Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
PASRAH DENGAN WARDHA


__ADS_3


Sejenak hilang kan penat. Sesaat menghapus segala resah. Kerinduan yang tak bisa ku elak. Bayangan wajahmu yang selalu menari- nari di pelupuk mata. Aku sungguh tidak sanggup mengusir rasa itu. Rasa yang masih terpatri di dalam hati. Sedangkan aku tak lagi sendiri. Akankah ku terjang tembok tebal menjulang tinggi itu? Apa itu mungkin? Apakah kamu masih menyimpan rasa itu? Jika memang itu masih ada, aku rela menghancurkan gunung tinggi Himalaya itu. Supaya aku dapat kembali merengkuh kasihmu yang masih tertunda.


*******


" Kamu yakin akan meninggalkan aku beserta kenangan kita, Rosiana?" tanya Wardha sambil menatap tajam mata wanita yang sudah berstatus janda karena ditinggal mati oleh suaminya itu.


Antara Wardha dan Rosiana sedang duduk di taman belakang rumah. Saat itu Sarwenda, beserta anaknya sedang pergi mengunjungi kedua orang tua nya. Mbak Santi juga Siwa pun ikut serta diajak oleh Sarwenda. Katanya sekalian jalan- jalan sekaligus belanja. Rumah Sarwenda sepi dan sunyi, apalagi di hari Minggu ini, tukang kebun juga satpam rumah besar itu sengaja libur dari tugas-tugas nya.


" Kenangan apa, Mas? Itu sudah lama sekali. Dan saya tidak ingin mengulangi kesalahan saya yang mencintaimu, mas. Saya sudah cukup sakit dan sakit hati ketika, Mas Wardha pergi dan meninggalkan aku ketika aku sedang mengandung Siwa." kata Rosiana.


" Rosiana! Maafkan aku. Aku akan menebus segala kesalahan itu. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku tidak ingin wanita yang sebenarnya aku cintai dan harapkan dari dulu lepas kembali." ucap Wardha.


" Lepas kembali? Kamu yang melepaskan saya Mas. Bukan saya yang pergi dari, mas Wardha." sahut Rosiana dengan suara yang mulai meninggi dan mulai terpancing emosinya.


Wardha dengan cepat merengkuh tubuh mungil Rosiana. Dipeluknya dengan erat sampai Rosiana tidak mampu melepaskan nya.


" Lepaskan, Mas! Aku tidak ingin menghancurkan rumahtangga kalian. Saya harus pergi dan melupakan kepahitan itu." kata Rosiana dengan terisak.


" Kamu jangan munafik! Katakan jika kamu masih memiliki rasa itu kepada ku. Jika tidak, kenapa kamu jauh- jauh dari kampung mencari aku dan menemui aku disini. Bukankah itu sudah sangat jelas, bukan?" bisik Wardha ditelinga Rosiana.


" I.. i.. itu karena Siwa memerlukan ayahnya. Supaya Siwa bisa mengenal ayah kandungnya." sahut Rosiana.


" Dan kamu? Tidakkah merindukan aku?" bisik Wardha sambil mencium leher jenjang milik Rosiana.


Rosiana seketika seperti terhipnotis dengan tindakan Wardha. Rosiana seketika lunglai dan lemah. Rasanya tidak bisa terungkapkan kini kembali membuncah. Tiba-tiba seperti ditusuk oleh belati yang siap mematikan kekuatan nya.


Wardha dengan cepat membuat Rosiana dalam genggaman nya. Tangannya dengan penuh kelembutan membelai wajah ayunya Rosiana. Rambutnya yang terurai itu pun dibelainya dengan manja.


" Aku masih menyayangi kamu, Rosiana! Percaya padaku!" bisik Wardha lalu kembali merengkuh tubuh mungil Rosiana.


" Lalu bagaimana dengan non Sarwenda? Istri dan anak kamu?" tanya Rosiana.

__ADS_1


" Mereka tetap akan menjadi istri dan anakku demikian juga dengan Siwa. Dan... dan kamu akan aku nikahi." kata Wardha.


" Semudah itu kamu bicara, mas?" sahut Rosiana sambil berusaha melepaskan pelukan Wardha.


" Apakah kamu tidak ingin aku nikahi? Apakah kamu ingin bersama aku kembali tanpa status itu?" ujar Wardha.


" Tidak! Ti... ti.. tidak! Saya tidak ingin menjadi orang kedua. Saya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga kalian, mas!" sahut Rosiana.


" Kamu harus mau! Karena aku menginginkan itu. Itu jalan dan penyelesaian untuk kita, supaya kita bisa bersatu kembali." kata Wardha.


Wardha dengan cepat menarik tangan Rosiana dan menggiring nya ke kamar tamu. Rosiana tidak bisa melawan itu semua. Dengan nekat Wardha mulai kembali meraih wajah Rosiana dan memungut dagunya. Kini ciuman itu tiba-tiba mendarat ke bibir mungil Rosiana.


" Ehm. ap... ap.. apa yang kamu lakukan, Mas? Jangan lakukan ini!" kata Rosiana mulai gugup dan ketakutan.


" Aku menginginkan ini. Kamu mau apa? Bukankah kamu juga rindu aku, Ros?" sahut Wardha dengan nafas yang memburu.


" Ti... ti.. tidak! Saya tidak mau!" kata Rosiana berusaha lari dari kekuatan tangan Wardha yang mencengkram nya. Rosiana memikirkan cara supaya bisa lepas dari tindakan yang kurang pantas itu. Berusaha lari dan keluar dari kamar tamu itu.


