
Di perusahaan Hendra. Hendra terlihat fokus di ruangan nya. Pelan- pelan Winda masuk ke ruangan itu sambil membawakan juz mangga dan pisang coklat.
Tanpa berbicara Winda langsung duduk didepan meja kerja Hendra, sambil meletakkan minuman dan makanan di atas meja.
Winda menatap Hendra cukup lama. Hendra yang di perhatikan oleh Winda masih sibuk dan fokus dengan kerjaan nya. Sikap Hendra masih cuek dan sangat cuek seolah keberadaan Winda tidak dianggap nya.
Sepuluh menit, dua puluh menit, situasi masih tidak ada yang memulai berbicara. Berbasa- basi pun tidak keluar dari mulut mereka berdua. Makanan dan minuman yang masih ada di atas meja itupun masih utuh belum disentuh oleh Hendra.
Tiga puluh menit, empat puluh menit Winda masih tetap dengan posisi duduk di hadapan Hendra. Namun masih belum ada yang memulai berbicara. Tiba-tiba ketukan pintu ruangan itu terdengar setelahnya ada seorang wanita seksi dan cukup cantik masuk ke dalam.
" Halo Hendra sayang! Lihat aku bawakan sesuatu untuk kamu. Ini makanan dan minuman kesukaan kamu, sayang!" kata Yuslita dengan keceriaan dan senyuman yang mengembang. Keberadaan Winda di ruangan itu pun seolah tidak dianggapnya ada oleh Yuslita.
" Kamu bawa apa? Kamu tidak perlu repot- repot kepadaku." kata Hendra kepada Yuslita. Yuslita langsung merangkul Hendra dari belakang kursinya.
Winda yang menyaksikan pertunjukan itu hanya terdiam dan masih bertahan dengan posisi duduknya di depan Hendra. Hendra yang dirangkul oleh Yuslita seolah tidak ada penolakan kali ini. Seperti telah mengibarkan peperangan kepada Winda. Yuslita yang mengetahui sikap Hendra sangat terbuka terhadap kedatangan dan sikapnya itu semakin nekad. Dengan cepat Yuslita mendaratkan ciuman itu ke pipi Hendra. Senyum kemenangan Yuslita lemparkan ke arah Winda. Winda masih tidak bergeming dari tempat duduknya.
" Hendra! Ayo berhentilah dengan kerjaan kamu terlebih dahulu. Kita makan dan minum dari sesuatu yang aku bawa." ajak Yuslita sambil menarik Hendra ke kursi sofa sudut ruangan kerjanya.
__ADS_1
Hendra sesaat mengikuti kemauan Yuslita, duduk di kursi sofa sudut ruangan itu. Mereka mulai membuka makanan dan minuman yang dibawakan oleh Yuslita. Sedangkan Winda masih bertahan di kursinya. Akhirnya minuman dan makanan yang ia bawakan untuk Hendra ia makan dan minum sendiri ditempat itu.
Setelah menghabiskan makanan dan minumannya, Winda berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Hendra dan Yuslita masih terlihat asyik menikmati makanan dan minumannya.
Winda berjalan dengan cepat ke toilet wanita. Berusaha menyembunyikan segala sesuatu yang bikin sesak hatinya. Matanya sudah panas menahan semua yang dilihat dan sikap dari Hendra. Di dalam toilet itu Winda mengeluarkan semua yang sedari tadi ingin keluar. Kristal- kristal bening di matanya pun mulai mengalir deras bak air terjun tanpa jeda.
Tangan lentiknya mulai mengusap air matanya perlahan. Winda kembali membersihkan wajahnya dengan membasuh dengan air. Winda menatap dirinya dari pantulan kaca. Winda tersenyum dengan dirinya sendiri. Baginya ini terlalu kekanak-kanakan jika mengingat permasalahan apa yang sebenarnya terjadi diantara Winda dan Hendra. Sedangkan antara dirinya dan Hendra menjalin hubungan itu sudah sangat serius dan akan ketahap pernikahan. Memang selama ini mereka selalu menunda-nunda nya karena beberapa alasan. Rencananya tahun depan lah mereka akan segera serius membahas soal pernikahan. Namun dengan kejadian ini dan apa yang telah disaksikan oleh Winda, Winda semakin ragu untuk meneruskan hubungan nya dengan Hendra.
" Mungkin aku tidak akan menikah lagi, sampai kamu menjemput aku, mas!" kata Winda pelan dan kembali air matanya jatuh deras mengalir di kedua matanya.
Sesaat Winda keluar dari dalam toilet itu setelah kembali membersihkan wajahnya. Langkahnya begitu berat meninggalkan kantor itu. Winda berjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan. Setelahnya Winda masuk dan menjalankan mobilnya dengan cepat, meninggalkan ketidaknyamanannya di gedung itu.
*******
" Aku minta maaf, Mas Surya. Kapan kamu mau menjemput aku? Aku sudah lelah! Hanya kamu yang baik terhadap aku. Paling tidak, di depan aku kamu masih selalu menjaga perasaan aku dan tidak ingin menyakiti aku." kata Winda pelan, air matanya masih deras mengalir di sana.
Dari kejauhan tanpa diketahui oleh Winda, Herika mengamati dan memperhatikan Winda dengan banyak tanda tanya dibenaknya.
__ADS_1
*******
Di kantor Hendra.
" Kamu sedang ada masalah dengan kekasih kamu, Hen?" tanya Yuslita.
" Tidak ada! Kami baik- baik saja!" jawab Hendra kembali fokus dengan kerjaan nya.
" Hahaha kamu dari dulu tetap tidak berubah. Kamu masih kekanak-kanakan, Hendra! Kamu harus merubah sikap kamu itu, Hendra! Kalau tidak? Kamu akan benar-benar kehilangan wanita itu." ucap Yuslita kepada Hendra.
" Ini bukan urusan kamu!" kata Hendra emosi.
" Eh? Kamu saat ini sedang marah dengan siapa? Kenapa kamu melampiaskan ke aku, sayang?" sahut Yuslita kembali merangkul Hendra dari belakang.
" Lepas! Aku sedang kerja!" ujar Hendra kembali penuh emosi.
" Idih! Galak banget kamu, Hen! Ya sudah, aku pergi dulu yah, sayang! Terimakasih kamu mau makan dan minum semua yang aku bawakan untuk mu." kata Yuslita sambil tersenyum.
__ADS_1
" Lain kali tidak perlu kesini lagi! Dan membawa makanan dan minuman seperti itu di tempat ku. Itu akan membuat aku kolesterol."ucap Hendra. Yuslita yang mendengar nya malah tertawa terbahak- bahak melihat tingkah lucu Hendra yang seperti anak- anak.