Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SENGAJA BIKIN CEMBURU


__ADS_3


Debur ombak di pecah kan oleh karang dan angin. Seketika lamun ku terpecah, tatkala suaramu mengagetkan bayangan. Aku lemah. Aku pasrah. Dalam kuasaku untuk meraih kasihmu. Berikanlah sedikit air itu, agar dahaga kerinduan itu lepas dari kering kerontang nya tenggorokan ini. Pecah kan angkuh mu dan raihlah lembut tangan ini. Bersama bergandengan melangkah ke muara yang akan kita tuju.


*******


" Kamu tinggal di sini, In?" tanya Niga sambil duduk dan memangku Wisnu. Galuh menggeser dirinya duduk di lantai bawah tanpa alas itu mendekatkan ke Niga dan Wisnu. Seolah memberikan ruang kepada Intan supaya duduk di kursi yang ada di teras itu.


" Tidak! Aku hanya singgah saja kok. Setelah kekecewaan itu dan cintaku bertepuk sebelah tangan, aku kembali ke rumah mama. Lalu tidak berapa lama aku menemukan pria yang mulai memperhatikan dan menyayangi aku dengan segala kekurangan ku." cerita Intan yang tiba-tiba menjadi seorang penyair yang handal.


Galuh menatap Intan dengan tatapan penuh geli. Seorang Indah yang dikenalnya adalah wanita yang keras, mampu merangkai kata yang bermakna kan penuh kegalauan dan bawa perasaan nya. Niga terkekeh mendengar cerita dari Intan.


" Mana ada yang berani menolak cinta kamu, In? Pria itu pasti sangat bodoh dan akan sangat merugi jika menolak cinta kamu loh." canda Niga.


Mata Galuh tiba-tiba membulat menatap wajah Niga yang berkata-kata demikian. Niga yang merasa di lihat Galuh balik menatap nya dan memberikan senyuman nya disertai kedipan matanya yang menggoda.

__ADS_1


" Ais! Nyatanya pria itu lebih memilih wanita anggun dan mandiri dibandingkan dengan aku yang seperti remahan rempeyek yang diletakkan di plastik." sahut Intan sambil tersenyum tipis.


Niga tertawa terbahak-bahak sedangkan Galuh menyaksikan pemandangan itu seperti kurang suka. Niga seolah memberikan angin dan simpati yang lebih terhadap kemurungan Intan dari ceritanya.


" Tapi, semoga saja pria itu bahagia dengan pilihan nya." tambah Intan serius.


" Amin! Semoga juga, kamu bahagia dengan laki-laki yang sudah menerima kamu dengan segala kelebihan dan kekurangan kamu itu." kata Niga serius sambil menurunkan Wisnu dan duduk dibawah dengan Galuh. Kini Wisnu dan Galuh bermain dan mulai bercanda.


" Tetapi bolehkan, jika aku masih ngarep dan menyukai pria itu?" tanya Intan sambil mengedipkan matanya.


" Kamu!" jawab Intan singkat sambil melihat ke arah Galuh. Galuh yang mendengar itu semua pura-pura tidak mendengar nya dan memilih bermain dengan Wisnu.


" Gila!" batin Galuh.


"Kalian kan belum menikah dan aku juga belum menikah bukan? Kesempatan itu masih ada bukan?" kata Intan sengaja membuat panas Galuh. Kembali Galuh pura- pura tidak mendengar semuanya. Padahal sesungguhnya hatinya sudah panas dan mulai terbakar api cemburu.

__ADS_1


" Gilanya belum juga sembuh!" batin Galuh sambil bercanda dengan Wisnu dengan mainan nya.


" Intan! Kami akan segera menikah!" kata Niga tegas dan sangat mempertegas situasi saat itu.


Ada kelegaan seketika dalam hati Galuh ketika Niga berkata demikian. Rasanya seperti adem ketika panas dan dalam kehausan.


" Tapi aku sungguh- sungguh masih ngarep sama kamu, Mas!" kata Intan sambil melihat dan menunggu reaksi yang akan dimunculkan dari sosok Galuh.


Tetapi Galuh tetap saja cuek dan tidak menghiraukan ocehan dari Intan. Galuh tetap bermain dengan Wisnu.


" Eh?" Intan mulai gerah melihat Galuh tidak ada respon dengan kata-kata nya yang sengaja membuat cemburu Galuh.


" Hak setiap orang untuk mencintai seseorang. Namun jika seseorang itu sudah ada kekasihnya, bukankah itu sia- sia jika perasaan itu dipertahankan dan terus dipupuk nya?" kata Niga.


" Aku susah untuk melupakan mu Mas!" kata Intan dengan suara keras.

__ADS_1


" Apa?" batin Galuh mulai kembali mendidih.


__ADS_2