" Ayolah Ros! Ini kesempatan kita. Kita lakukan lagi seperti dahulu. Aku sangat rindu aroma tubuhmu yang menggoda itu." kata Wardha mulai memburu nafasnya.


" Aku sangat sadar, Ros! Bahkan ini terlalu sadar!" kata Wardha sambil tetap berusaha menggerayangi dan membuat Rosiana mulai lemah karena sentuhan sensitif yang dilakukan Wardha.


" Mulut kamu berkata jangan dan tidak. Tetapi tubuhmu menginginkan nya Ros." kata Wardha dengan pelan dan sengaja berbisik ditelinga Rosiana. Seolah sengaja memberikan rangsangan wanita janda yang sudah sekian lama tidak terjamah itu.


Wardha dengan senyuman nya mulai melihat mata Rosiana yang mulai meredup karena tangan- tangannya yang nakal. Tangan itu menyusup ke bagian-bagian sensitif milik Rosiana sampai pengait yang menghubungkan gunung kembar milik Rosiana itu dari dalam telah terlepas oleh tangan nakal Wardha.


" Mas! A a... aku. Jangan Mas! Jangan dilanjutkan! Aku mohon! Aku tidak ingin menjadi madu non Sarwenda. Aku tidak ingin merusak rumahtangga kalian." ucap Rosiana lirih dengan nafas yang tak beraturan.


" Hehehe.. setelah melakukan ini, kamu pasti akan berubah pikiran. Kamu akan menuntut aku supaya menikahi kamu, Ros." bisik Wardha tang mulai menyingkap kan rok panjangmilik Rosiana.


" Tolong! To... tolong hentikan, Mas! Aku mohon!" kata Rosiana yang mulai lemah kedua kakinya.


" Mas! Jangan mas! Ahhhh jangan mas!" pinta Rosiana.

__ADS_1


" Jangan berhenti, yah! Kamu keliatan sudah sangat menikmati ini, Ros! Aku yakin kamu juga rindu dan sangat merindukan aku. Aku yakin kamu juga menginginkan ini dari aku. Orang pertama yang meniduri kamu." bisik Wardha.


" Percaya sama aku, Ros. Aku sungguh- sungguh menyayangi kamu. Aku mencintaimu lebih dari siapapun, termasuk Sarwenda. Sarwenda adalah pengganti karena rasa sepi itu dan berusaha menepis bayangan kamu, Ros." imbuh Wardha dan berusaha membuat Rosiana pasrah dengan tindakan nya.


" Be... be.. benarkah, Mas! Apakah setelah ini kamu akan menikahi aku dan menjadikan istrimu." kata Rosiana pelan.


" Tentu saja! Kamu mau kan, jika menjadi istri kedua aku setelah Sarwenda?" tanya Wardha sambil menenggelamkan kepala Rosiana dalam dadanya.


" Lalu?" tanya Rosiana sambil merapikan bajunya yang berantakan karena Wardha mengurung kan niatnya melakukan hal yang lebih jauh itu terhadap Rosiana. Wardha menginginkan Rosiana yang memberikan inisiatif itu.


" Kita pulang ke kampung dahulu, kita menikah di sana. Aku akan beralasan ingin menjumpai kedua orang tuaku di kampung. Kita akan segera menikah, Ros!" kata Wardha penuh semangat.


" Tapi bagaimana tanggapan kedua orang tua kamu, mas? Jika menikah dengan aku, sedangkan mereka pun mengetahui kamu sudah memiliki istri yaitu Sarwenda." tanya Rosiana.


" Aku rasa, mereka tidak akan menolaknya. Mereka pasti merestui nya. Mereka lah yang dulu sangat menginginkan kamu menjadi menantu nya, Ros!" jawab Wardha.


" Itu dulu, mas! Sebelum status kamu sudah menikah. Apakah mereka akan menyetujui jika kamu akan beristri dua dan menikahi aku?" tanya Rosiana penuh keraguan.


" Percaya sama aku. Mereka akan menikahkan kita. Demikian halnya dengan kedua orang tua kamu. Mereka akan menyerahkan semuanya pada kamu. Sanggupkah kamu jika menjadi istri kedua dari aku? Itu saja." kata Wardha penuh dengan kepastian.


" Aku... aku.. aku.. aku bisa!" kata Rosiana.


Wardha kembali merengkuh tubuh mungil Rosiana. Pelukan itu kembali terjadi seperti sepasang kekasih yang sudah sekian lama terpisah dan berjumpa kembali.


" Jadi? Mau melakukan itu sekarang atau... " bisik Wardha sambil dengan cepat memungut bibir mungil Rosiana. Ciuman yang panas dan panjang pun terjadi. Kini keduanya saling balas dan penuh gairah. Rosiana seperti kehilangan akal sehatnya.


" Mas! Tunggu!" kata Rosiana.


" Kenapa sayang?" kata Wardha dengan penuh kelembutan.


" Jangan sekarang!" kata Rosiana akhirnya.


" Hadeuh! Padahal aku sudah sangat menginginkan nya loh, Ros!" kata Wardha penuh kekecewaan.

__ADS_1


" Datangi lah istri kamu! Aku belum halal untuk kamu, mas!" kata Rosiana dengan senyum yang nakal.


" Aku maunya sama kamu, Ros!" sergah Wardha sembari mencengkram tubuh Rosiana hingga Rosiana tidak bisa berkutik kembali.


__ADS_2