
Sudahlah! Berdamai lah ego kita, ketika kita beda dalam pikir. Bersatu lah emosi kita, ketika kita sama mencapai tujuan itu. Jangan kita ciptakan pertikaian itu, ketika jarak seolah sebagai batas. Terpaut lah hatiku dan hatimu, tatkala rindu mulai bergejolak di kalbu. Percaya dan yakin lah. Semua sangka buruk mu hanyalah karena kau ingin dekat ku. Namun pikir mu terlalu angkuh untuk mengakui itu.
*******
"Assalamu'alaikum!" ucap Winda setelah berhenti dan dekat dengan Bang Hendra yang masih berdiri mematung di dekat pintu utama.
"Wa'alaikum Salam. " akhirnya Winda menjawab salam nya sendiri.
Bang Hendra masih diam membisu tidak bersuara.
"Aku mengucap salam loh, bang. Tetapi kok gak di jawab sih?" tambah Winda berusaha berdamai dengan Bang Hendra.
"Aku jawabnya dalam hati kok!" sahut Bang Hendra akhirnya. Winda tersenyum mendengar bang Hendra berkata demikian.
"Masuk saja!" perintah Bang Hendra lalu diikuti oleh Winda.
__ADS_1
"Kawanmu kenapa tidak kamu suruh masuk, Win?" kata Bang Hendra pelan.
"Win?" sahut Winda yang serasa lain dengan panggilan itu. Biasanya saat berdua atau berbicara pelan, panggilan sayang selalu keluar dari bibir Bang Hendra. Namun ini lain ceritanya.
"Aku masih belum kasih hukuman dan perhitungan buat kamu." kata Bang Hendra.
" Karena di rumah masih ada papa, mama dan juga anggota keluarga, tidak enak jika kita memperlihatkan bahwa kita lagi berantem." tambah Bang Hendra pelan.
" Kita? Saya tidak kok, Bang!" sahut Winda sambil tersenyum.
Pak Suyatno dan Bu Sundari terlihat tersenyum sumringah dengan anggota keluarga nya. Diantara ramainya anggota keluarga yang berkumpul, ada Yuslita duduk di dekat Galuh yang lagi bersama Niga.
Tatapan kurang suka terlihat sekali dari wajah Yuslita ketika kedatangan Winda di sana. Apalagi Winda hadir di sambut hangat oleh Hendra dan anggota keluarga yang lain. Bu Sundari dan Pak Suyatno pun terlihat memperkenalkan Winda sebagai calon mantunya. Hal itu semakin membuat Yuslita kembali timbul rasa cemburu nya. Dalam. pikiran nya, seharusnya dirinyalah yang akan menjadi calon mantu dan pada akhirnya menjadi menantu di keluarga itu. Bukankah dirinya dahulu nya adalah kekasih yang amat disayangi oleh Hendra.
Jika dia tidak meninggalkan Hendra, mungkin saja dirinya sudah masuk di keluarga besar itu.
" Kamu sudah makan, Winda?" tanya Bu Sundari kepada Winda setelah menjabat tangannya dan mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
" Sudah, Ma!" jawab Winda sambil tersenyum.
Panggilan mama itu membuat Yuslita semakin melotot matanya. Terlihat jelas, bahwasanya mereka sungguh sudah dekat satu dengan yang lain.
" Ya sudah, santai dulu Winda! Anggap saja seperti rumah sendiri. Itu ada Galuh dan Niga di sana." kata Bu Sundari sambil menunjukkan Galuh yang duduk bersama Yuslita dan Niga.
" Ayo kita keluar saja! Tidak perlu dekat- dekat dengan Yuslita." kata Hendra pelan sambil meraih pergelangan tangan Winda supaya mengikuti langkah nya.
"Winda! Kemari lah dulu!" teriak Galuh.
Namun teriakan Galuh membuat Winda menghentikan langkah nya dan memaksa diri nya menjumpai Galuh dan yang lainnya. Hendra pun tetap menarik paksa tangan Winda supaya tetap berjalan keluar bersamanya.
" Kami masih ada urusan!" teriak Hendra kepada Galuh.
Galuh dengan wajah kecewa menunjukkan bibirnya yang maju beberapa senti.
"Masih ada aku di samping mu, Sayang!" kata Niga menghibur Galuh.
__ADS_1