Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
INGIN MEREBUT POSISI


__ADS_3

Sarwenda mulai masuk ke dalam rumah mewah kediaman Pak Hartono. Dengan senyuman yang mengembang, Sarwenda memberikan salam dan menyapa semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Di ruang tengah, ada Pak Hartono, Bu Hartini, Surya, Intan bersama suaminya, dan Winda yang duduk sambil memangku Wisnu. Di ruangan itu, terlihat keakraban dari anggota keluarga tersebut. Betapa tidak, sudah sekian lama keluarga besar itu menantikan kehadiran suara bayi dan kini telah ada anak dari Winda. Intan sendiri belum juga terlihat tanda-tanda kehamilan nya.


Wardha adalah suami dari Intan memang termasuk tipe laki - laki yang pekerja keras. Wardha dan Surya kini bersama-sama membangun dan mengembangkan perusahaan milik Keluarga besar Pak Hartono. Jadi mereka masih dalam satu lingkup kantor pusat yang sama. Tentu saja, Wardha sangat mengenal Sarwenda.


Sarwenda mulai duduk dan bergabung dengan anggota keluarga Surya. Surya yang melihat kedatangan Sarwenda kelihatan tidak begitu senang. Tentu nya sangat terkejut dibuatnya.


" Dari rumah saja, SAR?" tanya Wardha mencoba membuat suasana kembali normal sebelum kedatangan Sarwenda.


" Iya mas! Oh iya mas. Aku bawakan bingkisan untuk putra nya Mas Surya." kata Sarwenda sambil melirik ke arah Surya yang sedang duduk di samping Istrinya, Winda.


" Oh ya! Langsung saja kamu kasih ke Mbk Winda dan Mas Surya saja." ujar Wardha.


" Oh iya! Maaf Mbk Winda. Ini buat si kecil mbk! Semoga Mbk Winda senang." kata Sarwenda sambil tersenyum dan memberi bingkisan besar itu kepada Winda.


" Oh repot - repot Mbk. Terimakasih banyak atas perhatian dan bingkisan nya ya Mbk." sahut Winda tersenyum.


" Oh Iya Sarwenda. Bagaimana kabar papa dan mama kamu?" tanya Pak Hartono.


" Sehat pa! Eh Sehat om!" jawab Sarwenda.


" Syukurlah! Kapan - kapan kita buat jadwal untuk makan malam bersama - sama di sini ya." kata Pak Hartono.


" Temu saja Om. Atau kalau Sabtu depan, Om Hartono dan Tante Hartini ada waktu, kita bisa makan malam di rumah om. Seluruh keluarga besar disini, tentunya tanpa mengurangi rasa hormat saya." kata Sarwenda dengan ramahnya.


" Hem. Bagaimana Surya? Sabtu ada jadwal tidak?" tanya Pak Hartono.

__ADS_1


" Tidak ada pa!" sahut Wardha dengan tiba - tiba yang membuat Surya tidak bisa berbohong.


" Kamu ini Lo mas. Kalau ada acara kumpul - kumpul sangat bersemangat sekali." ucap Intan sambil mendelik.


Wardha memang sedari dulu sangat menyukai Sarwenda. Karena cinta nya bertepuk sebelah tangan, akhirnya pandangan nya berubah haluan kepada Intan. Intan yang diketahuinya sangat menggilai dan mencintai dirinya.


" Jadi, Sabtu depan bisa ke rumah untuk makan malam bukan? Bagaimana Intan? Kamu bisa tidak?" tanya Sarwenda.


" Aku ngikut saja, apa kata suami tercintaku." jawab Intan sambil menunjukkan kemesraan nya di depan Sarwenda.


" Bagus deh. Bagaimana dengan Mas Surya dan Mbk Winda? Bisa kan?" tanya Sarwenda.


" Maaf! Saya tidak bisa ikut mbk!" jawab Winda.


" Kamu kan tahu, saya harus menjaga Wisnu, jagoan kecil saya ini." tambah Winda.


" Aku juga tidak bisa!" sahut Surya sambil memeluk tubuh istrinya yang ada di samping nya itu.


" Winda benar, Surya!" sahut Bu Hartini.


