
Acara pesta pernikahan antara Niga dan Galuh telah usai. Pengantin baru itu pun sudah cukup kelelahan dan beristirahat di kamar pengantin. Kamar yang dihias cantik untuk mereka. Betapa kebahagiaan itu ada dalam benak keduanya. Perasaan lega hati Niga dan Galuh tatkala acara pesta pernikahan nya berjalan cukup lancar dan tidak ada kendala. Mereka akhirnya benar-benar halal menjadi sepasang suami istri yang saling memberi dan menerima, saling melengkapi kekurangan masing-masing, saling berbagi dalam suka duka. Menjalani hidup bersama.
Kedua pasangan itu sudah berganti bajunya dengan pakaian santai.Terlihat mereka masih santai rebahan di kasur empuk kamar itu. Niga kini duduk bersandar di tempat tidur sambil menatap lembut Galuh. Galuh terlihat malu- malu ketika mata Niga tidak henti- hentinya menatap. Niga malah tersenyum melihat Galuh yang menjadi salah tingkah.
" Kamu kenapa sih, menatap aku terus?" tanya Galuh yang sungguh masih belum terbiasa satu kamar dengan Niga. Jantung nya berdebar hebat. Antara malu, takut, kikuk. Yang pasti tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Malam ini, kamu sangat cantik!" jawab Niga masih dengan senyuman nya.
" Jadi kemarin-kemarin, aku tidak cantik?" sahut Galuh.
" Cantik! Namun malam ini lebih cantik, sayang!" jawab Niga.
"Kemari lah! Jangan jauh- jauh gitu dong!" kata Niga akhirnya merengkuh tubuh Galuh dalam dekapan nya.
" Eh, mas!" ucap Galuh ingin berontak.
" Hahaha! Kita sudah halal sayang! Apa lagi yang kamu risau kan?" kata Niga sambil membelai rambut Galuh.
__ADS_1
Galuh diam, lebih tepat nya menikmati segala perlakuan manis dari Niga.
" Apakah kamu capek mas?" tanya Galuh pelan.
" Tidak, sayang! Apakah kamu ingin segera aku mengeksekusi kamu, sayang?" ucap Niga sambil tersenyum.
" Bukan.. bukan begitu maksud aku, mas!" sahut Galuh mulai gugup.
" Lalu apa, dong?" tanya Niga.
"Baiklah! Tapi mandi bareng yah, sayang!" goda Niga.
" Eh? Tidak! Tidak! Kamu atau aku yang lebih dulu." kata Galuh masih gugup.
" Kenapa? Kita loh sudah halal menjadi suami istri. Tidak ada salahnya jika kita mandi bersama- sama. Setelah itu baru bobok berdua." ucap Niga menggoda.
" Hem.. hem. Aku.. aku masih malu." sahut Galuh dengan polosnya.
__ADS_1
" Hahaha. Kamu kalau seperti ini jadi imut. Hahaha." kata Niga sambil membenamkan kepala Galuh ke dadanya.
Sesaat Galuh merasakan kehangatan dan kedamaian dalam pelukan badan kekar milik Niga. Suara jantung Niga cukup terdengar dengan jelas di telinga Galuh. Kecepatan nya seperti genderang. Niga begitu sudah sangat bergejolak ketika sudah berdekatan dengan Galuh, yang saat ini telah sah menjadi istrinya.
Galuh mendongakkan Kepala nya melihat Niga. Mata mereka saling beradu menatap. Tidak dikomando lagi wajah mereka semakin lama semakin dekat. Hingga hembusan nafas masing-masing bisa dirasakan oleh mereka. Kedua hidung mereka mulai bersentuhan. Pelan-pelan Niga mengecup lembut bibir milik Galuh yang sedikit dibuka. Seolah memberikan celah untuk berciuman yang cukup lama dan mesra.
Cukup lama keduanya mulai larut dalam ciuman panjang itu. Nafas mereka pun mulai memburu. Detak jantung nya semakin tidak terkontrol. Akhirnya Galuh menyudahi ciuman itu, yang membuat dirinya sulit untuk bernafas. Niga kembali tersenyum sambil menatap wajah Galuh yang merona merah.
" Lanjut atau mandi?" tanya Niga sambil tersenyum nakal.
Galuh cepat- cepat bangkit menjauh dari Niga dan masuk ke kamar mandi. Namun dengan cepat, Niga pun menyusul masuk mengikuti Galuh. Akhirnya keduanya sama-sama di kamar mandi itu tanpa perdebatan dan percakapan lagi. Saat ini yang terdengar hanya percikan air dan suara- suara yang jika kita mendengar nya bikin merinding. (ðŸ¤ðŸ¤”
*******
Di luar kamar, tepatnya di ruangan lain Winda sudah bersiap untuk pulang. Acara pesta pernikahan kali ini cukup membuat Winda kecapean. Winda duduk di sudut ruangan itu sambil menunggu Hendra yang masih asyik mengobrol dengan keluarga besarnya. Sedangkan Intan dan Andrie sudah lebih dulu pulang sebelum acara usai.
Winda melihat Hendra tidak kunjung melihat dirinya dan mendatangi nya. Akhirnya Winda mengirim pesan chat WA ke nomor Hendra bahwasanya dirinya pulang lebih duluan.
__ADS_1