
Apa yang kau inginkan di dunia ini? Sedangkan harta, tahta, wanita sudah kamu dapatkan. Bukankah tiga macam itu sudah ada di genggaman kamu? Lalu, apalagi yang kau ingkari dari pemberian Tuhan itu terhadap kamu? Iya! Pasti kamu belum mendapatkan ketenangan, ketentraman dari rasa nikmatNya bukan? Tentu saja! Kamu bisa mendapatkan dan memperoleh ketenangan, ketentraman, dan juga kedamaian itu jika kamu masih ada iman. Iman itu ada di hati kamu. Satu titik atau biji sawi pun akan terasa tenang jiwa kamu, jika ada cahaya keimanan itu. Carilah! Tidak sekadar berikrar, bahwa kamu adalah orang yang beriman. Semua terwujud dalam tingkah dan aplikasi perbuatan kamu. Temukan semua cahaya yang bisa menuntun langkah kamu menuju jalan- jalan yang di ridloi Nya. Tidak sekadar mencari kesenangan dan kepuasan diri dan menuruti hasrat diri. Dengarkan suara- suara hati kamu, yang lembut dan nyaris tidak terdengar karena hawa nafsu mu. Cahaya Nya akan memberi kedamaian dan kenikmatan yang abadi, lebih dekat dengan Nya.
Sesungguhnya, kenikmatan yang sejati adalah bisa dekat dan di samping Nya. Melayani Nya, menuangkan air minum di bejana yang terbuat dari perak dan makanan minuman yang tidak mendatangkan kotoran. Semoga kita menjadi manusia pilihan Nya, walaupun dalam tangis kenikmatan selalu merindukan kasih sayang nya. Yakinlah! Tuhan Maha Baik memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, bukan segala sesuatu yang kita inginkan.
Senja hari yang berwarna jingga. Hati redup karena ingatan masih terpaku pada bayangannya. Kenangan manis yang tertoreh di hati membawa kerinduan yang tak pernah mungkin terulang karena sosok yang di damba kini sudah menyatu dalam alam. Jasadnya menyatu dalam tanah kuburnya. Dari tanah dan kembali ke tanah, ber peluk dengan aroma binatang yang ada didalamnya. Dalam gelap itu hanya cahaya kebaikan nya yang akan menerangi tempat kembali itu. Pasrah menanggung dan bertanggung jawab terhadap segala perbuatan nya. Ridlo terhadap kuasa Tuhan menghukum atau memberi imbalan sesuai perbuatan yang dilakukan.
*******
" Rosiana! Apa yang kamu lamun kan?" tanya Mbak Santi yang berada di dalam kamarnya.
Terlihat Siwa tidak berada di dalam kamar itu.
" Tidak ada Mbak Santi!" jawab Rosiana sekena nya.
" Tidak ada bagaimana? Jelas-jelas kamu sedang melamun. Pandangan mata kamu kosong seolah-olah pikiran kamu ber traveling menjelajahi dunia luar." kata Mbak Santi sambil terkekeh.
" Sebenarnya, saya salah tidak ya Mbak? Kami masuk di dalam kehidupan keluarga Mas Wardha yang saat ini sudah bahagia bersama Mbak Sarwenda. Siwa benar-benar sudah diangkat anak oleh nyonya Sarwenda. Jika nyonya mengetahui tentang kebenarannya bahwa Siwa adalah anak kandung dari Wardha, apa yang akan terjadi nantinya. Saya benar-benar tidak menginginkan keributan di dalam rumah tangga mereka itu terjadi, Mbak Santi."ucap Rosiana.
" Nyonya Sarwenda benar-benar tulus memperlakukan Siwa dengan baik, selayaknya anak sendiri. Demikian juga dengan tuan Wardha. Saya pribadi tidak ingin hubungan suami istri diantara mereka jadi rusak gara-gara kehadiran Siwa di tengah-tengah mereka." tambah Rosiana.
" Hadeuh! Semua itu bukanlah kesalahan kamu, sayang! Siwa dan kehadirannya di dunia ini berhak atas kebahagiaan nya. Siwa berhak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Tuan Wardha berkewajiban ikut bertanggung jawab atas perbuatan nya dimasa lalu. Tuan Wardha harus ikut membesarkan, merawat, menyekolahkan Siwa. Terlepas dari semuanya, suatu saat Nyonya Sarwenda memang harus mengetahui dan menerima kebenaran dari kenyataan semua ini bahwa Siwa adalah anak kandung dari Wardha." kata Mbak Santi.
__ADS_1
" Sebentar, ada satu pertanyaan untuk kamu, Rosiana. Apakah kamu, dalam pikiran kamu ada niatan merebut tuan Wardha dari nyonya Sarwenda?" tanya Mbak Santi sambil menahan tawanya.