Surya mulai mendelik tidak senang dengan keputusan sepihak itu. Sarwenda yang mendengar nya jadi penuh kemenangan.


" Saya permisi ke kamar dulu. Ayo Winda sayang!" ucap Surya sambil tersenyum dan mengajak Winda untuk segera meninggalkan ruang tengah yang membuat nya sulit untuk bernafas itu.


" Maaf, saya menidurkan Wisnu dulu Mbk Sarwenda! Mama, Papa saya masuk dulu." kata Winda sambil melangkah menuju kamar utamanya.


" Iya lah! Kamu juga perlu banyak istirahat, Winda. Surya setelah itu, kembali ke sini lagi Surya. Masih ada Sarwenda yang sengaja datang menemui kamu dan menengok istri kamu nih. Masa kamu meninggalkan nya begitu saja. Itu sangat tidak sopan." kata Bu Hartini.

__ADS_1


" Jangan khawatir Ma! Kan masih ada saya!" sahut Wardha sambil tersenyum menatap Sarwenda.


Intan yang melihat sikap perhatian Wardha terhadap Sarwenda jadi manyun bibirnya.


" Idih! Mas Wardha ini loh! Tetap berbeda lah. Mbk Sarwenda kan datang kemari memang ingin melihat bayi nya Mas Surya dengan Mbk Winda. Kamu ini ikut - ikutan saja loh!" sahut Intan.


" Hehe." Wardha tertawa kecil sambil garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


Sarwenda terlihat kurang senang dengan sikap Surya terhadap dirinya. Surya malah menunjukkan perhatian dan kemesraan nya terhadap Winda di hadapan nya. Seolah dirinya tidak dianggap nya.


" Oh iya Tante! Saya numpang ke belakang sebentar Tante." kata Sarwenda.


" Oh silakan! Biar di antar oleh Intan. Intan! Antar Mbk Sarwenda ke belakang." perintah Bu Hartini.


" Tidak perlu Tante! Saya sudah pernah kemari Tante. Jadi saya sudah paham dimana letak toiletnya." sahut Sarwenda.


" Oh iya! Kamu bisa ke kamar tamu saja, Sarwenda. Atau ke belakang di samping dapur." saran Bu Hartini.


" Baik Tante!" sahut Sarwenda sambil masuk ke kamar yang khusus di siapkan untuk tamu yang hendak menginap.


Di kamar tamu itu, Sarwenda mencoba menghubungi Surya. Hati nya sangat sakit ketika sikap Surya seolah tidak peduli terhadapnya. Dirinya juga istri nya tetapi kenapa tidak ada secuil pun sayang terhadap dirinya yang ditunjukkan ketika di depan anggota keluarga nya. Sarwenda masih merasa bukan menjadi bagian dari keluarga besar Pak Hartono. Dia sangat cemburu dengan posisi yang dimiliki oleh Winda. Harapan besarnya adalah merebut posisi Winda menjadi miliknya.


" Halo! Aku di kamar tamu mas! Aku tunggu kamu di sini. Kalau kamu tidak menemui aku di kamar tamu ini. Aku bisa. berbuat onar di keluarga kamu. Terutama biar semua tahu, kalau aku juga istri kamu!" ancam Sarwenda melalui sambungan ponselnya.


" Sial! Apa - apa in sih kamu!" jawab Surya dengan amarah nya.


Di dalam kamar utama Winda, Surya mulai emosi. Dia segera keluar dari kamar nya lalu berjalan menuju kamar tamu melalui jalan depan supaya tidak melewati ruang tengah yang harus melewati anggota keluarga nya yang lain.

__ADS_1


Surya mulai membuka pintu depan dengan kunci cadangan. Hati nya masih was-was dengan sikap dan ancaman Sarwenda. Sewaktu-waktu wanita ini akan nekat dan berani berbuat macam-macam sesuai kehendaknya. Keinginan nya harus dikabulkan. Ini merupakan bom waktu yang sewaktu- waktu akan meledak sesuai batasnya.


Surya sudah terperangkap dalam jaring Sarwenda. Jala - jala nya tidak mampu di lepaskan. Sarwenda sudah menggenggam Surya. Kalau Sarwenda ingin mengungkap segalanya, semuanya teramat sangat mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan nya saja.


__ADS_2