
Di dunia ini selain DIA Apakah ada yang sempurna? Setiap manusia mempunyai sisi kelemahan dan kelebihan. Manusia ada sisi buruk yang di milikinya, hanya akal lah yang menentukan pilihan dari itu. Apakah manusia akan memilih jalan yang benar dalam artian tidak merugikan dan menyakiti hati seseorang disekitar nya.
Bukan bicara soal dosa atau nilai dari pahala itu.Semua nilai- nilai kebenaran dan pahala biarlah kita serahkan pada yang BerTugas dan Tuhan. Manusia cukup menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Tunduk patuh terhadap janji Nya ketika ruh itu ditiupkannya ketika masih dalam masa kandungan oleh ibunya.
Tidak perlu sibuk dan disibukkan dengan mencari kesempurnaan, sesungguhnya Kesempurnaan adalah Milik Nya. Carilah yang bisa melengkapi dari segala kelemahan dan kekurangan kamu. Sehingga dari sanalah kelemahan yang kamu miliki tertutupi oleh kelebihan dari yang kamu miliki. Hanya syukur yang bisa membawa kamu dalam pendirian dan niat yang tulus. Memang halaman tetangga tampak terlihat begitu hijau dibanding halaman kita. Maka dari itu, pupuk dan sirami lah tanaman kamu sendiri sehingga menghasilkan bunga dan buah yang menghasilkan dan enak dipandang.
******
Bu Hartini keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu. Di sana sudah duduk seorang wanita muda yang sudah familiar dan cukup dikenalnya. Wanita muda itu cukup cantik dengan penampilan orang berada. Di sebelah nya duduk ada seorang laki-laki separuh baya dan bisa di prediksi adalah ayah dari wanita muda itu.
Bu Hartini cukup terkejut dengan kedatangan wanita muda itu dengan ayah nya. Prasangka demi prasangka mulai muncul dalam pikiran Bu Hartini. Tapi dengan tenang Bu Hartini mendekati mereka berdua.
" Hai Sarwenda! Apa Khabar nya? Kok tidak bilang- bilang kalau mau ke sini bersama Papi nya." sapa Bu Hartini sambil mengulurkan tangannya ke arah Sarwenda lalu beralih ke papi nya Sarwenda.
" Pak Danu! Bagaimana kabarnya pak?" sapa Bu Hartini sambil berjabat tangan.
" Baik Bu!" jawab Pak Danu.
Bu Hartini mulai duduk berhadapan dengan mereka. Sarwenda hanya diam tidak banyak bicara dan bahkan senyumnya tidak mengembang.
" Pak Hartono mana Bu?" tanya Pak Danu. sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
" Oh bapak lagi istirahat pak. Jadi gimana pak, ada yang bisa saya bantu?" jawab Bu Hartini pelan- pelan tapi berusaha tenang padahal sesungguhnya firasatnya sudah tidak enak akan kedatangan mereka.
" Hem! Maaf Bu sebelumnya. Kedatangan saya kemari sebenarnya ingin juga menjumpai putra ibu, yang bernama Surya." kata Pak Danu.
"Ada keperluan apa yah pak? Maaf saya begitu lancang bertanya." ujar Bu Hartini dan mulai sedikit was- was.
__ADS_1
" Tidak apa-apa Bu. Justru ibu harus mengetahui perihal ini. Karena masalah ini harus kita sesegera mungkin dibicarakan bersama antara kedua belah pihak keluarga." ucap Pak Danu.
" Sebenarnya ada masalah apa ini? Apa yang di lakukan oleh Surya, putra saya?" tanya Bu Hartini mulai menarik nafas dalam-dalam supaya lebih tenang dengan segala permasalahan yang akan di sampaikan oleh Pak Danu.
" Tenang Bu! Menurut cerita Sarwenda putri saya. Selama ini, antara Anak saya dengan putra ibu sudah menikah siri." cerita Pak Danu memulai cerita nya.
" Hah? Apa yang Pak Danu sampaikan? Surya sudah menikah siri dengan Sarwenda? Astagfirullah!" ucap Bu Hartini sambil menahan nafasnya. Pelan-pelan membuangnya perlahan.
" Sarwenda saat ini sudah hamil anak Surya." sahut Pak Danu dengan suara yang terdengar emosi.
" Apa? Astagfirullah Surya! Sarwenda kenapa dari awal kamu tidak bercerita dan mengadu dengan ibu?" ucap Bu Hartini mulai bergetar suaranya karena terkejut jantungnya.
" Maafkan Sarwenda Bu! Saya juga tidak berani mengadu dan mengakui semua nya. Karena hubungan kami masih tersembunyi dan Mas Surya pun berkehendak demikian. Mas Surya belum ingin mengakui saya sebagai istrinya." keluh Sarwenda.
" Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Kalau Surya memang sudah berbuat,dia harus bertanggung jawab atas segalanya." sahut Bu Hartini.
Sarwenda tertunduk. Dalam hatinya terbersit kemenangan dan kepuasan bisa mengacaukan keluarga Pak Hartono ini. Bu Hartini sudah mulai masuk dalam drama nya.
" Maaf pak, Surya sedang keluar dengan istrinya, Winda." jawab Bu Hartini.
