
Di rumah Intan
Di rumah milik Intan di sana sudah berkumpul semua anggota keluarga dari keluarga besar Andrie maupun keluarga besar dari Intan. Winda yang saat ini lagi ngidam- ngidam nya pun ikut datang beserta suaminya Haidar. Tentu saja ayah, bunda Haidar juga ikut datang di rumah duka tersebut.
Suasana masih berduka. Setelah kedatangan jenazah beserta keluarga nya itu pun tidak lama langsung dimulai proses penguburan jenazah. Setelah sebelumnya pembicara sebagai wakil dari keluarga duka menyampaikan segala maaf untuk almarhum selama hidup di dunia. Pembicara juga menyampaikan soal hutang pi hutang jika masih ada untuk menghubungi keluarga duka.
Segala sesuatu akan kembali kepadaNya. Segala sesuatu akan pulang kepadaNya. Kehidupan ini tidak akan kekal dan abadi. Siapa yang akan bisa melawan takdir Nya. Kita seperti dipermainkan olehNya ketika segala sesuatu tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita seperti dipermainkan oleh takdir itu sendiri ketika segala sesuatu luput dari genggaman kita. Padahal kita tahu dan mengakui nya. Dia lebih tahu akan kebutuhan kita, bukan segala sesuatu yang menjadi kemauan kita. Dia menguji kita karena DIA yakin kita kuat dan bisa menghadapi semuanya. Walaupun pada dasarnya segalanya akibat dari perbuatan kita.
Setelah jenazah Andrie di makamkan di tanah yang berukuran 2,50 X 1,50 meter dengan kedalaman 2,50 meter itupun, satu persatu dari sanak saudara yang jauh mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Terkadang apa yang akan kita banggakan jika mengingat kalau kita meninggal kelak hanya membutuhkan ukuran tanah yang tidak cukup jika untuk membangun gedung bertingkat tersebut.
Intan masih diam di dalam kamarnya memandangi foto dari almarhum suaminya, Andrie. Di kamar itu ditemani oleh Bu Hartini dan juga Winda. Bu Hartini mengusap punggung putrinya itu yang masih diam namun diliputi oleh kesedihan. Betapa pun Andrie adalah suaminya yang pernah membuat kehidupan nya berwarna. Bersama Andrie, Intan juga seperti wanita yang seutuhnya, menjadi istri dan melayani suaminya ketika kembali pulang dari tempat kerjaan nya. Ini adalah pukulan yang sangat berat bagi Intan harus menerima kenyataan seperti ini, kehilangan suaminya ketika dirinya masih sayang- sayangnya.
" Kamu makan dulu yah!" ucap Bu Hartini pelan lalu menyodorkan piring yang sudah diambilkan oleh Winda yang berisi makanan kesukaan Winda.
" Enggak mau! Aku mau Mas Andrie!" ucap pelan Intan kembali air mata itu tumpah. Winda malah ikutan menangis. Semenjak hamil ini, Winda semakin melow saja. Ditambah manjanya kelewat batas. Haidar sebagai suami super sabar jika harus menghadapi istrinya tersebut.
Bu Hartini kembali mengusap punggung anaknya tersebut dan kemudian memeluk Intan dengan penuh kehangatan.
" Yang hidup di dunia ini, kelak akan mengalami kematian, anakku sayang! Mama sudah merasakan kedukaan ini dua kali. Yang pertama ketika Surya meninggal dunia dan kini Andrie. Kenapa harus meninggal dengan cara seperti ini. Namun ini rahasia Tuhan." kata Bu Hartini masih berusaha menenangkan Intan putrinya. Winda masih sesenggukan ikutan menangis.
Tiba-tiba Bu Hartini malah menjadi kasihan dengan Winda yang ikutan nangis dan tidak berhenti- berhenti.
" Winda! Kamu makan saja dulu. Dan ajak suami kamu, Haidar makan juga. Dari tadi kalian belum makan bukan? Kasihan adik bayi dalam perut kamu." ucap Bu Hartini. Sebenarnya Bu Hartini tidak ingin Winda ikut larut dalam kesedihan Intan karena melihat Intan masih berduka karena kehilangan suaminya itu.
Winda menganggukkan kepala nya dan keluar dari kamar itu.
" Aku keluar dulu ma!" pamit Winda. Bu Hartini kini menyuapi Intan dengan makanan yang diambilkan oleh Winda tadi. Pelan- pelan Intan membuka mulutnya dan mulai memakannya.
__ADS_1
" Kita harus semangat melanjutkan hidup ini, sayang! Walaupun semuanya tidak sesuai dengan rencana dan harapan kita. Ini sudah takdir dan perjalanan kita yang harus kita lalui, bukan? Makan yang banyak yah!" ucap Bu Hartini dengan penuh kasih sayang.
Sampai beberapa suapan Intan memakan dari suapan yang diberikan oleh mama nya tersebut, Tiba-tiba saja Intan merasakan mual dan langsung berlari masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya. Bu Hartini semakin mengkhawatirkan keadaan Intan.
