
Intan mulai melihat benda kecil dan pipih itu. Intan melihat garis dua tanda merah di sana. Intan merasakan senang namun juga sedih. Senang karena sudah sangat lama dirinya ingin dan menantikan kehamilan itu. Sedih, karena ketika dirinya sedang hamil, ia saat ini sedang menyandang status janda karena ditinggal mati suaminya.
Diperlihatkan hasil dari alat kehamilan itu kepada mama nya. Mama nya melihat dua garis warna merah terlihat sangat jelas di sana. Bu Hartini langsung memeluk Intan sambil tersenyum. Kini kedua tangan Bu Hartini itu memegang pipi Intan kanan dan kiri. Intan tersenyum namun bercampur haru. Kristal bening di matanya itupun bergulir di sudut matanya.
" Intan! Syukuri semua yang ada yah, sayang! Kamu jangan bersedih akan kehamilan ini. Ingat! Ini titipan Tuhan untuk kamu dan anugrah terindah bagi kita semua. Dia datang ketika ada yang pergi. Tetap semangat dan anakmu akan membawa kebahagiaan bagi kamu dan keluarga besar kita." kata Bu Hartini sambil tersenyum bahagia akan kehamilan Intan.
" Iya mama." sahut Intan. Bu Hartini kini memeluk putrinya sambil mengusap lembut punggung nya.
" Setelah ini tinggal bersama mama papa lagi yah. Kamu jangan merasa sendiri. Masih ada mama papa yang menyayangimu." kata Bu Hartini.
" Terimakasih, mama!" sahut Intan lirih.
" Ada apa ini, mama? Intan?" Tiba-tiba Winda datang sambil membawa paper bag ditangannya. Bu Hartini tersenyum menatap Winda yang perut nya sudah mulai membuncit.
" Kamu tahu Winda? Intan hamil." kata Bu Hartini sambil tersenyum. Winda langsung berhamburan ikut memeluk Intan.
" Wah, Haidar junior akan memiliki kawan berantem dong!" sahut Winda. Kedua wanita-wanita itu terkekeh karena ucapan Winda.
" Kamu dari mana, Winda?" tanya Bu Hartini. Lalu matanya beralih ke paper bag yang dibawa oleh Winda tadi.
" Dari beli bakso! Tadi keluar sama mas Haidar juga Wisnu. Itu aku belikan brownies kukus ma." kata Winda.
" Bakso yah?? Kok tadi tidak bilang kalau hendak beli bakso sih, mbak!" sahut Intan seolah melupakan kesedihan nya. Winda menggaruk alisnya yang tidak gatal.
" Maaf! Tapi aku juga membawakan pulang kok! Kamu mau baksonya? Sudah ada di meja makan. Untung saja, mas Haidar nyuruh membungkus nya juga untuk dibawa pulang." kata Winda. Bu Hartini tersenyum.
" Kamu pasti sangat bahagia yah, Winda? Punya suami seperti Haidar?" goda Bu Hartini. Winda mengangguk cepat dan tersenyum.
" Aku sangat bersyukur, Mas Haidar sangat sabar menghadapi aku, ma! Apalagi ketika aku hamil seperti ini. Mungkin kalau orang lain, tidak akan sabar menghadapi aku." cerita Winda bersemangat. Intan jadi teringat suaminya. Suaminya? Andrie? Apakah akan sabar jika menghadapi dirinya ketika hamil ini. Namun kebenarannya, Andrie tidak bisa melihat dirinya hamil dan dalam keadaan perut yang membuncit.
__ADS_1
" Intan!" panggil Bu Hartini sambil kembali mengusap punggung putri nya itu.
" Ayolah kalau mau makan baksonya! Mama, Intan, ayo." ajak Winda bersemangat. Kedua wanita itu langsung bergegas ke ruang makan.
*******
Winda, Intan, Bu Hartini sedang duduk di ruang makan. Pak Hartono masih duduk bersama dengan bapak- bapak yang lainnya. Haidar juga Wisnu sudah ikut bergabung dengan saudara yang lainnya. Walaupun suasananya masih berduka, namun mereka tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Yang lahir di bumi ini pada akhirnya akan mengalami kematian. Yang datang akhirnya akan pergi. Yang pergi akan terganti dengan yang baru lagi. Ini adalah hukum alam. Yang muda pada akhirnya akan menua. Itu adalah proses alami. Dari dalam kandungan ibu, lalu lahir dari rahim ibu, menjadi bayi, berkembang menjadi anak- anak lalu remaja dan akhirnya dewasa dan sampai akhirnya menjadi tua.
" Mama aku ke dapur sebentar yah, ma!" kata Intan. Bu Hartini bertanya.
" Kamu ingin apa? Biar mama saja yang akan ambilkan untuk kamu." sahut Bu Hartini.