" Astagfirullah, Mbak Santi! Kenapa Mbak Santi berpikiran seperti itu. Sungguh saya tidak ingin kembali kepada Mas Wardha." sahut Rosiana serius.
" Hahahaha!" Mbak Santi tertawa puas melihat reaksi dari Rosiana yang serius menanggapi pertanyaan nya itu.
" Tapi jika tuan Wardha masih ingin dan menyukai kamu, bagaimana? Tuan Wardha ingin menikahi kamu, karena perasaan bersalah dan penyesalan nya dimasa lalu yang meninggalkan kamu kala itu. Menelantarkan dan meninggalkan kamu ketika sedang berbadan dua. Kamu, pasti akan sulit menolak nya bukan?" goda Mbak Santi.
" Astagfirullah! Semoga hal itu tidak akan pernah terjadi, Mbak Santi." sahut Rosiana.
" Ayolah, Rosiana! Kamu tidak bisa membohongi aku. Aku tahu walaupun kamu tipe wanita dan istri yang setia, dan teguh pendirian ingin setia dengan almarhum suaminya kamu, tetapi hati kecil kamu tidak bisa berbohong. Kamu tidak bisa membohongi diri kamu sendiri, bahwasanya kamu masih menyimpan perasaan yang begitu dalam terhadap Wardha. Walaupun kamu sudah pernah disakiti oleh nya akan tetapi kamu masih tetap memaafkannya karena cinta kamu tulus terhadap Tuan Wardha kala itu. Kamu ikut bahagia tatkala kamu mengetahui tuan Wardha hidup penuh kebahagiaan." kata Mbak Santi serius.
"Mbak Santi!" ucap Rosiana pelan. Tanpa disadarinya rona wajahnya memerah.
" Oh iya, minggu depan kita akan diajak liburan ke villa pribadi milik Nyonya Sarwenda." kata Mbak Santi.
" Mbak Santi saja yang berangkat. Saya di rumah saja." ucap Rosiana.
" Eh tidak! Tidak! Ini wajib kita ikut, loh." protes Mbak Santi.
" Saya gak mau! Saya di rumah saja." sahut Rosiana.
" Kenapa? Kamu takut menyaksikan kebahagiaan diantara Tuan dan nyonya? Hahaha!" goda Mbak Santi.
__ADS_1
" Ya Allah! Tidak.. ti.. ti.. tidak kok!" sahut Rosiana.
" Ya sudah, ikut saja tidak perlu menolak nya. Siwa pasti ikut, kamu sebagai bunda nya harus ikut dan mendampingi nya. Di sana tempatnya dingin loh. Enak banget, nanti kita minum kopi berdua sambil ngobrol seperti ini. Kamu nanti pasti akan senang." kata Mbak Santi.
" Baiklah! Saya ikut. Tapi saya mohon, Mbak. Mbak Santi jangan membahas tentang perasaan ini lagi yah." kata Rosiana.
" Perasaan yang mana yah?" kekeh Mbak Santi.
" Ah Mbak Santi." rengek Rosiana.
" Hahaha. Jadi kamu mengakuinya bukan?" tanya Mbak Santi sambil tertawa.
Rosiana hanya diam menunduk menyembunyikan rasa malu nya.
" Aku itu bukan Siwa, Ros. Bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Apalagi soal psikologi dan bahasa tubuh seseorang aku sangat mudah membaca nya. Dan satu lagi. Canda an kau ini bukan sekedar candaan yang tidak ada isinya. Kemungkinan di masa depan, hal ini bisa terjadi, loh." kata Mbak Santi.
" Astaga! Lalu, bagaimana cara mencegah hal itu supaya tidak terjadi Mbak? Aku tidak ingin merusak hubungan rumah tangga mereka Mbak. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga diantara meraka." ucap Rosiana.
" Lalu? Tanyakanlah pada hati kecil kamu sendiri. Sudah bisa dan sanggup kah, menghapus perasaan itu terhadap tuan Wardha. Jika itu sangat sulit, kemungkinan besar perasaan kamu akan semakin membesar dan berkembang karena setiap hari berjumpa dan melihat nya. Harapan dan khayalan kamu akan semakin muncul, hingga menginginkan yang lebih dan terwujud menjadi nyata." kata Mbak Santi serius.
Rosiana hanya terdiam dan menunduk. Entah sedih atau bahagia yang ia rasakan saat ini.
" Sudahlah! Jalani saja seperti air mengalir, say! Dalam hal ini kamu tidak salah.Yang harus kamu lakukan adalah menjaga jarak untuk aman saja, Rosiana." imbuh Mbak Santi akhirnya.
__ADS_1