" Apakah Intan juga hamil?" pikir Bu Hartini.
" Kasihan Intan! Jika dia benar- benar hamil anaknya Andrie sedangkan Andrie sudah tiada." batin Bu Hartini.
Intan kembali duduk di dekat mama nya dan kini meminum air pemberian mamanya tersebut.
"Apakah kamu sudah telat datang bulannya, nak?" tanya Bu Hartini. Intan mulai menghitung terakhir kali dirinya datang bulan.
" Mama!" Intan kembali memeluk mamanya sambil terisak- isak. Walaupun dirinya belum yakin saat ini ia hamil, namun dirinya sudah terlambat bulan.
" Nanti kita beli tes kehamilan dulu yah." kata Bu Hartini.
Yang pergi akan ada yang datang kembali. Yang hilang akan muncul yang baru kembali. Begitu seterusnya bukan? Yang tua akan tergantikan dengan yang muda. Saatnya istirahat dan mulai khusuk dan selalu berbuat kebajikan. Namun bukan berarti ketika muda kita ugal-ugalan berbuat semaunya. Tetap semuanya ada nilainya.
*******
Di ruang makan. Haidar bersama dengan Winda. Sedangkan Wisnu duduk bersama kakek nya di ruang tengah kumpul dengan anggota keluarga yang lainnya.
" Makan nya yang banyak, sayang!" kata Haidar penuh perhatian. Winda masih malas untuk memasukkan makanan nya kedalam mulutnya. Winda masih mengaduk- aduk saja makanan yang sudah diambil nya.
" Kenapa? Ayo dimakan! Aku suapi yah?" kata Haidar kini menarik piring yang ada didepan Winda lalu mulai menyuapi ke mulut Winda. Mulut itu sedikit membuka nya. Haidar menjadi geram.
" Kenapa, tidak enak?" tanya Haidar. Winda menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Boleh minta bakso tidak?" ucap Winda. Haidar akhirnya tersenyum mendengar istrinya yang mulai kumat manjanya.
" Kalau begitu kita keluar sebentar dong!" kata Haidar.Winda menganggukkan kepalanya.
" Ajak. Wisnu mas!" ucap Winda sedikit memerintah. Haidar mengernyitkan dahinya.
" Aku ingin tahu kronologis kecelakaan Andrie. Soalnya desas-desus yang aku dengar, Andrie satu mobil. dengan istrinya bang Hendra. Dan saat ini istrinya bang Hendra masih dirawat di rumah sakit." kata Winda pelan seperti berbisik. Haidar mulai dibakar api cemburu deh kalau menyangkut sang mantan.
" Jangan cemburuan! Malu dengan orok di sini." goda Winda sambil mengambil tangan milik Haidar lalu mengusapkannya di perut nya yang mulai membuncit. Haidar seketika tersenyum.
" Nah senyuman kamu bikin candu buat aku, mas." goda Winda. Kini Haidar mulai mendekati Wisnu dan mengajaknya keluar sebentar. Diikuti oleh Winda si tukang kepo. Semenjak hamil ini jiwa kepo nya mulai tinggi. Hal ini membuat Haidar terkadang tidak habis pikir.
" Kemana Pa?" tanya Wisnu. Haidar mulai masuk ke dalam mobil diikuti Wisnu dan juga Winda.
" Mama kamu minta bakso tuh!" sahut Haidar lalu mulai menjalankan mobilnya. Winda senyum- senyum tidak jelas.
" Sebenarnya mama ingin tahu kebenarannya, nak." ucap Winda. Wisnu mulai mengernyitkan dahinya.
" Iya, semua yang mama dengar itu benar. Tetapi hal ini jangan sampai tante Intan tahu dulu deh, ma. Kasihan tante Intan." ucap Wisnu. Winda dan Haidar manggut-manggut saja.
" Mama kok kasihan dengan Bang Hendra yah." kata Winda. Haidar langsung membunyikan klakson mobilnya padahal di depan tidak ada orang yang lewat di depannya. Wisnu terkekeh melihat reaksi papa tirinya itu. Winda malah cuek saja tuh.
" Mama tidak tahu apa? Papa Haidar cemburu tuh, kalau mama menyebutkan nama itu." kata Wisnu. Winda seketika menatap ke arah Haidar. Lalu mengelus pahanya.
" Eh, maaf! Jangan cemburu dong! Itukan sudah masa lalu, sayang! Dan masa depanku yang indah hanya dengan mas Haidar." ucap Winda menggoda. Wisnu malah terkekeh melihat tingkah mama dan papa nya yang sangat lucu kalau seperti sekarang ini. Haidar kini memainkan bola matanya mendengar istrinya mulai pandai sekali dalam hal merayu.
( Aku harus kasih selamat untuk Intan tidak yah? Jika dia benar-benar hamil. Kasih sarannya, Intan hamil atau hanya masuk angin saja nih.)
__ADS_1