
Di kamar Rosiana, di waktu malam hari sebelum fajar tiba. Wardhana mengusap lembut pipi Rosiana. Sebenarnya ada niat untuk membangun kan namun Wardhana melihat Rosiana tampak begitu lelah. Hanya sentuhan tangannya yang kokoh itu membelai rambut lalu mengusap lembut pipi Rosiana. Wardhana memandangi wajah polos Rosiana itu cukup lama.
Seharian ini bukan tidak mendengar tentang kabar Rosiana lagi demam dan muntah- muntah. Wardhana tidak bisa terlalu over memberikan perhatian terhadap Rosiana karena selalu di sampingnya ada Sarwenda. Kini tangan Wardhana mengusap pelan ke bagian perut Rosiana. Sejenak dirinya berpikir, apakah dirinya akan mendapatkan bayi kembali dari Rosiana? Menurut Wardhana, Tanda-tanda wanita seperti mual, muntah- muntah bisa jadi hamil. Wardhana tersenyum namun ada kepanikan di sana. Jika Rosiana benar-benar hamil, dirinya harus mencari cara supaya mencarikan segera rumah tinggal sendiri walaupun kecil. Bagi Rosiana itulah yang dia inginkan tinggal terpisah tanpa harus selalu atap dengan madunya.
" Hem, Mas! Sudah lama disini?" ucap Rosiana yang terbangun dan membuka matanya.
" Lumayan! Kamu nyenyak sekali tidur nya. Aku tidak ingin kamu terbangun. Seharian katanya Mbak Santi, kamu memang lagi tidak enak badan kan, sayang?" kata Wardhana perhatian.
" Iya, mas!" sahut Rosiana.
" Apakah kamu terlambat bulan? Apakah kamu sudah periksa, ke dokter?" tanya Wardhana.
" Belum mas!" jawab Rosiana.
" Ya sudah, nanti aku belikan tes pack aja." sahut Wardhana sambil mengusap perut Rosiana.
__ADS_1
" Jika aku hamil gimana, mas?" tanya Rosiana dengan membulat matanya.
" Loh, kok bingung sih? Kan kamu ada suaminya, yaitu aku, sayang!" kata Wardhana sambil tersenyum.
" Kalau hamil, Sarwenda pasti akan bertanya-tanya siapa ayah dari anak yang ku kandung ini." ucap Rosiana sambil menatap Wardhana.
" Sebelum Sarwenda curiga, kamu nanti akan aku belikan rumah untuk tempat tinggal. Atau kamu tinggal di rumah baru yang dulu aku beli namun sudah lama aku tidak tempat lagi, sayang. Itu lebih hemat bukan? Lagi pula, di rumah itu sudah lengkap perabotan nya kok. Tinggal dibersihkan aja karena sudah lama aku tidak singgah di sana." kata Wardhana.
" Mana baiknya saja, Mas! Aku pribadi lebih suka jika tidak lagi tinggal disini. Aku bisa memulai berjualan juga mas." kata Rosiana sambil tersenyum.
" Tapi itu bisa bikin aku jenuh dan stress mas! Aku harus buat kesibukan, dengan berjualan nasi uduk setiap pagi sampai siang hari, contohnya." kata Rosiana dengan mata berbinar.
" Hem? Bagaimana yah? Masak istri Direktur di perusahaan jualan nasi uduk sih, sayang!" sahut Wardhana.
" Tapi itu perusahaan, sesungguhnya kan milik Sarwenda." ucap Rosiana yang membuat Wardhana membulat matanya.
__ADS_1
" Sayang! Kamu jangan khawatir, semua kepemilikan itu sudah atas nama aku, sayang!" kata Wardhana dengan mata berbinar.
" Kok bisa sih?" tanya Rosiana.
" Itu karena Sarwenda begitu sayang dan percaya kepada aku sayang." jawab Wardhana akhirnya.
" Tapi aku tetap mau berjualan, sayang!" kata Rosiana sambil merengek manja.
" Baiklah kalau itu sudah menjadi kemauan kamu, sayang. Tapi tidak boleh capek- capek yah sayang!" ucap Wardhana sambil mendekati wajah Rosiana dan mulai mencium bibir Rosiana dengan lembut.
Rosiana mulai membalasnya dengan sedikit membuka mulutnya. Ciuman itu semakin panjang dan memanas tatkala tangan Wardhana mulai menyusup ke dalam baju Rosiana, mencari dua gundukan yang kenyal dan hendak memainkannya.
" Sudah mulai fajar, Mas! Kembalilah ke kamar kamu!" ucap Rosiana sambil menjauh dari Wardhana. Namun Wardhana makin mengeratkan pelukannya.
" Tenang saja! Sarwenda masih tertidur pulas, sayang!" sahut Wardhana sambil memainkan biolanya.
__ADS_1
Rosiana hanya bisa pasrah dan tidak bisa menolaknya. Baginya Wardhana selalu menuntut haknya sebagai suami Rosiana. Mau apa lagi? Rosiana hanya bisa fokus dan menikmati segala nafkah batin yang akan diberikan oleh Wardhana.