
Hembusan angin membawa kesejukan. Alam menawarkan kedamaian hati. Keceriaan dari sekumpulan burung- burung yang membawa kabar gembira. Tetapi tidak untuk Winda. Saat ini, wanita yang masih muda dan segar itu diliputi kedukaan dan kehilangan. Separuh jiwa nya telah lebih dahulu pergi meninggalkan nya. Dengan penuh paksa, Winda harus menjalani hari- harinya tanpa laki- laki yang sudah sekian lama bersama dengan nya. Dia harus mulai terbiasa lagi tanpa ada hadir dan sosoknya. Hanya waktu yang akan menyembuhkan segala sepi dan kehilangan itu. Karena semua berawal dari biasa dan terbiasa dan kembali kepada yang baru yang akan membiasakan nya. Sendiri kuat tanpa perhatian dan dekapan hangat suaminya yang tercinta. Status nya saat ini adalah janda ditinggal mati suaminya.
Deburan ombak yang meninggalkan buih putih. Di telan pasir di pantai. Sedihnya saat kenangan masih bergelayut di mata. Ingatan kata- kata rayunya yang membuat melayang jiwa. Aku terlena tatkala bahasa itu membuat hanyut Sukma. Menenggelamkan perasaan yang akhirnya berpadu dalam hati kita bersama. Cintamu dan cintaku akan menjadi cerita manusia. Di dunia ini tidak selalu indah. Ada duka lara dan senang saling bergantian. Yang terpenting aku adalah wanita setia yang patut kamu banggakan. Sampai ajal mu tiba, aku masih menjaga namamu terukir jelas tertanam di jantungku yang berdetak. Apakah aku sanggup sendiri sampai kau datang menjemput ku kembali disini?
" Winda!" sebut Galuh sambil memegang tangan Milik sahabat nya itu. Galuh ingin memberikan kekuatan ketika sahabat nya itu sedang dalam masa berduka dan kehilangan. Bagi nya inilah perannya sebagai seorang sahabat yang akan memberikan kekuatan psikologis agar Winda kembali bersemangat dan tidak terpuruk dalam kehilangan nya terhadap sosok yang dicintai nya.
Winda menatap lesu wajah Galuh yang ada dihadapannya itu. Senyuman sedikit dipaksa kan supaya sahabatnya itu tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Makan dulu Win! Sedikit saja!" kata Galuh sambil menyodorkan piring yang sudah ada sedikit nasi dan lauk pauk itu. Tetapi Winda hanya menatap piring yang sudah ada isi nya itu dengan tatapan mata kosong tidak ada selera makan.
" Biar aku suapi kamu yah!" tambah Galuh lagi sambil menyendok makanan itu lalu didekat kan ke mulut mungil milik Winda. Tetapi sekali lagi tangan Winda menampiknya dengan halus.
" Kamu harus makan, Winda. Kamu masih memberi susu Wisnu bukan? Kamu harus sehat demi putra kamu, Wisnu." ucap Galuh sambil melihat Bu Hartini yang baru datang menghampiri mereka.
Bu Hartini mendekati Winda dengan penuh keprihatinan. Tidak disangka, Winda masih berlarut-larut dalam kesedihannya. Galuh memberikan ruang kepada Bu Hartini untuk duduk disebelah Winda. Tangannya yang penuh kelembutan mengusap lembut kepala Winda.
" Winda sayang! Jangan seperti ini terus-menerus dong. Surya akan sedih jika tahu kamu seperti ini. Biarkan Surya tenang di alamnya. Kita harus mendoakan Surya supaya mendapatkan tempat yang terbaik disisi Nya. Kita jangan memberatkan langkahnya. Surya sudah terbebas dari beban dan derita hidup di dunia. Mama juga sangat kehilangan anak laki-laki mama satu-satu nya. Tetapi bukan berarti mama harus meratapi kepergian Surya. Kita hanyalah manusia, Winda. Suatu hari juga akan mengalami kematian sesuai garis takdir kita yang sudah tertulis di kitab Nya. Dan kamu juga harus semangat, Winda. Masih ada Wisnu yang masih membutuhkan kamu." kata Bu Hartini terkesan tidak menunjukkan kesedihan nya.
