Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
AKHIRNYA BUKAN BERAKHIR


__ADS_3

Melangkah lah, jangan lagi terbebani oleh masa lalu.


Wujudkan segala mimpi dan khayalan mu dalam karya nyata.


Jangan lagi putus harapan karena suara- suara sumbang yang menghambat.


Karena kesuksesan itu sudah ada di depan mata.



Siang hari matahari memancarkan cahayanya. Terangnya menembus kegelapan. Panasnya menusuk dan meronta setiap benda yang kena sinarnya. Mengerut, mengering, memeras yang basah setelahnya akan diturunkan lagi lewat curah hujan. Dan akan kembali basah bumi nya.


*******


Di suasana villa di pinggiran kota, tepatnya di dalam kamar villa dengan nuansa teduh, romantis dan cuaca dingin, ada sepasang suami istri yang sedang berlibur menikmati kebersamaan. Keduanya terlihat mesra dan penuh keromantisan. Si istri saat ini meletakkan kepalanya di dada bidang sang suami. Sang suami dengan lembut mengusap pucuk kepala si istri dengan penuh kasih. Tiada keraguan di antara mereka ketika sudah memadu kasih seperti ini. Merasa sungguh bahagia bisa menikmati dan bercengkrama seperti ini setelah sekian hari selalu disibukkan dengan rutinitas kantor yang padat maupun urusan bisnis yang dijalani oleh si suami.


"Mungkin saatnya kamu berhenti bekerja saja, sayang dan jaga selalu kondisi tubuh kamu. Kamu tidak boleh terlalu capek dan apalagi stress dengan masalah perusahaan keluarga mu itu yang selalu harus mencapai target dalam tiap hari bahkan tiap bulannya." kata si suami sambil tetap membelai rambut sang istri yang saat ini pendek di bawah kuping.


" Heem!" sahut sang istri sambil meraih telapak suaminya lalu menciumnya dengan lembut.


" Kamu saat ini sedang hamil anak kita, aku tidak ingin kamu kenapa- napa." kata sang suami lagi.


" Huum." gumam sang istri tatkala sang suami mulai nakal mencium leher putih dan jenjang milik sang istri.


Tangan kokoh sang suami mulai memegang dua benda yang menempel di dada sang istri yang masih tertutup dengan rapat oleh pakaian dan bahkan pakaian dalamnya. Sang istri menjadi mengeluh tatkala sang suami makin nakal tangannya menyusup di balik pakaian nya untuk mencari benda yang sudah menjadi mainan favoritnya kini.


Sang istri membalikkan badannya ke arah sang suami hingga posisi nya saat ini siap untuk menghujani suaminya dengan ciuman. Sang istri mendekatkan bibir nya ke bibir suaminya dan tanpa ragu mengecup nya pelan.


" Niga! Aku menyukaimu. Aku bahagia bisa menjadi istri kamu. Dan sebentar lagi aku akan menjadi ibu dari anak- anakmu. Niga!" kata si istri dengan tulus.

__ADS_1


Tanpa bicara dan komentar, Niga langsung meraup bibir istrinya dengan rakus dan tanpa jeda untuk mengambil oksigen sebelum itu. Hingga si istri mulai ngos-ngosan dan akhirnya tangannya sedikit mendorong suaminya.


" Aku gak bisa nafas, sayang!" ucap pelan si istri namun sang suami malah tersenyum lebar.


" Mana panggilan 'mas' nya kepadaku sayang! Aku sungguh gak suka jika kamu memanggilku dengan Niga saja." kata sang suami sambil menarik hidung milik sang istri.


" Hahaha iya maafkan aku Niga! Aku sengaja!" ucap sang istri malah dengan sengaja menggoda sang suaminya itu.


Dengan cepat sang suami menimpa sang istri hingga posisi saat ini sang istri ada di bawah sang suami. Dengan pergerakan cepat, sang suami mencium sang istri dengan brutal dan ganas. Tangannya pun mulai menggerayangi ke bagian-bagian sensitif milik sang istri. Akhirnya tanpa perlawanan sang istri pun pasrah dan akhirnya pergulatan di siang hari itupun terjadi hingga keduanya polos seperti dua bayi yang baru lahir.


