Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KAMU HARUS SEHAT


__ADS_3

Di kediaman rumah Sarwenda. Sarwenda dan Wardhana sedang duduk di meja makan. Mereka menyantap beberapa makanan yang sudah tersaji di atas meja. Sarwenda terlihat kurang bersemangat memakan hidangan yang berada di atas meja itu. Dengan sangat malas, Sarwenda hanya mengadakan aduk makanan yang sudah ada di atas piringnya. Memang tadi Wardha lah yang mengambilkannya supaya Sarwenda mau makan. Setiap hari berat badan Sarwenda mulai menyusut. Tubuhnya mulai langsing namun masih tetap berisi. Body nya yang masih seksi dan padat tidak mengurangi kecantikannya. Penyakit nya yang mulai sedikit menggerogoti badannya karena Sarwenda tidak mau memaksakan diri untuk makan karena rasa tidak selera makannya.


Sarwenda sudah rutin berobat dan terapi akan penyakit yang dideritanya dari pengobatan medis sampai non medis pun sudah dijalankan nya. Usahanya untuk sembuh sangat besar. Semangat nya untuk pulih juga tinggi. Wardhana sangat senang dengan tekad Sarwenda untuk sembuh total dari penyakit yang di vonisnya.


" Makan lah sayang! Atau kamu menginginkan makan apa, biar Mbak Ita atau Rosiana bisa membelikannya untuk kamu." kata Wardhana penuh perhatian.


" Nanti saja, Mas! Aku ingin sate padang. Boleh kan?" sahut Sarwenda.


" Boleh sekali!" sahut Wardhana.


" Rosiana!" panggil Wardhana yang kebetulan batu saja masuk dan melewati ruang makan di rumah itu.


Rosiana spontan saja menoleh dan mendekati Wardha yang memanggilnya.


" Iya, tuan!" sahut Rosiana seperti mulai bersandiwara di hadapan nyonyanya, Sarwenda.


Wardhana menarik napasnya. Tawanya seperti tertahan ketika Rosiana mulai bersandiwara di depan istri tertuanya tersebut.

__ADS_1


" Kamu pergi lah, belikan sate padang untuk istri aku yang tersayang ini. Kamu kalau mau sate padang, beli sajalah. Ini uangnya!" kata Wardhana sambil mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah itu.


Rosiana mengambilnya lembaran uang kertas pemberian dari Wardhana itu. Pandangan nya mulai melihat ke arah Sarwenda yang sedang memperhatikan nya.


" Ini banyak sekali, tuan Wardha!" ucap Rosiana sambil melihat lembaran uang kertas itu.


" Tidak apa- apa! Ambil saja sisanya buat kamu. Tanyakan ke Mbak Santi, mau sate padang tidak?" kata Wardhana yang terlihat begitu royal.


" Kalau sisa, kamu bisa belikan pembalut untuk kamu, Rosiana." sahut Sarwenda yang berusaha bercanda namun terkesan meremehkan.


" Iya, nyonya! Terimakasih banyak!" ucap Rosiana lalu berlalu dari tempat itu.


" Iya, terapis nya nanti akan datang kemari sekalian memberikan obat herbal kepadaku, mas." kata Sarwenda menjelaskan.


" Baguslah! Apakah ada perubahan ketika di terapi oleh wanita itu?" tanya Wardhana.


" Ada, mas! Banyak perubahan nya. Keluhan di pinggang dan nyeri itu sudah mulai hilang. Tentunya aku harus rajin dan tidak lupa minum obat herbal nya. Kapsulnya besar- besar sekali." ungkap Sarwenda namun senang dengan progres pengobatan alternatif nya.

__ADS_1


" Alhamdulillah." sahut Wardhana sambil bangkit dari tempat duduk nya lalu menghampiri Sarwenda yang masih duduk di kursi makan itu.


Wardhana memeluk Sarwenda dari belakang. Tampaknya kasih sayangnya semakin besar terhadap Sarwenda.


"Aku sayang kamu, Sarwenda." ucap Wardhana sambil mencium kepala milik Sarwenda.


" Iya, aku juga demikian, mas!" sahut Sarwenda sambil mengambil tangan Wardhana lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut.


" Mas!" panggil pelan Sarwenda.


" Iya, sayang!" sahut Wardhana.


" Kamu tidak sedang menginginkan itu bukan?" tanya Sarwenda sambil tersenyum.


Wardhana hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari Sarwenda itu.


" Tidak! Aku menunggu kamu sehat dan segar dulu. Setelah itu aku bisa minta sampai beberapa ronde."ucap Wardhana sambil tersenyum.

__ADS_1


" Kalau ingin, sekarang pun aku masih sanggup kok, mas." kata Sarwenda.


" Tidak! Kamu harus sehat dan benar-benar sehat dulu, sayang! Jangan pikirkan aku soal itu." sahut Wardana sambil mencium pipi Sarwenda.


__ADS_2