__ADS_1
Winda menatap pilu mama mertuanya. Wanita setengah baya ini terlihat semakin banyak guratan di dahinya. Di wajahnya terlihat kesedihan nya tetapi masih bisa ditutupinya. Jalan hidup ini harus tetap berjalan dan roda kehidupan mau tidak mau harus berputar. Kehilangan seseorang yang sangat dicintai tidak boleh menyurutkan semangat kita dalam melanjutkan perjalanan hidup. Esok hari masih ada mentari yang terbit dan bersinar. Semangat untuk menjalani kehidupan ini tidak boleh surut. Waktu harus kita maksimalkan untuk memberi manfaat bagi sekitar nya, terutama menghargai diri sendiri,keluarga dan masyarakat sekitar.
"Mama!" panggil pelan Winda seraya memeluk tubuh mama mertuanya sambil menangis tersedu-sedu.
" Menangis lah, jika itu akan membuat kamu lebih lega." kata Bu Hartini sambil mengusap punggung Winda.
" Dada ini begitu sesak, ma." ucap Winda dengan suara bergetar.
" Iya mama tahu!" kata Bu Hartini ikut menangis karena situasi itu.
Galuh yang masih ada di sana ikut terbawa kesedihan dua wanita yang sama-sama kehilangan sosok Surya. Galuh ikut meneteskan air matanya. Meninggalnya Surya ini sungguh mengejutkan bagi keluarga besar Pak Hartono terutama istrinya, Winda. Tetapi bukankah kematian seseorang tidak satupun yang bisa mengetahui secara pasti waktu dan datangnya. Kematian seseorang tidak memandang apakah dia masih anak-anak, remaja, atau masih muda. Tugas manusia hanya mengumpulkan amalan baiknya untuk bekal nanti di akhirat.
Winda meminum air mineral yang diberikan oleh Bu Hartini.
" Kita makan di meja makan yuk!" ajak Bu Hartini.
" Kasihan sekali loh, Galuh sedari tadi belum makan nungguin kamu di kamar ini." tambah Bu Hartini sambil melirik ke arah Galuh.
Winda menatap wajah Galuh dengan lesu.
__ADS_1
Akhirnya pelan- pelan Winda berdiri mengikuti ajakan mama mertuanya. Diikuti Galuh mereka menuju ke belakang rumah ke meja makan. Beberapa ibu-ibu sedang mempersiapkan hidangan untuk para tamu yang datang di acara Yasinan dan doa bersama di kediaman Pak Hartono.
Terlihat Intan duduk di meja makan dengan diam menyimak lantunan surat Yasin yang dibacakan secara bersamaan oleh para kaum Adam di ruang tengah. Intan terlihat masih sembab matanya dan kesedihan nya masih terlihat jelas. Kehilangan Mas Surya bagi Intan adalah pukulan yang paling menyakitkan. Apalagi meninggalnya Mas Surya karena kecelakaan dan tergolong tiba- tiba. Bu Hartini, Galuh dan juga Winda ikut bergabung duduk di meja makan itu.
" Kamu mau makan soto atau sate ayam, Winda?" tanya Bu Hartini sambil mengambilkan piring untuk Winda.
" Mama! Nanti saja ma. Saya boleh minta teh panas dulu, ma." sahut Winda.
" Oh teh panas yah? Biar aku buatkan." sahut Galuh sambil bergegas pergi dari tempat duduknya menuju ke dapur.
" Eh terimakasih banyak Galuh. Jadi merepotkan kamu." ujar Bu Hartini.
" Tidak apa-apa, Tante. Tante ingin teh panas juga?" ucap Galuh.
" Oh boleh! Terimakasih banyak, Galuh." sahut Bu Hartini.
Intan masih diam saja di suasana berduka itu. Bu Hartini hanya mengusap punggung tangan milik Intan seolah memberikan isyarat kalau kita harus bersabar dengan ujian ini.
Rumah kediaman Pak Hartono masih banyak tamu yang mendoakan Surya. Selama tujuh hari, setiap malam di rumah itu diadakan baca Yasin dan doa bersama. Terlihat malam ini ada Niga, Andrie dan juga Bang Hendra yang ikut duduk membaca Yasin di ruang tengah. Pak Hartono pun terlihat khusuk ikut membaca Yasin di antara mereka.
__ADS_1