*******


Di tempat lain sepasang pemuda telah sibuk memilih- milih bunga anggrek di galeri taman anggrek.




" Suka aja!" sahut Winda singkat.


" Suka aja? Tidak adakah alasan yang bagus selain bilang ' suka aja'?" tanya Haidar yang merasa tidak puas akan jawaban yang keluar dari mulut Winda.


Winda sebentar hanya menatap ke arah Haidar lalu melemparkan sedikit senyuman kepada nya.


" Karena kalau menyukai seorang pria pada akhirnya dia akan membuat aku terluka dan kecewa. Lain dengan halnya bunga anggrek ini. Dia aku rawat,, aku siram, aku pupuk dan pada akhirnya dia memberikan keindahan dan kenyamanan pada ku ketika mataku melihat nya saat bunga bermekaran." kata Winda akhirnya.


" Lain halnya jika kamu akan menyukai aku, Win. Aku akan membuat hati kamu senang dan bahagia." sahut Haidar tanpa berpikir panjang.


Seketika Winda menjadi melongo dengan ucapan Haidar yang ceplas-ceplos itu.

__ADS_1


" Begitu yah? Hahaha!" kata Winda yang masih menganggap ucapan Haidar hanyalah bercanda saja.


" Apakah kamu pernah disakiti dan dikecewakan oleh seorang pria?" tanya Haidar penuh selidik.


" Mungkin!" jawab Winda singkat dan seperti nya sangat malas untuk bercerita dan berkata jujur pada Haidar.


" Berarti pernah di kecewakan dan di sakiti yah? Kalau begitu biarkan aku yang mengobati dan menyembuhkan rasa sakit mu itu, Win." kata Haidar serius.


" Dengan apa? Dengan obat merah atau salep?" tanya Winda masih menganggap semua ucapan Haidar hanyalah bercanda saja.


" Dengan bunga anggrek ini saja." sahut Haidar sambil mengambil satu pot kecil yang sudah ada tanam bunga anggrek yang bermekaran dengan indah. Winda kembali hanya tersenyum saja dengan perlakuan manis Haidar terhadap dirinya.


*******


Di tempat lain.


" Jadi?" tanya Rosiana dengan ekspresi yang ingin tahu begitu besar.


" Tidak ada masalah, sayang! Semua baik- baik saja, sayang! Aku, Sarwenda dan kamu sayang. Kita akan menjalani kehidupan rumah tangga bersama. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu dan Sarwenda. Berusaha menahan tetes air mata kamu supaya tidak terjatuh." kata Wardhana penuh ketulusan.


" Sarwenda sudah memaafkan kamu, sayang?" tanya Rosiana yang kini sudah dalam pelukan Wardhana.


" Iya, alhamdulillah. Kini kamu jangan banyak berpikir yah sayang! Kamu fokus saja pada anak kita. Anak kita yang masih di dalam perut kamu ini. Dia adalah buah hati dari cinta kita." ucap Wardhana lagi.


" Heem!" gumam Rosiana sambil tersenyum tatkala Wardhana mengelus perutnya dengan lembut.


" Aku akan berterimakasih kepada Sarwenda untuk semua ini, sayang!" kata Rosiana pelan.


" Tentu saja, sayang! Namun jangan saat ini, bagaimana pun juga hati kecilnya masih belajar menerima kamu dan belum ikhlas dengan tulus. Jadi tunggu lah sampai dia benar-benar mau dan ingin mendatangi kamu di rumah ini." ucap Wardhana.

__ADS_1


" Benar juga katamu, mas! Mungkin saja aku adalah wanita yang ke dua yang sudah merusak rumah tangganya. Aku adalah wanita pelakor itu, sayang." kata Rosiana lirih.


" Jangan bicara begitu sayang! Kita sama- sama saling mencintai. Tidak ada yang menjadi perusak dalam rumah tangga ini. Karena aku sudah memilihmu dan menginginkan kamu sebagai istri kedua aku setelah Sarwenda." ucap Wardhana sambil mempererat pelukannya terhadap Rosiana.


__ADS_2