata Galuh.


" Tidak perlu Galuh! Aku datang sendiri dan pulang harus sendiri juga." ucap Winda.


" Iyalah! Macam jalangkung. Datang tidak dijemput pulang tidak diantar." sahut Hendra.


Winda dan Galuh hanya memandang Hendra tanpa tanggapan. Mereka kini serius dalam pembicaraan. Hendra pun mulai menciut dan akhirnya terdiam.


" Biar Abang saja yang antar!" tawar Hendra akhirnya.


Galuh dan Winda pun saling pandang dan lalu menatap ke arah Hendra.


" Kalian kenapa menatap aku secara bersamaan? Tidak pernah lihat wajah ganteng seperti Abang ini?" ucap Hendra.


" Baiklah! Sore saja bang, Saya pulang nya." ucap Winda serius.


Hendra yang mendengar kalimat manis dari Winda pun jadi terpana.


" Bisa juga nya, bicara lembut." sahut Hendra.


" Oh pantas saja! Jadi tidak perlu di antar kan? Datang pun tidak di jemput kok." kata Hendra.


" Iya! Saya bisa naik taksi kok bang." sahut Winda.


" Eh?? Serius amat yak. Tadi pemarah sekarang jadi sensitif. Ngambek aja. Apakah ibu - ibu menyusui seperti ini kah?" tanya Hendra.


" Seperti yang Abang lihat kan? Tetap seksi dan menggoda." celutuk Galuh.


" Mana seksi? Badan kerempeng macam triple gitu kok di bilang seksi." ucap Hendra.


" Tapi suka kan?" goda Galuh lagi.


" Ogah! Abang di kasih 10 macam wanita seperti ini pun gak bakalan mau." kata Hendra.


" Waduh! Satu saja belum tentu ada yang mau dengan bang Hendra loh!" ucap Galuh.


" Wih. Jangan menghina abang mu ini Galuh." sahut Hendra.


" Makanya bawa pacar Abang ke rumah. Buktikan kalau ada cewek yang mau dengan Abang." tantang Galuh.


Winda yang menjadi pendengar diantara mereka hanya tersenyum saja.


" Kamu kenapa jadi pendiam, Winda?" tanya Galuh.


" Weh. Dia diam saja sudah salah apalagi ngomong." sahut Hendra.

__ADS_1


" Jadi besok diantar jam berapa?" imbuh Hendra yang bertanya kepada Winda.


" Terserah om saja." jawab Winda.


" Aku mohon kepada kamu, wahai wanita yang cantik, anggun bak bidadari yang turun dari comberan. Panggil aku dengan Bang Hendra!" ucap Hendra.


" Iya maaf! Bang Hendra! Setelah Abang pulang dari kantor saja." kata Winda.


" Akhirnya kamu menunjukkan sifat pengertian mu juga. " ucap Hendra.


" Bang Hendra! Kalau ada lowongan pekerjaan di perusahaan Abang. Saya mau bekerja di sana bang." kata Winda serius dalam pembicaraan nya.


" Lalu? Bagaimana dengan anak kamu? Bukankah anak kamu masih bayi?" tanya Hendra.


" Apakah suami kamu tidak cukup berduit untuk membiayai anak dan dua istrinya?" tambah Hendra.


Galuh dan Winda hanya terdiam dan saling pandang. Winda terkejut kenapa Hendra bisa tahu duduk permasalahannya. Winda hanya menunduk lesu.


" Maaf Winda! Aku yang cerita dengan abang." sahut Galuh dengan penyesalannya.


" Jangan serius gitu. Lagi pula masalah kamu masalah aku juga. Aku akan membantu kamu, Winda!." ucap Hendra serius.


" Lagi pula, kamu adalah sahabat adik aku. Aku wajib tahu dong jika kamu dalam masalah. Aku bisa memecahkan masalah atau sekadar membantu menjadi sandaran kepala kamu ketika kamu ingin menangis." kata Hendra.


" Males banget! Aku gak mau nangis!" kata Winda tegas.


" Widih! Hebat! Aku kasih seratus jempol buat kamu!" sahut Hendra.


" Jangan buru-buru ingin kerja dulu! Bicarakan dahulu baik- baik dengan laki kamu. Kamu jangan lari dari masalah ini, Winda. Jika kamu menerima di madu oleh suami kamu, jalani saja. Kalau tidak rela dan ridlo, datanglah kepadaku." ucap Hendra.


" Datang ke Abang? Ngapain bang?" tanya Galuh.


" Datanglah ke Abang untuk meminjam bahu Abang untuk menangis dan minta kerjaan." ucap Hendra.


" Ogah! Bagus aku bersandar di tembok dari pada pinjam bahu Abang." sahut Winda sewot.


" Yo wes! Terserah kamu saja. Yang penting kamu bahagia." kata Hendra mengakhiri pembicaraan dan melangkah meninggalkan Galuh dan Winda masuk ke dalam kamarnya.


T


H


E


E


N


D


THE END


TAPI BOHONG

__ADS_1


__ADS_2