" Sebenarnya saya tidak menginginkan anak saya menjadi istri kedua dari Surya. Tapi mau bagaimana lagi, apakah Surya harus menceraikan istrinya? Ini tentu tidak adil bagi istri pertamanya. Perbuatan Surya sungguh di luar dugaan saya. Ketika putri saya menceritakan kehamilan dan pernikahan sirinya,saya sangat terkejut bukan main. Saya selaku pribadi juga minta maaf Bu. Saya tidak bisa menjaga dan mengawasi putri saya, sehingga hal ini terjadi diluar jangkauan saya. Saya pikir mereka memang sudah dewasa yang cukup bisa memilah- Milah mana yang terbaik bagi mereka sendiri. Ternyata pikiran anak-anak sekarang hanya mengikuti kemauan sendiri tanpa diperhitungkan kedepannya. Saya sangat menyesal Bu." keluh Pak Danu.
" Iya pak. Saya juga meminta maaf pak. Baiklah pak, saya permisi dulu sebentar. Saya harus memberitahukan semua ini kepada suami saya, Pak Hartono. Saya permisi ke kamar dulu pak." ucap Bu Hartini.
" Tapi Bu, kalau Pak Hartono masih tidur sebaiknya jangan dibangun kan. Kita tunggu saja sampai Surya pulang dari berpergian nya." ujar Pak Danu.
" Tidak apa-apa pak! Pak Hartono harus secepatnya saya beritahu. Dan saya pun akan menghubungi Surya, putra saya untuk segera pulang." sahut Bu Hartini.
__ADS_1
Mbak Ita datang dengan Beberapa cangkir teh manis dan beberapa cemilan. Bu Hartini mulai berdiri dan mulai melangkah menuju kamar pribadinya.
" Pak Danu, Sarwenda, maaf saya tinggal dulu sebentar yah. Di minum dan dimakan dulu yang ada." ucap Bu Hartini dengan senyuman yang dipaksakan.
Sarwenda dan Pak Danu masih duduk di ruang tamu tersebut. Mereka tidak saling bicara. Mungkin saja, Pak Danu pun juga malu dan tidak menghendaki semua ini terjadi. Sarwenda hanya sesekali melihat papinya itu takut - takut.
" Nak! Kamu tidak sedang membohongi papi kamu kan, nak? Kamu mengakui sudah menikah siri dengan Surya dan hamil anaknya?" tanya Pak Danu dengan suara pelan.
" Tidak Papi! Demi Tuhan aku sudah nikah siri dengan Mas Surya, Pi." jawab Sarwenda.
" Oh nak! Kamu memiliki segalanya. Anak cabang milik papi, kamu yang cantik dan mapan, tapi kenapa harus memilih suami orang. Laki-laki yang sudah memiliki istri." keluh Pak Danu.
" Papi! Aku sungguh- sungguh mencintai Mas Surya Pi. Dari dulu papi pun tahu bukan? Kalau aku menyukainya. Dari perjodohan yang gagal gara- gara wanita itu, Winda." ucap Sarwenda.
" Sarwenda! Sudah cukup! Dalam hal ini kamu sudah salah, sudah menyakiti hati orang lain yaitu istrinya Surya. Dan mungkin ada lagi yang kecewa dengan kehadiran kamu dalam keluarga mereka." Ucap Pak Danu.
" Papi! Maafkan aku papi! Tapi aku tidak bisa jika harus berpaling dari Mas Surya. Setelah perjodohan itu, saya sudah terlanjur senang dan bahagia dan memang berharap Mas Surya menjadi suami saya." ungkap Sarwenda.
" Sudahlah! Semuanya sudah terjadi. Lalu? Apakah kamu menerima jika menjadi istri keduanya Surya jika istrinya tidak ingin bercerai dengan Surya?" ujar Pak Danu.
" Dan sebenarnya papi, tidak menyukai poligami." tambah Pak Danu.
" Papi! Apapun konsekuensinya aku terima, Pi. Jadi istri yang kedua pun saya terima asal bisa menikah secara sah secara hukum dan diakui oleh Mas Surya sebagi istrinya." ucap Sarwenda.
" Terserah kamu sajalah nak! Kamu sudah dewasa dan berhak menentukan hidup kamu. Senang,susah semua kamu yang terima." sahut Pak Danu.
Langkah kaki pelan sudah mulai mendekati ruang tamu tersebut. Pak Hartono dan juga Bu Hartini mulai datang menghampiri. Wajah dan raut muka, Pak Hartono kurang bersahabat. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tentu saja Bu Hartini sudah menyampaikan segalanya pada suami nya tersebut. Dengan pelan, Pak Hartono dan Bu Hartini duduk bergabung dengan Pak Danu dan Sarwenda. Pak Danu belum bisa bicara. Mereka masih terdiam cukup lama. Seolah macan tutul itu sudah bangun dan siap menerkam mereka berdua yang datang.
__ADS_1
" Saya sudah mengetahui perihal kedatangan Pak Danu dan putri anda pak! Yang pasti saya tidak akan menyetujui pernikahan untuk yang kedua kali secara hukum dari putra saya, Surya. Terlepas, Surya, anak saya sudah menghamili putri Pak Danu." kata Pak Hartono tegas.
Hal itu membuat Pak Danu menatap tajam ke arah Pak Hartono. Sedangkan Sarwenda mulai menangis terisak- Isak. Bu Hartini pun mulai tertunduk ketika menyaksikan macan tutul itupun mulai menampakkan taringnya.