Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 42)


__ADS_3

Dahlia datang berkunjung ke rumah papa nya, Wardhana. Kali ini Dahlia masih dengan Siwa kakaknya. Tidak bisa tidak kalau Dahlia pergi, Siwa pasti mengekor. Sarwenda selalu kasih ijin Dahlia pergi jika bersama Siwa. Seolah-olah Siwa yang selalu menjaga adiknya kalau pergi kemana-mana.


Di dalam mobil itu, dimana Siwa kali ini yang menyetir mobilnya Dahlia masih sibuk mengutak-atik ponselnya. Saat ini dia masih chatting dengan adik nya Arsyil. Arsyil ingin berbicara berdua saja dengan Dahlia. Dahlia masih berusaha menggoda Arsyil.


" Pasti kamu sedang jatuh cinta yah? Kamu mulai menyukai lawan jenis kamu di sekolah?" tebak Dahlia sebelum dirinya dan Siwa meluncur ke rumah kediaman papa nya itu melalui sambungan ponselnya ketika Arsyil menelpon kakaknya itu.


Siwa sesekali melirik ke arah Dahlia.


" Ada apa?" tanya Siwa mulai kepo. Dahlia hanya mengangkat bahunya.


" Tidak apa- apa! Arsyil hanya ingin curhat dengan aku saja," jawab Dahlia. Siwa mengernyitkan dahinya.


" Sedang puber dia!" sahut Siwa sambil terkekeh. Dahlia ikut tersenyum saja.


" Mau belikan papa dan mama Rosiana apa nih? Mumpung disini banyak jajanan." kata Siwa. Dahlia mulai melihat kanan dan kiri jalan raya.


" Martabak telor atau martabak kubang aja deh!" ucap Dahlia. Siwa mulai menepikan mobilnya ketika ada warung padang yang menjual martabak kubang dengan tulisan nya yang besar. Dahlia tersenyum.


" Gerak cepat sekali kakak aku ini!" ujar Dahlia kini mulai turun dari mobilnya ketika Siwa menghentikan mobilnya dan masih tetap menunggu Dahlia membeli martabak kubang itu. Warung itu untung saja tidak begitu antri pengunjung nya. Jadi Dahlia terlihat cepat di layani oleh penjual di warung itu.

__ADS_1


Selang beberapa lama, Dahlia mendekati mobil itu dan masuk ke dalam dengan membawa tas plastik yang berisikan martabak kubang di warung padang yang dimaksudkan.


" Mau beli apa lagi?" tawar Siwa. Dahlia diam memikirkan sesuatu.


" Buah- buahan saja!" jawab Dahlia. Siwa mulai menjalankan mobilnya tidak terlalu cepat. Sedangkan mata Dahlia sudah bergerilya mencari toko buah itu.


" Stop! Nah itu toko buahnya." kata Dahlia dengan cepat Siwa menghentikan mobilnya sedikit jauh dari toko buah- buahan itu. Dahlia kembali turun dari mobilnya dan mulai berbelanja buah. Siwa kembali menunggu di dalam mobilnya.


Setelah Dahlia membawa dua tas plastik yang berisi buah yang beberapa jenis itu dan masuk ke dalam mobil, Siwa kembali menjalankan mobil itu. Kini mereka melanjutkan jalannya menuju rumah papanya.


******


Di kamar Arsyil, Dahlia dan juga Arsyil sudah mulai berbicara. Arsyil terlihat tegang ketika hendak memulai berbicara. Dahlia kembali berusaha membuat suasana santai. Hingga pada akhirnya Arsyil mulai bercerita panjang lebar dengan kakaknya yang berbeda ibu itu.


" Papa, menyuruh aku untuk menjauhi darinya. Aku tidak boleh berhubungan lagi dengannya. Kata papa, dia membawa pengaruh buruk kepada ku, kak." kata Arsyil. Arsyil kembali menundukkan kepalanya.


" Papa? Kenapa seperti itu? Papa tidak menyukai kamu berhubungan dengannya?" tanya Dahlia. Arsyil mengangguk pelan.


" Kata papa, aku harus mulai membersihkan otak dan pikiran aku dari kerusakan mental seperti itu. Dan aku harus lebih baik lagi. Lalu aku berjanji dengan papa, menjadi pribadi yang baik lagi." kata Arsyil masih muter-muter. Dahlia mencoba mencernanya.

__ADS_1


" Itu bagus, dik! Tapi sebenarnya masalah nya apa sih? Aduh kakak menjadi bingung." kata Dahlia. Arsyil membisikkan ke telinga kakaknya itu. Dahlia membulat matanya.


" Apa? Tegar?" sahut Dahlia. Arsyil tidak percaya kalau adiknya akan terjerumus ke sana.


" Apakah sebelum nya kamu benar-benar tidak menyukai dan ketertarikan dengan teman- teman wanita kamu di sekolah?" tanya Dahlia. Arsyil menjawab dengan jujur.


" Sebenarnya aku masih normal, kak! Aku masih menyukai teman- teman wanita yang cantik juga. Namun karena aku sering bersama Tegar dan dialah yang membuat aku jadi seperti ini." cerita Arsyil.


" Itu artinya kamu sebenarnya terpengaruh dari seseorang yang memiliki kelainan dalam hal itu." kata Dahlia kini sedikit bernafas lega.


" Jadi, kamu benar-benar harus move-on dan kamu harus mau aku ajak ke psikolog yah, dik. Benar kata papa, otak kamu harus dibersihkan dari hal buruk seperti itu." kata Dahlia. Dahlia kini malah melihat adiknya dari ujung kepala sampai ujung kakinya.


" Jadi? Apakah kamu sudah dikerjai oleh Tegar, dik?" tanya Dahlia pelan dan hati- hati. Arsyil membisikkan kembali ke telinga Dahlia, kakaknya.


" Hah?? Astaga!!" teriak Dahlia. Arsyil kini menunduk malu.


" Ya sudahlah! Semuanya sudah terjadi, saatnya kamu sembuh dari penyakit ini. Kamu tidak boleh meneruskan kegilaan ini. Karena sesungguhnya kamu adalah laki-laki normal, dik. Buktinya kamu masih ada suka dengan wanita yang cantik, kan?" jelas Dahlia. Arsyil kini memeluk kakaknya. Dahlia mengusap pundak adiknya.


" Tapi kakak janji yah! Jangan bilang dan cerita ini pada kak Siwa dan mama Rosiana. Hal ini hanya papa dan kak Dahlia saja yang tahu." kata Arsyil sedih.

__ADS_1


" Janji! Ini adalah aib dan harus kakak tutupi, dik. Asal kamu tidak mengulangi lagi yah!" ujar Dahlia. Arsyil mengangguk cepat.


" Bagus! Kamu adik aku yang baik! Kakak menyayangi kamu, dik!" kata Dahlia lagi.


__ADS_2