" Tidak apa- apa ma! Aku ingin bibi buatin puding saja." kata Intan. Bu Hartini tersenyum saja.
" Oh lagi ingin pusing yah?" sahut Winda.
" Hem mbak! Mbak mau?" tawar Intan.
" Oh, baiklah! Nanti aku juga akan menyuruh bibi buat itu besok yah." ucap Intan.
" Masih besok yah?" sahut Winda. Intan terkekeh.
" Iya, besok aja mbak. Kasihan seharian ini bibi melayani banyak tamu di rumah kan?" kata Intan. Winda akhirnya tersenyum saja.
Intan mulai melangkah ke dapur dan hendak menjumpai bibi asisten rumah tangga nya. Namun sebelum Intan menjumpai bibi asisten rumah tangga nya itu, Intan mendengar obrolan dua asisten rumah tangga nya itu.
Betapa Intan sangat terkejut dan menutup mulutnya sendiri ketika bibi bagian masak dengan bibi bagian mencuci baju juga menyetrika itu membicarakan aib suaminya, Andrie. Intan yang mendengar nya awalnya hendak marah ketika kedua asisten rumah tangga nya itu membicarakan keburukan suaminya.
" Mas Andrie selingkuh?" gumam Intan sambil menutup mulutnya sendiri.
__ADS_1
" Mas Andrie kecelakaan satu mobil bersama seorang wanita? Siapa? Selingkuhan nya? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Mama? Wisnu? Aku akan mencari Wisnu. Dia pasti mengetahuinya. Wisnu pasti mengetahui kebenaran." pikir Intan lalu melangkah mencari keberadaan Wisnu di ruang tengah.
Intan mulai melambaikan tangannya ke arah Wisnu supaya mendatangi dirinya. Wisnu tanpa curiga langsung mendatangi tante nya yang telah memanggilnya.
" Ada apa tante?" tanya Wisnu. Intan menarik tangan Wisnu ke kamar pribadinya.
" Tante ada apa?" tanya Wisnu takut kalau- kalau tantenya hendak mempertanyakan sesuatu yang sampai sekarang dia tutupi nya beserta anggota keluarganya yang lain.
" Katakan Wisnu! Kamu harus jujur dengan tante. Walaupun itu akan menyakitkan bagi tante jika tante mendengarkan semua kebenarannya." kata Intan. Wisnu mulai panik. Namun akhirnya Wisnu menarik nafas dalam- dalam.
" Katakan Wisnu!" kata Intan tegas.
" Tapi tante! Aku takut nanti tante malah bertambah sedih." ucap Wisnu. Intan menggeleng cepat.
" Aku sudah mendengar nya Wisnu. Kenapa kamu merahasiakan dan menyembunyikan kebenarannya dari tante? Kenapa tante harus mengetahuinya dari orang lain. Itupun tidak sengaja tante mendengar nya." kata Intan.
" Tapi tante tidak apa- apa kan?" tanya Wisnu mulai khawatir karena Intan mulai semakin frustasi. Tangisnya kembali pecah. Intan memilih duduk si sofa kamar nya lalu bersandar.
" Jadi semua yang tante dengar itu benar? Mas Andrie ditemukan di dalam mobil nya bersama seorang wanita?" tanya Intan. Wisnu mengangguk pelan.
" Siapa wanita itu? Jika kamu tidak mau menjawab nya, biar aku yang menebaknya. Karena dihari yang sama itu, ada bang Hendra yang sedang menunggu istrinya yang kritis. Jadi, aku bisa menduga-duga nya kalau wanita yang satu mobil bersama mas Andrie adalah istri dari bang Hendra, bukan?" kata Intan. Kembali Wisnu mengangguk pelan.
" Jadi mas Andrie sudah berselingkuh dengan Jelita?" sahut Intan. Wisnu hanya menatap tantenya yang masih dalam hati yang kecewa dan bercampur sedih.
" Mereka benar-benar tega mengkhianati aku dan juga bang Hendra." kata Intan lalu mengusap wajahnya yang mulai banjir air matanya.
" Tante! Maafkan om Andrie! Om Andrie sudah meninggal. Jadi jangan lagi ada kemarahan dan sakit hati lagi. Ikhlaskan semuanya, tante. Biarkan bang Andrie tenang dan damai di alam kuburnya." kata Wisnu malah air matanya mulai jatuh karena dirinya tidak bisa membayangkan jika Om Andrie mengalami kepedihannya di alam lain karena belum ada maaf dari istrinya, yaitu tante Intan.
Intan malah memeluk keponakan nya, Wisnu.
__ADS_1
" Kamu keponakan, tante yang baik! Tante akan memaafkan om Andrie. Semua sudah terjadi, dan Tuhan telah menghukum kedua nya secara langsung. Dan tante tidak berhak menghukumnya kembali. Keadilan Tuhan benar-benar nyata." ucap Intan. Keduanya sesenggukan karena tangisnya.